
Malam telah tiba di ambang pagi. Nisa dan Kanza buru-buru beranjak dari pasar yang cukup ramai itu.
Terlihat, Nisa sedang menenteng daging ayam dan beberapa bahan mentah untuk dijadikan lauk. Ada tempe, kerupuk, telur, dan lainnya.
Sementara Kanza, ia membawa sayuran. Dari daunnya yang tampak sangat segar, sayur-mayur itu pasti baru saja dipetik oleh pemiliknya.
Tak lama berjalan, tibalah mereka di rumah. Barang-barang belanjaan yang ditenteng langsung saja diangkut menuju dapur.
Kali ini, Nisa dan Kanza mengambil alih rutinitas ibunya. Mereka berdua akan berkolaborasi menciptakan nasi goreng yang menggugah selera.
Hingga siapa pun yang memakannya, akan beralih sepakat dengan salah satu pantun rakyat yang pernah diajarkan di bangku sekolah.
Gendang gendut, tali kecapi. Kenyang perut, senanglah hati.
A few moments later.
Bu Faridah melongo usai melihat begitu banyak lauk yang tersedia. Ia cepat-cepat melirik ke arah Nisa seraya bertanya, “Sudah gajian?”
“Belum, Ma.”
“Uang darimana bisa belanja segini banyak?”
“Pakai uang boss, Ma.”
“Yang sering menelpon itu, Kak?” celetuk Kanza.
“Bukan, yang itu pak Farel. Yang kasih uang itu boss yang punya perusahaan.”
“Banyak juga ya boss di kantor kakak. Semoga salah satu dari mereka jadi suami saya nanti. Aamiin.”
“Hush. Kamu itu masih kecil, belajar yang benar saja di sekolah. Belum apa-apa sudah bahas suami. Kakakmu yang sudah cukup umur saja belum menikah,” sungut pak Nugroho.
“Iya, kamu fokus belajar saja. Asal kamu tahu ya dek, sebagian boss di kantor saya itu suka marah-marah. Mau kamu punya suami pemarah?”
Kanza menggeleng cepat lalu menikmati sarapannya.
Beberapa menit setelah sarapan.
Nisa menuju beranda. Terlihat ada empat box nasi goreng di dalam plastik merah yang menggantung di tangannya.
Farel juga sudah datang. Ia pun memberikan uang ke Nisa sebelum melajukan mobilnya ke kantor. Yup, sebuah gedung mewah yang terletak di tengah-tengah kota.
Setibanya di kantor.
Mereka melangkah berdampingan menuju lift. Sayangnya, lantai menuju ruangan bergerak tersebut terasa sangat licin. Membuat mereka kesulitan untuk melangkah dengan normal.
Kalau dilihat dari lantai yang masih basah itu, si office girl pasti baru saja selesai mengepel di saat pegawai kantor sudah berdatangan. Mungkin karena ia belum begitu pulih dari sakitnya, makanya belum bisa secekatan sebelumnya saat bekerja.
__ADS_1
Nisa yang berjalan sambil menenteng tas di sisi kanan, juga plastik berisi empat box nasi di sisi kiri, kehilangan keseimbangan karena kondisi lantainya. Ia oleng ke kiri.
Melihat itu, Farel yang berada di sampingnya bergerak dengan cepat menopang tubuh Nisa. Menyebabkan mata Nisa melotot sempurna ketika tangan bosnya itu menyentuh daerah sensitifnya, yakni salah satu gunung kembarnya.
Buru-buru Nisa menghindar, dengan cara kembali ke posisi sebelumnya. Namun Farel yang juga terkejut karena salah pegang, ikut oleng dibuatnya.
Farel akhirnya ambruk ke lantai. Disusul Nisa, yang ambruk tepat di atas tubuh Farel.
Tak nyaman, cepat-cepat Farel mendorong tubuh Nisa. Ya, sebelum pedangnya yang runcing itu hunus.
“Are you okay?” tanyanya setelah ia dan Nisa berdiri.
“Okay Pak,” jawab Nisa dengan muka tegang. “Bapak okay?”
“Iya, okay. Sini, biar saya bawa.” Tangannya mengulur ke bawaan Nisa.
Nisa yang masih shock, menyodorkan plastik berisi empat box tersebut ke Farel.
Bak jatuh tertimpa tangga, Arka ternyata melihat mereka terpeleset. “Luar biasa pertunjukannya.”
“Maksud kamu apa?” tanya Farel dengan mata menyala-nyala.
“Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan di sini. Sana, di hotel. Ingat, kalian ke kantor untuk bekerja, bukan pacaran. Kalau mau jadi pegawai tetap di kantor saya, kalian harus fokus dan konsisten dalam bekerja. Jangan seperti ini, seenaknya saja waktu kerja dipakai pacaran juga.”
“Siapa yang mesra-mesraan? Makanya, mata jangan cuma dipakai untuk melihat kesalahan orang terus. Jelas-jelas saya sama Nisa terpeleset, malah kamu tuduh bermesraan. Ini lihat, belakang saya basah habis bermesraan dengan tegel. Semua gara-gara kamu.”
Farel mengerem ucapannya, ia tak langsung menjawab pertanyaan Dara. Tangannya mengeluarkan dua box nasi. Lalu menyodorkan plastik yang berisi dua box, hingga menyentuh dada Arka.
“Semuanya gara-gara pesananmu ini,” umpatnya.
“Kenapa kamu ambil dua?” Arka melototi Farel.
Farel nyolot. “Buat saya dan Nisa lah.”
“Saya beli untuk kita bertiga.” Arka merampas satu kotak nasi dari Farel. “Kasih saja bagianmu ke dia. Satu box saja tidak cukup untuk saya.”
“Dasar egois!”
Dengan cekatan Arka menarik tangan Dara menuju lift. Meninggalkan Farel yang tengah menggerutu.
Nisa berusaha menenangkan Farel. “Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah kenyang. Tadi saya makan banyak di rumah.”
“Yang di rumah kan sarapan. Nasi goreng tadi untuk makan siang kamu. Begini saja, saya traktir kamu makan siang.”
“Tidak usah Pak. Saya bawa roti kok, untuk makan siang nanti.”
“Is it okay?”
__ADS_1
“Yup, one hundred percent okay.”
Farel dan Nisa pun menyusul ke lift.
Setibanya Arka di ruangan, ia membuka box nasi dengan tidak sabaran. Wangi makanan di box itu benar-benar membuat rasa laparnya menjadi-jadi.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini terdapat banyak lauk. Dimana nasinya bercampur dengan potongan daun seledri dan kol. Ada tambahan kerupuk juga, yang dibungkus dengan epik di dalam plastik.
Mereka langsung melahapnya.
“Enak kan?” tanya Arka.
Dara tersenyum. “Ne,” ucapnya. Ia kembali melahap nasinya yang kian berkurang.
“Setelah menikah nanti, kamu sering-sering masak nasi goreng ya. Tidak usah setiap hari, dua atau tiga kali lah dalam sepekan.”
“Pasti sayang. Uhhh, saya sudah tidak sabar jadi istri kamu.”
“Tenang saja, sayang. Kita pasti secepatnya menikah. Kamu siap-siap saja. Jumat nanti kita ke Jepang.”
“Ekspansi?”
“Bukan.”
“Terus apa, yang?”
“Kita liburan, sekalian foto prewedding juga.”
“Jepang? Gamsahamnida, chagiya.”
“Kiyowo kan?”
“Eh, sejak kapan kamu belajar bahasa Korea?”
“Baru beberapa hari yang lalu. Saya belajar menyukai semua yang kamu suka. Kamu juga sebaliknya ya. Biar rumah tangga kita harmonis terus.”
“Iya, pasti. Foto prewed nanti kita pakai baju Jepang ya,” bujuk Dara.
“Terserah kamu. Saya mengikut saja.”
“Saya pakai hikifurisedo. Kamu kuro-motsuki. Aaa, so sweet sekali sayang.”
Ekspresi itu membuat Dara terlihat sangat menggemaskan. Hingga Arka tak dapat menahan gelora di jiwa. Ia meletakkan sendok, dan perlahan mendekat ke Dara. Tangannya dengan cepat meraih punggung kekasihnya yang sangat cantik itu. Menariknya, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Mata mereka pun beradu. Dan tanpa permisi, bibir Arka mendarat kasar di bibir mungil Dara. Semakin lama, Arka semakin rakus menikmatinya.
Scene kissing itu berlangsung agak lama. Hingga aktivitas yang belum tuntas itu terhenti karena teriakan seseorang.
__ADS_1