Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Karakter Ganda


__ADS_3

Tak lama berbaring, Nisa beranjak dari posisinya yang sudah sangat nyaman. Ia melangkahkan kaki, meninggalkan tempat tidur untuk mengambil air wudhu. Ya, dia belum melakukan shalat magrib.


Ia kini berdiri dan menghadap ke kiblat. Di atas sajadah berwarna hijau dan bergambar mesjid. Nisa mulai melakukan takbir, dilanjutkan dengan gerakan-gerakan shalat yang lain.


Baginya, shalat adalah penghilang stres yang paling mudah ia lakukan. Gratis mengadukan segala keluh kesah pada Sang Pemberi Solusi Terbaik. Yang selalu berakhir dengan ketenangan akan hati yang gundah.


Usai sembahyang, ia melipat sajadah. Menyimpannya di antara hijab bermotif, yang ia susun dengan baik di gantungan khusus hijab. Gantungan hijab itu berada belakang pintu kamar.


Selanjutnya, ia membaca satu dua halaman ayat Al-Qur’an. Barulah ia akan menyentuh gawai seberesnya.


Dibukanya aplikasi berwarna hijau yang paling sering ia gunakan untuk berkomunikasi. Terdapat sebuah pesan dari nomor yang bukan dari kontaknya.


“Selamat malam!” sapa si pengirim.


Nisa buru-buru membuka profil si pengirim tersebut. “Farel?” bacanya.


Ada banyak Farel di dunia ini. Ia kemudian beralih ke foto. Rupanya, Farel adalah bos yang mengantarnya tadi.


Lelaki baik hati itu mengambil foto saat sedang mengenakan kemeja berlengan panjang, yang dipadukan dengan celana bahan.


Nisa membalas sapaan Farel. “Selamat malam, Pak.”


Ia bergegas menonaktifkan data seluler setelahnya. Cus meletakkan gawai yang telah lama ia pakai itu di atas nakas.


Ia meletakkan sebuah kursi di muka jendela. Ia pun duduk seraya mendongak menatap langit malam. Sesekali, rembulan ditelan awan.


Nisa menikmati panorama langit itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Darimana ya pak Farel mendapatkan nomornya?


Ia lalu menepuk jidatnya kala menyadari sesuatu. “Nomor saya kan ada di CV. Darimana lagi bos besar seperti pak Farel mengambil nomor saya kalau bukan di situ?”


Bayu malam membelai rambutnya yang panjang. “Indah sekali suasana malam ini,” pujinya.


Sejam duduk di dekat jendela, Nisa bangkit dari duduknya kala suara adzan berkumandang dari arah surau, yang letaknya tak jauh dari rumah Nisa.


Ia kembali mengambil air wudhu. Melaksanakan shalat isya, dan membaca beberapa ayat di surah At-Taubah sesudahnya.


Mendapat balasan chat seadanya dari Nisa, Farel mengambil jalur kedua saat melakukan PDKT dengan cewek.

__ADS_1


Menelepon jika chat-nya tidak dibalas dengan cepat. Toh, ia punya banyak pulsa untuk melakukan panggilan telepon non internet dengan Nisa.


Mendengar gawainya berdering lama, Nisa menghampiri benda persegi panjang tersebut. Tak enak hati untuk mengabaikan, Nisa terpaksa meladeni panggilan telepon dari Farel.


“Kenapa tidak dibalas chat saya?” Pertanyaan Farel langsung menyerang sisi ke-tidakenak-an Nisa.


“Ada chat ya? Maaf, saya tidak tahu Pak. Saya tidak aktif tadi.”


Di tengah-tengah obrolan mereka. Kanza menerobos masuk ke dalam kamar Nisa. “Cieee, kak Nisa. Telponan sama cowok,” ujarnya selepas mendengar suara Farel.


“Hush, diam kamu. Kenapa tiba-tiba masuk sini?” balas Nisa seraya mengepalkan tangannya guna mengancam adiknya yang suka melebih-lebihkan itu.


“Nisa jangan marah-marah! Takut nanti lekas tua.”


“Anak ini, ditanya malah dibalas nyanyi. Sebenarnya mau apa kamu di kamar kakak?”


“Ini mau ngambil potong kuku kak.” Seberes itu, Kanza melenggang keluar kamar.


“Jangan mau sama kak Nisa. Dia seperti Tuan Crab, suka mencubit. Apalagi kalau marah. Cubitannya sakit sekali,” teriak Kanza dari luar. Terdengar juga suaranya yang tertawa lepas.


Farel yang berada di seberang sana, tersenyum mendengar percekcokan antara Nisa dan adiknya. “Adek kamu lucu ya.”


“Kenapa diam saja? Kamu tidak suka ya saya menelepon?”


Pertanyaan Farel, serasa membuat jantung Nisa melompat ke perut. “Suka Pak. Saya diam karena tidak tau mau bahas apa.” Nisa bersikeras membela diri.


Menyadari Nisa kurang antusias, Farel segera mengakhiri panggilannya. “Well, sudah dulu ya. Saya cuman mau pastikan kamu baik-baik saja habis pergi dengan saya.”


“Iya Pak, terima kasih atas perhatiannya.”


Tut...tut..tut.


“Jinak-jinak merpati ya.” Farel meraih laporan para manajer yang ia anggurkan sejak kemarin. “Kalau ketemu langsung, dia ramah sekali. Giliran ditelepon, ternyata cuek bebek.”


Perasaan Farel bercampur aduk karena Nisa. Ada rasa sedih, tapi juga rasa tertantang di saat yang bersamaan.


“Ingat Farel, lelaki sejati tidak boleh bersedih karena hal-hal sepele.” Tak ingin berlarut-larut, ia langsung menyibukkan diri dengan memeriksa laporan yang dikumpulkan para manajer.

__ADS_1


***


Tenggorokan Nisa terasa kering. Buru-buru ia ke dapur untuk menghilangkan dahaganya. Namun langkahnya yang tadinya cepat, menjadi lambat ketika mendengar ayah dan ibunya berunding.


“Bagaimana ini, Pak? Bu Salwa akan menyewakan kontrakan ini ke orang lain kalau kita tidak bayar pekan ini.”


Air mata Nisa mulai mengalir. Berkali-kali ia mengelap dengan tangan dan mencoba berhenti. Tapi air matanya tak mau berhenti mengalir. Niat hati mau menghilangkan rasa haus di dapur. Ia justru merasa makin haus sekarang.


Nisa memerintahkan kakinya ke dapur. Setibanya di ruangan untuk mengolah makan tersebut, Nisa mengambil segelas air. Meneguknya separuh dan membawa sisanya ke kamar.


Nisa yang lelah batin dan badan, kembali meluruskan punggungnya di atas ranjang sederhananya. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar.


Benaknya bertamasya. “Harus kemana lagi saya pinjam uang?” desahnya.


Beberapa saat setelahnya, ia meneguk air putih yang masih tersisa setengah tadi, hingga habis. Meski begitu, pikirannya masih saja kacau.


Diambilnya gawai di nakas. Menonton beberapa video reaction lucu mungkin akan membantunya menghilangkan kesedihan untuk sementara.


Akan tetapi, ia menyempatkan mengecek WhatsApp terlebih dulu sebelum membuka YouTube. Ada tiga pesan Farel yang belum ia baca.


“Aha, pak Farel. Apa saya pinjam uang di dia saja ya? Dia kan baik, uangnya juga banyak.” Tanpa berlama-lama, Nisa langsung membalas chat Farel.


Notifikasi WhatsApp berbunyi lebih dari sekali di gawai bermerk buah-buahan milik Farel. Ia yang masih kesal dengan tanggapan Nisa yang seadanya, jadi malas mengeceknya.


Karena semakin ia membuka WhatsApp, semakin merasa hina pula ia saat melihat pesannya yang tak kunjung dibaca oleh Nisa.


Sementara Nisa yang sangat menantikan balasan dari Farel, merasa sedikit bersalah karena langsung menonaktifkan koneksi internetnya tadi.


Seharusnya ia lebih ramah pada bosnya itu. Supaya tidak terkesan ia hanya bersikap ramah saat ada maunya.


Mau bagaimana lagi? Pembawaannya memang begitu sejak dulu. Malas meladeni sesuatu yang dianggapnya tidak begitu penting. Dan menurutnya, chat-an dengan lawan jenis tidak termasuk dalam hal yang begitu penting.


Dua jam berlalu, Farel akhirnya beristirahat setelah memeriksa beberapa laporan. Disambarnya handphone yang berharga jutaan di nakas. Siapa tahu ada chat dari orang penting, seperti client.


Benteng pertahanannya runtuh seketika, tatkala melihat ada kotak masuk dari Nisa. Staff yang dikaguminya itu sudah menanggapi chat-nya, walau singkat.


Diperhatikannya lagi, tulisan hijau sedang mengetik tertera di bagian atas chat. Farel menantinya dengan tidak sabaran.

__ADS_1


“Boleh saya pinjam uang, Pak? Saya sangat butuh sekarang.”


__ADS_2