
“Mana cincinmu?” tanya Arka tatkala Nisa meletakkan kopi di atas meja kerjanya.
“Ada di tas.”
“Kenapa kamu lepas?” Arka menatap tajam.
“Saya kurang suka pakai cincin. Malas, tidak ada istimewanya juga.”
Nisa yang sangat muak tahu bahwa perasaan Arka tidak pernah untuknya. Makanya ia malas memakai cincin pernikahan dari Arka yang tidak mencintainya.
“Jangan sampai orang tua kita melihat kamu tidak pakai cincin nikah. Mereka bisa beranggapan yang tidak-tidak lagi nanti.” Arka sedikit mengancam.
“Tidak mungkin juga mereka ke sini. Tenang saja Kak! Cincin nya pasti saya pakai kok kalau di depan mereka,” balas Nisa pada lelaki yang menyebabkan cintanya tak berbalas.
Mereka semakin tidak mengerti satu sama lain. Arka tidak ingin mengerti Nisa. Dan perlahan, Nisa juga mulai tidak ingin mengerti Arka.
Pukul 17:00
“Kami ada di taman mansionmu,” bunyi chat yang dikirimkan Daniel pada Arka.
“Kami?” balas Arka cepat.
“Iya. Mama dan papa juga ada di sini. Mereka sudah tidak sabar mau dengar cerita honeymoon kalian di Jepang.”
Mengetahui itu, Arka akan bersandiwara lagi di depan orang tuanya. Ia tentu akan menunjukkan bahwa pernikahannya dengan Nisa baik-baik saja.
“Duduk di depan!” suruhnya.
“Untuk apa duduk di depan? Saya sudah terlanjur nyaman duduk di belakang. Mau duduk di depan, di belakang, bahkan di atas sekalipun, sama saja. Naik bus pun saya sanggup,” balas Nisa yang masih tak terima dengan sikap pilih kasih Arka.
“Saya juga tidak peduli kamu mau duduk dimana atau pulang naik apa. Yang pastinya, hari ini kamu harus duduk di depan dan pulang sama saya. Coz mama dan papa menunggu kita di mansion.”
Lagi, atas nama menghargai orang tua, Nisa terpaksa duduk di depan.
Demi melancarkan rencana klisenya, Arka membuka kaca mobil. Biar tampak bahwa ia dan Nisa duduk berdampingan layaknya pasutri bucin.
Memasuki kawasan mansion, tetiba ada serangga yang terbang ke arah Arka. Hewan kecil itu bahkan masuk ke matanya. Arka jadi kelilipan karenanya.
Dengan cekatan, Nisa mendekat. Ditiupnya mata Arka hingga tak kelilipan lagi.
Mata mereka kini saling beradu.
Lagi, Arka menatap lekat-lekat mata Nisa yang indah. Lalu turun ke bibir Nisa yang menggugah. Jiwa lelakinya pun berontak.
Tak mampu menahan gejolak asmara, Arka menjamah bibir candu milik istrinya itu lagi. Dengan lembut, tanpa menyisakan luka yang bakal membuat Dara murka saat melihatnya.
Kissing scene itu disaksikan oleh Daniel, bu Haifa, dan pak Pradipta yang sedari tadi menunggu mereka di taman.
__ADS_1
Daniel terkekeh sambil berujar, “Honeymoon nya masih berlanjut sampai Indonesia.”
Nisa mendorong tubuh Arka dengan sangat kuat.
“Stop mencium saya terus! Saya tidak suka.”
“Tidak usah kepedean, saya melakukannya supaya kita kelihatan mesra.”
“Mesra atau tidaknya pasangan tidak diukur dari seberapa sering mereka ciuman dan pelukan. Yang paling penting itu suami istri bisa saling memahami. Jadi tolong, berhenti memperlakukan saya seperti pelacur.”
Arka menaikkan satu alis. “Maksud kamu?”
“Saya bukan perempuan murahan yang bisa seenaknya saja Kakak sentuh.”
“Are you kidding me? Hey, kita suami istri. Halal bagi suami menyentuh istrinya.”
“Kita memang suami istri. Tapi jangan lupa, Kakak selalu menyuruh saya untuk tidak menganggap Kakak sebagai suami. Biar adil, Kakak juga tidak boleh memperlakukan saya seperti istri sungguhan. Jadi mulai sekarang batasan kita harus jelas.”
Arka mengernyitkan dahi. “Batasan? What do you mean?”
“Kakak hanya boleh menyentuh saya, jika saya mengizinkan. Satu lagi, stop mencium saya secara tiba-tiba!” balas Nisa yang tak ingin terlibat lebih jauh lagi pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“Baiklah kalau itu maumu.”
Nisa yang eneg, bergegas turun dari mobil. Ia berjalan ke bangku taman. Semilir angin sore membelai pashminanya.
Mereka semua lalu berjalan beriringan, kecuali Arka. Suami Nisa itu jalan sendiri ke ruang keluarga.
Semua anggota keluarga Arka merapatkan bokong di atas sofa. Adapun Nisa, ia masuk ke dapur untuk membuatkan mereka minuman.
Selang beberapa menit.
Nisa keluar membawa lima cangkir teh hangat. “Silakan diminum,” katanya dengan hangat juga.
Daniel menyesapnya. “Baru kali ini saya minum teh rasa begini. Kamu campur apa?” tanyanya yang juga diiyakan oleh bu Haifa dan pak Pradipta.
“Kayu manis. Rasanya tidak enak ya?” Nisa khawatir.
“Enak. Lain kali saya akan minta bi Inah untuk mencampurkan kayu manis kalau buat teh,” sahut Daniel.
“Keluarga kak Arka baik-baik semua. Mereka suka sekali mengapresiasi perbuatan saya. Beda sekali dengan kak Arka. Jangan-jangan kak Arka anak pungut,” monolog Nisa dalam hati.
Memasuki waktu shalat magrib.
Saatnya mengejar ridha Allah dengan melaksanakan shalat magrib. Malu dengan Nisa, pak Pradipta sekeluarga ikut shalat.
Daniel mendorong Arka ke depan. “Ini mansionmu, jadi kamu yang imam.”
__ADS_1
Arka mundur, hingga sejajar dengan barisan Daniel. “Kakak saja. Kakak kan lebih tua dari saya.”
Daniel menengok ke arah pak Pradipta. Kemudian bertutur, “Kalau begitu, harusnya papa yang jadi imam. Di antara kita semua, papa lah yang paling tua.”
Demi menjaga wibawanya, pak Pradipta yang hanya shalat sekali sepekan (shalat Jumat saja) terpaksa menjadi imam.
Sudah banyak sekali surah pendek yang ia lupa. Beruntung surah Al-Ikhlas dan An-Nas masih ia hafal mati.
Mereka pun shalat berjama’ah.
Suara pak Pradipta hanya terdengar lantang saat mengucapkan Allahu Akbar. Selebihnya, suaranya terdengar samar-samar. Usai melakukan tahiyat akhir. Pak Pradipta kembali memimpin doa.
Beberapa menit setelahnya, pak Pradipta memandangi nama kontak yang melakukan panggilan telepon padanya. Dengan cekatan, ia menjawabnya.
“Mohon maaf Tuan. Oma sakit parah lagi,” ucap si pembantu di seberang sana.
Bapak dua anak itu lalu memberitahukan ke yang lain. “Mama sakit.” Ia cepat-cepat keluar, disusul yang lain.
Mereka bersama-sama menuju rumah sakit terdekat tempat oma dirawat.
Beberapa jam setelahnya, Arka mendekati kakaknya yang duduk agak jauh dari oma. “Kak Daniel, pinjam mobil sebentar.”
“Mau kemana?”
“Keluar sebentar. Ada urusan penting.”
“Ya sudah, pakai saja!” Daniel menyerahkan kunci mobil ke Arka.
Arka langsung melenggang keluar dari ruangan beraroma obat tersebut.
“Arka mau kemana?” tanya oma pada Nisa yang berusaha duduk manis di dekatnya.
“Ketemu client, oma. Ada client penting dari Belanda yang janji mau ketemu kak Arka malam ini.” Nisa turut berpura-pura.
Oma hafal betul tanggal lahir Dara. Ia sebenarnya tahu Arka pasti ke acara ulang tahun mantan kekasih cucunya itu.
Ia bertanya begitu ke Nisa hanya untuk mengetes sejauh mana Nisa mencintai cucunya. Sesuai dugaannya, Nisa sungguh-sungguh mencintai Arka dengan menyembunyikan kebenarannya.
Oma yang menangkap kecemburuan di air muka Nisa, menggenggam tangan menantu baik hatinya itu.
“Nisa, oma sayang sekali sama kamu. Kamu sayang oma juga kan?”
Nisa mengangguk cepat sembari berujar, “Iya oma.”
“Kalau begitu, oma mau kamu berjanji.”
“Berjanji apa oma?”
__ADS_1