
Awan berarak manis, menemani perjalan mereka yang tak manis. Selang beberapa menit, mereka tiba di mansion pribadi milik Arka.
“Angkat sendiri barang-barangmu. Tadi saya angkatkan karena dilihat orang tuamu,” ketus Arka.
Nisa mengangguk, tidak bersedih sama sekali. Toh, angkat koper adalah aktivitas yang sangat biasa baginya.
Dengan santainya Nisa mengangkat barang-barang miliknya masuk ke dalam mansion. Arka jadi berdecak kesal karenanya.
Maksud hati ingin menyiksa Nisa di hari pertama pernikahan. Justru ia yang tersiksa karena ketabahan dan kekuatan Nisa.
GaTot pokokna mah...
Mansion itu sudah lama tak Arka kunjungi. Ia tentu tahu bahwa hunian yang lama tak ditinggali harus dibersihkan dulu sebelum dimasuki. Bisa saja tikus, laba-laba, kecoak, dan hewan lainnya bersarang di mansionnya itu.
Tapi memang itu yang Arka inginkan. Ia akan sangat senang melihat Nisa melompat mundur karena ketakutan jika bertemu salah satu, atau mungkin semua hewan itu.
Dan benar saja, mereka disambut oleh kecoak saat memasuki kamar.
Ada yang salah, reaksi Nisa amat jauh dari ekspektasi Arka. Dengan begitu santainya, Nisa mengambil sapu dan menghempaskan serangga berwarna coklat tersebut.
Sengaja tak ia lindas sampai tewas. Dikarenakan ia pernah dapat informasi, bahwa di dalam tubuh kecoak terdapat cacing.
Maka menginjak kecoak hingga isi perutnya keluar bisa menyebabkan masuknya cacing ke tubuh melalui pori-pori kulit. Makanya insect itu ia hempaskan saja.
Arka berdeham lalu membatin. “Harusnya dia lari ketakutan melihat kecoak. Sudah sengaja saya tidak siapkan HIT anti kecoak. Eh, malah dibuang pakai sapu. Tahu begini, sekalian saya tidak siapkan sapu.”
Hadeuh, gagal maning, gagal maning
Mereka beralih ke tempat tidur.
“Saya tidak tergiur sama sekali dengan tubuh kamu. Tapi kita tetap harus tidur sekamar. Saya tidak mau tanggung resiko kalau tiba-tiba mama datang dan melihat kita tidur di kamar yang beda. Dia pasti marah besar.”
Nisa mengangguk.
Arka kembali bertitah. “Bersihkan dulu tempat tidurnya. Saya capek, mau tidur.”
“Bersihkan sendiri saja, Kak!”
__ADS_1
Arka melotot tak percaya karena bantahan Nisa. “Istri macam apa kamu ini? Pemalas sekali.”
“Bukannya kakak sendiri yang suruh saya untuk tidak bertindak sebagai istri. Kakak bilang saya tidak harus mentaati kakak.”
“Kamu ini, jadi bawahan cerewet, jadi istri jadi tambah cerewet.”
“Itu, kakak mengakui saya lagi.”
“Ralat, saya salah ucap. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kamu, karena saya masih berbaik hati membiarkan kamu tidur di atas bed.”
Tak ingin berdebat lebih lama lagi, Nisa meluangkan waktu untuk membersihkan tempat tidur berukuran king size tersebut. Hingga hari yang melelahkan akhirnya terlewati.
Di malam hari, Arka menciptakan jarak dengan Nisa. Ya, dia tidur di ujung bed.
Tak sampai di situ, ia juga membelakangi Nisa. Amat enggan melihat wajah istrinya itu. Padahal, mana bisa ia melihat wajah Nisa? Wong lampu kamar dimatikan sebelum tidur.
Ada-ada saja Arka ini.
Nisa juga di tepi tempat tidur. Tapi beda dengan Arka, ia tetap menghadap ke arah sang suami. Meski yang ia lihat hanya punggungnya. Setidaknya, Nisa tidak kekanakan seperti Arka.
Malam pun gugur, kala subuh bersemi.
“Kak, sudah adzan. Bangun shalat subuh!” Ia menggoyangkan bahu Arka.
Arka yang masih betah berpetualang di dunia mimpi, mengelak. Ia meraih selimut, menutupi wajah, juga rungunya dari ajakan Nisa.
Diperlakukan seperti itu, Nisa menjauh sejenak dari Arka. Ia pergi mengambil air wudhu. Byurrr, segar sekali rasanya saat air menyentuh wajahnya yang ayu.
Saat kembali ke kamar, ikamah sudah
dikumandangkan. Namun sang suami rupanya masih terlelap. Tak takut untuk ditolak lagi, Nisa kembali membangunkannya.
“Kak, itu sudah ikamah. Karena sudah terlambat, hari ini kita shalat subuh berjama’ah di rumah saja. Besok kakak shalat subuhnya di mesjid. Ingat kak, lelaki wajib melaksanakan shalat lima waktu di mesjid.”
Arka yang masih terbuai kantuk, akhirnya bicara. “Kalau mau shalat, shalat saja sana! Tidak usah ajak-ajak saya.”
Nisa akhirnya mengalah, ia memutuskan untuk shalat subuh seorang diri saja, dengan mengenakan mukena seserahan Arka.
__ADS_1
Di akhir shalat, ia berdoa untuk kebaikan rumah tangganya. Meminta agar hati Arka dilunakkan dalam hal kebaikan. Termasuk menyayanginya yang hanya dinikahi karena terpaksa.
Selepas shalat, Nisa kembali menghampiri Arka. “Bangun kak, shalat subuh. Keburu pagi,” ujarnya dengan nada bicara yang lembut.
Namun dengan biadabnya, Arka bangun dan mencerca Nisa. “Kamu tidak punya kegiatan lain kah selain memaksa saya untuk shalat?”
“Apa salah kalau saya sebagai istri mengingatkan kakak untuk shalat?”
“Salah. Salah sekali Nisa. Sudah berapa kali saya bilang, saya menikahi kamu karena terpaksa. Kalau tidak dipaksa, saya mana mau jadi suami kamu. Jadi tolong, tahu diri sedikit lah. Tidak usah bersikap seperti istri sungguhan ke saya!”
“Baik, kalau itu mau kakak. Saya tidak akan membangunkan untuk shalat lagi. Harusnya kakak lah sebagai kepala rumah tangga yang mengingatkan saya untuk shalat. Bukan malah sebaliknya, makmum yang membangunkan imamnya.”
Arka marah. “Stop your bubbling! Perempuan tidak bermutu. Bisanya ceramah terus.”
“Saya ceramah demi kebaikan kakak juga. Saya tidak mau kakak berdosa karena meninggalkan shalat wajib dengan sengaja.”
“Ceramah saja terus, sampai mulutmu pupus. Kalau mau ceramah, sana di mesjid. Jangan di sini, mengganggu orang tidur saja.”
“Astaghfirullah, shalat cuman sebentar Kak. Lima menit cukup. Kalau memang mengantuk berat, Kakak bisa lanjut tidur setelah shalat. Walaupun itu waktu terlarang untuk tidur. Setidaknya Kakak shalat dulu.”
Kata-kata kasar kembali lolos dari mulut Arka. “Diam kamu wanita murahan!”
Hinaan Arka, membuat jantung Nisa serasa ingin meledak saja.
“Baik, terserah Kakak saja maunya bagaimana. Tapi ingat satu hal, jangan menuntut wanita murahan ini di akhirat nanti. Saya sudah mengingatkan kakak untuk shalat, tapi Kakak sendiri yang menolak untuk diajak. Dosa tidak shalat Kakak tanggung sendiri nanti.”
Nisa menjauh dari Arka. Usai menaruh sajadah di dalam lemari kaca, ia meraih Al-Qur’an. Kemudian membacanya dengan tartil.
Baru juga membaca beberapa ayat, Arka kembali berteriak. “Hey Nisa, kamu punya sopan santun tidak? Saya jadi susah tidur karena kamu tidak mau diam.”
“Tapi kan saya membuka mulut untuk baca Al-Qur’an kak.”
“Kalau mengaji jangan di dekat orang tidur, berisik. Rumah ini kan luas, kamu boleh mengaji dimana saja. Asal jangan di dekat saya, mengganggu sekali.”
Nisa terpaksa keluar kamar. Dengan hati yang terluka, ia ke ruang tamu. Harusnya ke mushallah, tapi Arka tidak menyiapkan itu di mansionnya.
Nisa melanjutkan bacaan Qur’an-nya yang sempat terputus tadi. Tiap kali mendapat bacaan yang diakhiri mubiin (kitaabimm mubiin, ‘aduwwumm mubiin, dolaalimm mubiin, etc), ia berhenti untuk berdoa.
__ADS_1
Guru Pendais di SMA-nya pernah mengajarkan untuk berdoa saat mendapatkan ayat Al-Qur’an yang berakhiran mubiin tersebut.
“Ya Allah, bukakanlah pintu hati dan pintu cinta kak Arka pada hamba. Aamiin,” pintanya setulus hati.