
Kedua telapak kaki Arka kompak ke kamar mandi. Lelaki itu langsung menceburkan diri ke dalam bath ub. Kembali muncul di permukaan setelah beberapa saat.
“Kenapa Nisa diam saja tadi? Harusnya perempuan pro player sepertinya membalas ciuman saya.” Ia menenggelamkan diri lagi.
Kemudian muncul sambil mengelus dagu.
“Dia kaku sekali. Seperti orang tidak pernah ciuman saja. Mana mungkin perempuan murahan seperti Nisa tidak pernah ciuman?”
Arka yang frustasi meremas rambutnya kuat-kuat. “Semua ini gara-gara oma dan mama yang selalu minta cucu. Papa juga salah besar. Coba saja dulu papa tidak menyarankan gugurkan kandungan, Nisa pasti sudah hamil sekarang. Kalau sudah begini, saya harus making love dangan Nisa supaya dia hamil.”
Ia menekan dahi. “Mencium bibirnya saja saya sudah nafsu. Apalagi kalau sampai begituan, bisa-bisa saya ketagihan. Taruh dimana wibawa saya kalau sampai minta jatah terus ke dia?”
Logika dan perasaan Arka kini bentrok hebat. “Kenapa saya jadi begini? Jangan-jangan, Nisa pakai pelet untuk memikat saya.”
Arka benar-benar berharap semua hanya bunga tidur. Ia menampar pipinya dengan keras. “Kurang ajar! Ini nyata,” ucapnya lalu mencuci bibirnya yang telah dilumuri saliva Nisa.
Berkali-kali
Sementara di dapur, Nisa masih mematung. Ia yang tak dapat lagi berpikir jernih, mencubit pipinya dengan keras. “Awww sakit,” pekiknya.
Yang terjadi antara ia dan Arka barusan ternyata fakta...
Nisa lalu menyentuh bibirnya. Masih tidak percaya Arka melakukan semua itu padanya. Anehnya, pipinya memerah saat mengingat adegan kiss tadi.
A little stupid, right?
“Tidak mungkin kak Arka mencium saya secara sadar. Dia pasti mabuk. Tapi tidak ada bau-bau aneh dari mulutnya.”
Tak mau tenggelam dalam pikirannya sendiri, Nisa mengambil pisau untuk mengalihkan fokusnya dengan memotong-motong sayuran, untuk dicampurkan dengan burger sederhana yang akan ia buat.
Selepas menyiapkan sarapan, Nisa masuk ke kamar.
Tak lama setelahnya, Arka keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan bath towel. Alhasil, roti sobek as a result dari rajin ngegym-nya terpampang nyata.
Nisa buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu juga dengan Arka. Mereka berdua malu untuk saling menatap usai kejadian di dapur tadi.
Nisa buru-buru masuk ke kamar mandi. Arka juga buru-buru memakai baju. Demi mengurangi kebersamaan dengan Nisa, Arka sarapan lebih dulu. Cus menunggu Nisa di mobil.
Seberes mandi, Nisa ke depan cermin. Tangannya meraih pigmen mica lip. Gincu yang terbuat dari mineral alami, berfungsi untuk memberikan warna yang mengkilap dan berkilau pada bibir.
Ia memakai lipstik lebih tebal, guna menutupi bekas gigitan Arka. Gegara bekas gigitan itu, ia duduk lebih lama di depan cermin.
__ADS_1
***
Setibanya di kantor, Dara ternyata ada di ruangan Arka. Ia membawa nasi goreng buatannya untuk dicobakan ke Arka.
“Nanti saja ya, sayang. Saya sudah sarapan tadi di rumah.”
“Ne. Saya cek keuangan tiap divisi di sini saja ya, sayang. Malas ke ruangan.”
“Iya, sayang.”
Pandangan Arka kini fokus ke laptop, tapi pikirannya tertuju pada kejadian di mansion tadi. Tanpa sadar, ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Tak lama setelahnya...
Nisa datang membawa kopi untuk Arka. Refleks, Arka menelan saliva kala melihat bibir Nisa. Bibir yang ia nikmati secara paksa tadi.
“Bibir kamu kenapa?” tanya Dara pada Nisa.
Nisa gelagapan. “Hah? Bibir saya kenapa Bu?”
Dara mengendus gelagat aneh antara Nisa dan Arka. Ia merasa, dua orang tersebut sedang menyembunyikan sesuatu darinya. “Bibirmu lebam karena apa?”
Jantung Arka berdebar tidak karuan. Takut jikalau ketahuan Dara bahwa ia telah mencium Nisa di mansion.
“Kena minyak goreng panas, Bu.” Nisa buru-buru keluar dari ruangan Arka setelahnya.
“Ada masalah apa sayang? Biasanya kamu kalau kerja santai. Kenapa sekarang kayak orang gelisah begitu?” tanya Dara yang mulai jenuh mendengar berisiknya suara hentakan kaki Arka.
“Saya takut, yang.”
“Takut kenapa?” Dara mendekat, kemudian menyentuh bahu Arka.
“Kinerja Nita bisa menurun karena kepergian Farel.” Arka berpura-pura.
“Oh, jadi dari tadi kamu gelisah karena itu? Kamu bikin khawatir tau, yang.” Dara pun menyandarkan kepala di bahu Arka.
Arka menyesap kopi. Lalu menjawab, “Saya tidak mau kamu terlalu banyak pikiran. Anyway, bagaimana kabar mama?”
“Alhamdulillah, mama jauh lebih baik sekarang. Saya mau pulang lebih cepat nanti. Boleh kan?”
“Boleh, tapi kamu pulang cepat untuk urusan apa?”
__ADS_1
“Mau temani mama terapi.”
Arka menggenggam erat tangan Dara. “Semangat ya sayang!” katanya.
***
Jarum jam kini mendekati angka 12.
“Saya pulang duluan, sayang. Nasinya jangan lupa dimakan sampai habis ya! Kasih komen juga, apa-apa yang kurang. Biar nasi goreng buatan saya makin enak.”
Arka mengiyakan.
Tinggallah ia sendiri di situ. Saat jam makan siang, Arka tidak ke cafe. Coz ia telah disiapkan nasi goreng special yang Dara buat dengan susah payah sebelum ke kantor.
Arka kini mencicipinya. Ia tak begitu berselera memakannya. Tapi juga tidak tega membuang makanan yang dibuat Dara dengan penuh cinta untuknya.
Tetiba, ia kepikiran pada Nisa. Satu-satunya orang yang bisa memakan sisanya di kantor itu cuma Nisa. Arka pun mengirimkan chat ke istrinya itu. “Ke ruangan saya sekarang!” titahnya.
Seusai membaca pesan dari Arka, Nisa melangkah cepat menuju lift. Then naik ke lantai sepuluh, ruangan Arka pastinya.
“Bantu saya menghabiskan nasi goreng itu, sekalian review rasanya.” Pandangan Arka tak berpindah dari laptop.
Right, ia cukup trauma menatap wajah Nisa. Jangan sampai bibir Nisa yang super adiktif mengacaukan hubungan asmaranya dengan Dara.
“Minumnya mana?” tanya Nisa tatkala netranya hanya mendapati air mineral sisa Arka di samping nasi goreng yang juga sisa Arka.
“Sana, ambil sendiri!” Arka menunjuk refrigeratornya yang berisi banyak minuman.
Nisa beranjak ke depan lemari pendingin tersebut. Membuka, mengambil tiga botol minuman (dua You-C dan satu air mineral), tersenyum, lalu menutupnya.
Minuman-minuman itu kemudian ia bawa ke meja di dekat sofa.
“Bisa kamu habiskan?” tanya Arka dengan menaikkan satu alis.
“Bisa. Air minum saya habiskan di sini. You-C nanti di ruang kerja. Dua botol ini bukan untuk saya semua, untuk Thira satu.”
“Sekalian saja kamu bagi-bagikan minuman di situ ke semua karyawan di kantor ini. Cepat, makan nasinya!”
Nisa mengangguk, ia mulai mengangkut sesendok nasi masuk ke dalam mulutnya. Beralih ke suapan kedua, ia masih menimbang rasanya.
Setelah suapan ke tiga, ia pun berkomentar. “Kalau menurut saya, kecapnya masih kurang. Nasinya pasti lebih enak kalau digoreng lebih lama lagi. Untuk orang yang suka makan sayur seperti saya, sayurannya butuh ditambah lagi.”
__ADS_1
Arka mengetik semua komentar Nisa, lalu mengirimkannya ke Dara.