
Arka merasa sangat bosan di kamar seharian. Ia sama sekali belum pernah keluar mansion hari ini. Ia yang gabut memutuskan untuk menjemput Nisa saja.
Tak enak hati mendatangi kontrakan mertuanya dengan tangan kosong, ia mengambil beberapa produk make up natural keluaran perusahaannya untuk dibawakan ke adik ipar dan ibu mertuanya.
Langit mulai memerah.
“Suamimu tidak jemput?” tanya bu Faridah saat Nisa pamit pulang.
“Dia itu super sibuk, Ma. Kasihan kalau disuruh antar jemput terus.”
“Kapan dia antar jemput kamu terus? Seingat mama, belum pernah si Arka antar kamu ke sini. Jangan-jangan kamu tidak pernah minta izin sebelum ke sini.”
Nisa membatin. “Untuk apa juga saya minta izin? Kak Arka pasti mengizinkan lah. Dia malah senang kali kalau saya keluar. Wong dia benci sama saya.”
“Heh, jangan suka mengkhayal sore-sore. Nanti kemasukan setan,” ucap bu Faridah seraya menepuk bahu Nisa.
“Eh.” Nisa tersentak kaget. “Izin Ma. Kak Arka selalu mengizinkan kok,” lanjutnya.
Tetiba, ada mobil yang parkir di depan. Nisa beserta keluarganya melihat dengan seksama Arka turun dari kendaraan roda empat mewahnya itu.
Arka mendekat, tangannya menenteng totebag. Entah apa lah isi bag itu. Hanya Arka seorang diri yang tahu.
“Untuk mama dan Kanza,” ujarnya tatkala menyerahkan tote bag yang ia tenteng.
“Tidak usah repot-repot kalau ke sini Nak! Nisa dijemput saja kami sudah senang,” pinta bu Faridah yang setengah melarang.
“Habis diruqyah ustadz mana kak Arka? Sampai berubah seratus delapan puluh derajat dia. Jangan-jangan dia habis kepentok di mansion tadi,” batin Nisa.
“Ayo pulang, sayang.” Arka merangkul pinggang Nisa.
Arka bilang sayang di depan umum. Nisa dibuat melongo dengan ujung kalimat yang Arka ucapkan barusan.
“The best actor ever,” monolog Nisa dalam hati.
Keesokan harinya...
Selepas melaksanakan shalat subuh, Nisa kembali pada rutinitasnya sebagai seorang istri. Ya, menyiapkan menu sarapan sebelum ke kantor.
__ADS_1
Tak lupa juga, ia membuat kerupuk bayam kesukaan Arka.
Pagi ini, tak terjadi drama apa-apa di mansion. Keduanya sarapan dan berangkat bersama-sama ke kantor.
Nisa duduk sendiri di belakang dan Arka duduk sendiri di depan.
Setibanya di kantor, Nisa tak langsung menuju ruangannya. Ia singgah dulu di pantry, ia akan membuatkan Arka secangkir kopi.
Itu ia lakukan sebagai tanda terima kasih untuk kemarin sore. Saat Arka menjemputnya sambil membawa bingkisan untuk adik dan mamanya.
“Terima kasih sayang,” ucap Arka kala Nisa meletakkan kopi hangat itu di atas meja kerjanya.
Dara dan Nisa refleks melotot saat mendengarnya.
Arka yang tak ingin dianggap sesat oleh Dara, cepat-cepat merevisi kata-katanya barusan. “Maksud saya, sayang sekali kopi enak begini tidak ada teman minumnya.”
Nisa ikut andil untuk menjaga kedamaian pagi ini. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas jinjingnya. “Saya bawa kerupuk bayam. Kak Dara juga bisa coba kalau mau,” ujarnya lalu melenggang cepat dari ruangan suaminya itu.
Dara menangkap cara jalan Nisa yang berbeda dari biasanya. Kelihatan aneh, tapi ia berusaha untuk memberi sugesti positif pada diri sendiri. “Mungkin dia lagi menstruasi. Makanya jalannya aneh begitu,” batinnya.
Dara lalu mendekatkan diri pada Arka. Ia naik dan duduk di atas paha Arka. Dengan cepat, ia mendaratkan bibirnya di atas bibir Arka.
Arka menghentikan pagutannya.
“Kenapa berhenti sayang?” tanya Dara. Ia mulai curiga pada Arka.
Tak ingin dihantui rasa bersalah, Arka mengungkap sebuah kejujuran. “Kemarin malam, saya tidur lagi dengan Nisa.”
“Terus?” Dara menaikkan satu alisnya. “Saya sudah tahu sayang. Dari awal pernikahan kamu dan Nisa memang tidur sekamar,” imbuhnya.
“Lebih dari itu sayang. Bukan sekadar tidur bersebelahan, tapi kami sampai berhubungan badan.”
“Kenapa kamu tega sekali melakukan itu sayang? Kamu kan sudah janji tidak akan menyentuh Nisa lagi. Malah dinaikin.” Dara menahan tangis.
Jantung Arka berdegup kencang. “Saya tidak sengaja sayang. Saya dijebak Nisa. Setelah makan masakan dia, saya jadi terangsang.”
“Alasan, bilang saja kalau kamu suka. Masa’ menahan begitu saja tidak bisa. Dasar lelaki, semuanya tidak punya hati.”
__ADS_1
“Stop mengoceh terus! Tolong keluar dari ruangan ini sekarang!” perintah Arka.
“Kamu tega sekali mengusir saya sayang. Mentang-mentang kamu sudah punya Nisa, saya kamu buang begitu saja.”
Dara pergi secepat kilat.
“Bukan begitu maksud saya, sayang. Saya cuma mau menenangkan diri sebentar,” teriak Arka pada Dara yang telah menjauh.
Arka kini merenungi ucapan Daniel kemarin. Ia mencocoklogikan semua yang terjadi padanya dan Nisa sejak resmi menjadi pasangan suami istri.
Benak Arka mengembara pada kejadian kemarin subuh. “Setelah berhubungan badan itu, cara jalan Nisa berubah karena miliknya sakit. Itu berarti darah yang ada di atas sprei memang darahnya Nisa. Kalau Nisa berdarah, itu berarti dia memang masih perawan.”
Takut salah menerka, Arka membuka toples berisi kerupuk bayam yang Nisa bawa dari mansion. Sehelai keripik ia masukkan ke mulut.
Ia berharap, jika mulutnya aktif mengunyah kerupuk bayam, maka pikirannya akan jadi pasif. Tapi nyatanya, ia tetap terbayam-bayam pada Nisa.
“Mana ada perempuan murahan yang masih perawan?” Arka mengelus kasar dagunya.
“Kalau memang tujuannya menjebak saya, harusnya malam itu dia gunakan untuk menikmati tubuh saya.”
Tak ingin mempersulit segala sesuatunya, Arka beranjak dari ruangannya menuju pos satpam.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya pak Udin pada Arka yang baru saja tiba di situ.
Arka pun mengarahkan pak Udin untuk membuka rekaman CCTV malam itu.
“Pak Farel juga pernah minta dicekkan persis di jam yang sama dulu. Tapi tidak bisa Pak, karena waktu itu listrik padam.”
Arka menggaruk kepalanya sambil berkata, “Coba cek di jam sebelum kejadian itu!”
“Aduh gawat Pak. Rekamannya hilang, pasti ada orang yang sengaja menghapusnya.”
“Sial sekali,” sahut Arka yang menyebabkan pak Udin merasa sangat gagal dalam bekerja.
Arka langsung cabut dari pos satpam. Perlahan, ia menyadari bahwa kejadian malam itu ternyata tidak sesimpel yang ia duga.
“Kalau bukan Nisa yang menjebak, itu berarti dia juga korban di sini. Sialan, jahat sekali orang yang tega menjebak kami.” Saking kesalnya, Arka sampai menendang pintu ruangannya dengan keras.
__ADS_1
“Terus yang kemarin malam di mansion? Kemarin malam cuma kami bertiga yang ada. Pelakunya pasti salah satu dari mereka. Nisa telah mengaku tidak melakukannya, berarti tinggal Dara satu-satunya orang yang tertuduh. Tapi tidak mungkin Dara melakukan itu. Coba saja saya pasang CCTV di mansion, gampang ketahuan siapa pelakunya. Gara-gara saya juga ini, tidak pasang CCTV karena takut dipantau mama.”
Arka semakin pusing mencari jawaban atas kasus yang menimpanya.