Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Bukan Saya


__ADS_3

Mentari mengintip di balik jendela. Sinarnya menerpa wajah Arka, hingga menyadarkan lelaki mabuk itu dari tidurnya.


Arka mengucek mata. Perlahan, ia sadar dirinya sedang berbaring dalam keadaan tak memakai baju sehelai pun.


Betapa terkejutnya ia. “Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?” monolognya.


Pandangannya kini tertuju pada sprei yang ditumpahi darah. “Kenapa ada darah di sini?”


Lima menit berlalu.


Arka kini telah sadar sepenuhnya dari mabuk semalam. Ia lalu duduk dan mendapati miliknya juga berwarna merah karena darah.


“Apa maksud Nisa mengoleskan darah ke junior saya?” tanyanya. “Mesum sekali dia,” imbuhnya.


Hati Arka menjadi gelap karena noda darah tersebut. Ia kemudian memasangkan hand towel pada tubuh bagian bawahnya. Setelah itu, ia langsung melenggang keluar dari kamar.


Tujuannya saat ini adalah bertemu dengan Nisa. Ia sungguh sudah tak sabar meminta penjelasan pada istrinya itu mengenai darah yang melekat di sprei dan bird nya.


Langkahnya terhenti di ruang keluarga.


Ia melihat Nisa tengah tertidur di atas sofa.


“Bangun!” perintahnya. Moodnya benar-benar berantakan sejak bangun tadi.


Nisa tersentak kaget karena suara Arka yang menggelegar. Terpampang jelas, mata Nisa membengkak. Mungkin efek dari menangis sejadi-jadinya subuh tadi.


“Kenapa banyak darah di ranjang?” tanya Arka.


Nisa duduk, sebelum menceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Tadi malam, Kakak memaksa saya untuk berhubungan badan.” Tubuhnya bergetar hebat. “Keluar darah dari sini,” lanjut Nisa seraya menunjuk alat vitalnya.


Arka membeku beberapa saat. “Maksud kamu, kita bersetubuh?” tanyanya kemudian.


Ingatan terakhir Arka; membuka pintu toilet.


Nisa mengangguk dengan mimik muka yang memancarkan ketakutan.

__ADS_1


Mendengar itu, Arka coba mengingat lagi kejadian semalam. Yang ia ingat; perasaannya mulai aneh setelah makan.


Ia beralih melempar kata-kata makian pada Nisa. “Kamu pasti menaruh sesuatu ke makanan tadi malam, kan? Gara-gara memakan masakanmu, tubuh saya jadi tidak terkendali.”


“Astaghfirullah al adzim. Saya tidak memasukkan apa-apa selain bumbu masakan ke makanan yang saya buat, Kak. Kalau memang ada apa-apanya, pasti saya duluan yang kena efeknya.”


“Sudah saya duga, kamu pasti mengelak. Lagian, perempuan licik seperti kamu mana mau mengakui kesalahan.”


Nisa yang tak terima dengan hinaan Arka meninggikan suaranya. “Memangnya kesalahan apa yang harus saya akui? Toh saya memang tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa.”


Arka menatap Nisa, amat sinis. “Oh, begitu ya? Jadi menurut kamu, menjebak orang lain dengan memberikan obat perangsang itu bukan kesalahan?”


Tuduhan berbungkus pertanyaan yang Arka lontarkan membuat jantung Nisa seperti berhenti berdetak sejenak.


Nisa yang dirundung pilu menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, “Jadi, Kakak menuduh saya kasih obat perangsang ke makanan Kakak?” Butir-butir bening mulai membasahi pipinya.


Bukannya merasa iba, Arka justru tersenyum menyeringai padanya. “Memang begitu kan kenyataannya? Kamu mencampurkan sesuatu ke makanan saya.”


“Sekali saya bilang tidak, maka tidak Kak. Untuk apa saya kasih obat perangsang ke Kakak?” tanya Nisa sembari mengusap air matanya yang kian tumpah.


“Karena kamu cemburu pada Dara. Selama ini, kamu sering sekali menunjukkan ketidaksukaan ke dia. Kamu pasti takut kan saya lebih memilih Dara daripada kamu? Makanya kamu menjebak saya supaya kamu hamil. Dan saya tidak jadi menceraikan kamu karena alasan anak.”


Al-Qur’an yang ada di meja, ia angkat ke atas kepala. “Saya bersumpah tidak tahu apa-apa mengenai kejadian tadi malam. Kalau saya berbohong, saya siap menerima hukuman apa pun itu.”


Ia yang tadinya tidak ingin ngapa-ngapain karena kondisinya yang tidak memungkinkan, memutuskan bakal pergi ke dapur. Itu karena ia sudah tidak kuat lagi mendengar cercaan Arka.


Namun sebelum itu, ia melepas mukena, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya di samping Al-Qur’an.


Dengan susah payah, Nisa berdiri. Lalu berjalan dengan langkah pelan ke dapur. Arka yang masih tak terima dengan realitas yang terjadi, menarik tangannya.


“Sudah puas kamu tidur dengan saya? Malam itu di kantor, tadi malam di sini, lain kali dimana lagi? Dasar perempuan murahan!”


Amat marah, Nisa mendorong kuat tubuh Arka menggunakan kedua tangannya.


“Stop menghina saya terus tanpa tahu kebenarannya. Kalau saya murahan, kenapa Kakak duluan yang menjamah saya? Kalau saya murahan, kenapa saya tidak pernah menggoda Kakak? Coba ingat-ingat lagi, selama ini siapa yang selalu nyosor duluan? Kamu kak. Jadi, yang pantas disebut murahan itu kamu, bukan saya.”


Nisa berhenti sejenak. “So please, stop menyalahkan saya karena kesalahan Kakak sendiri. Sudahi lempar batu sembunyi tangan, Kak! Kita sudah terlalu dewasa untuk bertingkah kekanak-kanakan seperti itu.”

__ADS_1


Teramat terfitnah, Nisa menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu menangis sejadi-jadinya.


Bukannya mengubah keadaan menjadi lebih baik, Arka malah berusaha lebih giat lagi untuk menjatuhkan harga diri Nisa.


“Terus ini apa?” Arka menunjukkan tangannya yang dicengkeram Nisa saat mereka bercinta tadi malam.


“Kamu sangat menikmatinya kan? Sampai-sampai mencengkeram tangan saya sekuat ini?” imbuh Arka seraya menyeringai.


Nisa yang tidak terima diejek seperti itu, berdiri. “Kalau Kakak jadi saya, apa Kakak bisa menjamin untuk tidak menikmati saat dibelai seperti itu?”


Ia menarik nafas dalam-dalam. “Kakak pikir saya suka ditiduri lelaki kasar seperti Kakak? Bukan cuma kesakitan, punya saya sampai berdarah karena kekasaran Kakak.”


Nisa berbalik, lalu buru-buru pergi.


Belum puas merendahkan Nisa, Arka kembali menarik paksa lengan Nisa. “Mau kemana kamu perempuan murahan?”


“Lepaskan tangan saya Kak! Saya mau pergi memasak.”


“Sana cepat masak untuk kita berdua!” titah Arka yang juga kelaparan.


Rupanya, permainan semalam hampir menguras habis tenaganya. Maka dari itu ia butuh makan. Untuk mengembalikan separuh energinya yang keluar tadi malam.


Nisa menyahut cepat. “Tenang saja Kak! Saya akan masak seperti biasa. Toh saya tidak egois seperti Kakak.”


Tiba-tiba, Arka menarik Nisa ke dekapannya. Ia lalu mengulang salah satu adegan tadi malam.


“Jangan ditambahkan perangsang lagi ya sayang,” ucapnya sembari meremas kuat balon hijau yang sebelah kanan milik Nisa.


Untung tidak meletus.


Nisa menggertakkan giginya. “Kalau saya mau pakai cara kotor itu, sudah dari dulu saya melakukannya Kak. Bahkan di hari pertama pernikahan kita. Tapi faktanya, sudah beberapa pekan kita bersama, dan baru tadi malam ada kejadian begitu.”


Arka masih terus meremas balon hijau Nisa. Mengakibatkan Nisa yang tak terima direndahkan seperti itu, menampar Arka sekuat yang ia bisa.


Arka naik pitam. Ia balik menghempaskan tubuh Nisa dengan kasar ke lantai.


“Aww,” pekik Nisa.

__ADS_1


Punggungnya terasa begitu sakit lantaran berbenturan dengan ubin. Saking sakitnya, sudut mata Nisa sampai mengeluarkan air mata.


__ADS_2