
Meski telah bolak-balik mencari Nisa, Farel tetap tampak masih sangat bugar untuk bekerja. Jangankan merasa lelah, ia justru merasa sangat riang tiap kali berurusan dengan Nisa.
Laporan yang tadi dianggurkan, kembali disentuhnya. Laporan-laporan itu ia ambil. Membawanya ke lantai 10 untuk dilaporkan hasilnya ke Arka.
Farel kini tiba di ruangan Arka. Ia mulai melakukan presentasi di hadapan sang sepupu. “Yang terhormat, CEO NaturalSkin Indonesia.”
“Jangan kebanyakan bercanda, Farel. Laporan yang benar!”
“Hehe, pak boss mulai marah.”
Arka menatap tajam ke arah Farel.
“Sorry, sorry. Well, langsung saja. Berdasarkan laporan dari para manajer, bisa ditarik kesimpulan bahwa divisi regional lah yang paling berjasa bulan ini.”
“Alasannya?” tanya Arka seraya jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. Tak sabar mendengar penjelasan Farel selanjutnya.
“Hasil penjualan di Makassar meroket setelah Thira ekspansi ke sana. Terutama di kota Pare, turmeric sheet mask hampir ludes diborong warga sana.”
“Kinerja Athira ternyata luar biasa. Tidak salah kita mengangkatnya jadi manajer. Kasih bonus gaji sepuluh persen untuk semua karyawan yang bekerja di divisinya.”
“Okay bro, dicopy.”
Beberapa saat kemudian...
“Kenapa masih di sini? Mau menggantikan saya jadi CEO?” tanya Arka dengan kening yang mengernyit.
“Memangnya boleh?” goda Farel.
“Tidak boleh. Stop basa-basi. Cepat bilang, apa sebenarnya yang mau kamu bicarakan?”
“Saya mau minta satu hal, boleh?”
“Apa? Cepat bilang! Masih banyak email yang harus saya balas ini.”
“Kalau bisa saya mau minta tolong. Kamu jangan terlalu kasar ke karyawan, terutama ke karyawan baru. Mungkin lebih baik kalau kita mengarahkan mereka dengan sedikit lembut kalau ada yang bermasalah. Secara, mereka kan masih baru. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mereka bisa beradaptasi dengan peraturan di kantor ini.”
“Baru kali ini kamu peduli dengan kondisi karyawan kita. Biasanya kamu masa bodoh, yang penting gajimu tidak dikurangi.”
Kalimat Arka yang menohok membuat Farel gelagapan. “Emmm, itu... Saya baru sadar kalau selama ini kita kurang mempertimbangkan mental karyawan.”
“Sudah bijak kamu ya. Setahu saya, kita laki-laki, biasanya jadi lebih bijak karena dua hal. Pertama, karena pikiran kita sudah matang. Yang kedua, karena kita sedang jatuh cinta. Kamu bijak pasti karena jatuh cinta kan?”
Farel pun tersenyum, rona mukanya yang kemerahan telah menggambarkan segala isi hatinya.
__ADS_1
Arka kembali bertanya. “Kamu jatuh cinta ke karyawan baru yang berhijab itu?”
“Yoi bro. What do you think of her?”
“Biasa saja.” Arka mulai tidak tertarik untuk membahas kepribadian Nisa lebih jauh lagi.
“Biasa saja bagaimana? Dia beda bro. Tidak pecicilan seperti perempuan kebanyakan.”
Arka nyengir. “Periksa lagi baik-baik. Kalimatmu itu mengandung hiperbola.”
“Di bagian mananya yang melebih-lebihkan?” tanya Farel dengan raut muka yang mulai tidak bersahabat.
“Otakmu pasti sedang tidak normal sekarang.”
“Nope, otak ini masih bekerja dengan sangat normal. Saya suka perempuan, berarti saya normal bro. Yang tidak normal itu kalau saya suka sama lelaki.”
Perbincangan mereka jadi lebih serius. Arka terus melemparkan pertanyaan untuk mengetahui sudah sejauh mana hubungan Nisa dan Farel.
“Tadi, kamu mati-matian cari dia untuk apa?” Arka berpura-pura.
“Lama-lama kamu jadi seperti Nita. Suka
sekali mengurusi kehidupan orang lain.”
“Pinjamkan dia uang.”
Farel blak-blakan. Menjelaskan sebenar-benarnya keadaan. Baginya, lebih baik mengatakan kejujuran pada Arka. Daripada berusaha menutupi dan akhirnya Arka mendapat informasi itu dari orang lain.
Bukan apanya, informasi yang sudah tersebar kemana-mana, seringkali sudah dibumbui berlebihan oleh informan-nya. Ibarat buah mangga di tangan si A, sampai di tangan si C sudah jadi asinan.
Kalau sudah begitu, Farel juga yang kena imbasnya. Karena Arka yang merupakan kakak sepupunya akan melaporkan informasi yang tidak-tidak itu ke kedua orang tuanya.
Jadilah Farel mendapatkan ceramah agama berjam-jam lamanya. Duduk untuk dinasihati berlama-lama sangat membosankan baginya.
Spontan, emosi Arka meledak. “Jangan terlalu bodoh jadi laki-laki. Baru kenal saja, dia sudah berani pinjam uang kamu.”
“Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah. Malah makin parah.” Farel tersenyum sinis.
“Apa yang tidak berubah?”
“Kamu suka sekali menghina orang.”
“Kita tidak sedang membahas saya, tapi kamu. Jadi menurutmu saya harus bilang kamu pintar karena membiarkan perempuan itu memorotimu?”
__ADS_1
Entah kenapa, Farel merasa sangat terpukul dengan label yang Arka berikan pada Nisa. Ia benar-benar tidak terima jikalau perempuan yang dikasihinya itu disama-samakan dengan lintah darat.
“Memoroti darimananya? Dia pinjam, bukan menguras uang saya. Dia juga sudah janji mau ganti secepatnya setelah gajian. So, saya tidak dirugikan sama sekali.”
Arka menggertak sepupu yang lahir dari rahim berbeda dengannya itu. “Jangan membela dia terus! Saya tahu betul bagaimana sifat perempuan seperti Nisa itu. Sebaiknya kamu jaga jarak dengan dia.”
“Kamu jangan sok tahu, bro. Kamu bicara buruk tentang Nisa karena belum tahu sifat aslinya bagaimana.”
“Stop membangga-banggakan dia terus. Bisa saja dia baik ke kamu karena lagi ada maunya.”
“Jangan suka menuduh orang lain sembarangan. Ingat bro, memfitnah lebih kejam daripada membunuh.”
“Ini bukan fitnah. Jangan sampai kamu tertipu dengan penampilannya yang alim. Dia pasti pakai jilbab cuman untuk menutupi kemunafikannya.”
“Tidak ada yang bisa menebak isi hati orang lain seperti apa. Nisa baik atau buruk, kita lihat saja nanti. Seiring berjalannya waktu, sifat aslinya pasti akan terbongkar kalau memang dia buruk.”
“Kamu bicara begitu pasti karena wajahnya cantik.”
“Lebih dari itu. Kalau cuman karena wajah yang cantik, sudah dari dulu saya menjalin hubungan dengan perempuan. Wajah cantik banyak, bahkan ada dimana-mana. Tinggal dikasih kemewahan, langsung tertawan. Nisa juga bisa begitu kalau dia mau. Tapi buktinya, sampai sekarang dia tidak menunjukkan tanda-tanda itu.”
Tak ingin pertengkarannya dengan Arka abadi, Farel berdiri dari duduknya. “Satu lagi, Nisa bekerja sebagai staff di sini. Bukan office girl yang seenaknya saja kamu suruh buat kopi.”
Ego Arka meninggi, ia tidak terima dinasihati oleh orang yang lebih muda seperti Farel.
“Saya CEO di sini. Terserah saya mau kelola perusahaan ini bagaimana. Kalau tidak suka dia buat kopi, suruh saja dia berhenti kerja. Gampang kan?”
Tanpa takut, Farel membalas dengan lantang. “Tidak usah sok berkuasa. Kamu jadi CEO di sini, karena bapakmu yang punya. Kalau bukan, kamu pasti sudah jadi gelandangan di luar. Mana ada orang yang mau mempekerjakan orang sombong sepertimu.”
“Saya dipilih jadi CEO karena saya berkompeten. Buktinya, Daniel lebih tua. Tapi dia tidak dipilih papa untuk jadi CEO. Karena apalagi kalau bukan karena saya lebih meyakinkan dari dia?”
Farel yang tak mampu berkata-kata lagi, berjalan keluar.
“Mau kemana?” tanya Arka yang belum puas memamerkan prestasinya.
Farel menyahut. “Mau ke jendela. Lompat sampai ke lantai dasar.”
“Jangan bunuh diri dulu. Papa dan mama sudah mengagendakan liburan ke Jepang bareng. Kalau kamu mati, kamu tidak boleh ikut. Mereka takut hantu soalnya.”
Mendengar itu, Farel yang bersemangat memunculkan kepalanya di pintu. “Sekalian traktir makan ramen ya.”
“Iya, tenang saja. Nanti saya yang traktir ramen. Kamu boleh makan sepuasnya, asal tidak marah-marah kalau dikasih tahu.”
“Okay, tidak lagi.” Teriak Farel yang mulai menjauh.
__ADS_1