Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 100 Baby Naya di Culik


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri ku, Dok?"


"Sepertinya bu Rania terlalu stres, tekanan darahnya sangat lemah sekali. Tolong di jaga dengan baik ya,"


"Terima kasih, Dok,"


Rangga sangat panik sekali melihat tubuh istrinya tadi tergeletak di jalan. Dua orang security di rumahnya pingsan, ART dan putranya Naya tidak ada. Untung Bintang dan Alisa sedang di ajak ayah kandungnya keluar dari siang.


"Naya..." Rania terbangun dan meneriakkan nama anaknya.


"Sayang kamu sudah sadar, apa Michelle menyakiti mu tadi?" tanya Rangga.


"Dia membawa lari putra kita, Mas,"


Air mata Rania kembali luruh membasahi pipinya. Ia kuatir sekali dengan keadaan Naya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Michelle akan berbuat senekad itu.


"Apa? Aku kira Naya dengan mbak, karena mbak juga tidak ada,"


Rangga terkejut bukan main.


"Coba jelaskan kejadiannya bagaimana? Aku panik melihat mu berbaring di jalan saat aku datang. Bahkan security yang masih pingsan aku biarkan di tempatnya. Aku panggil mbak juga tidak ada sahutan," ucap Rangga.


"Tadi dia datang meminta maaf masalah kemarin sampai nangis-nangis, jadi aku maafkan. Terus Dia minta minum lalu aku ke dapur membuatkan minuman karena mbak aku suruh ngangkat jemuran, waktu Mas telepon tadi,"


Rania kembali tidak dapat menahan tangisnya.


"Lalu saat kembali ke ruang tamu wanita itu tidak ada, aku naik ke atas ternyata Naya juga hilang. Aku ke balkon untuk melihat security tapi yang aku lihat wanita itu keluar dari gerbang sambil menggendong Naya,"


Rangga memeluk istrinya yang sangat sedih. Ia berusaha menenangkannya walau perasaannya juga sama kuatirya sekarang.


"Aku akan menelepon dulu agar Michelle segera di tangkap, kamu tunggu di bawah saja Sayang. Kita akan mencari mereka,"


Rangga segera menghubungi Siksa dan Jeremy. Ia meminta bantuan mereka. Ia juga menghubungi Anto dan juga Rico. Semua orang yang bisa membantunya ia hubungi. Setelah selesai ia segera menyusul istrinya ke bawah.


"Astaga, mbak kenapa Sayang?"


Rangga terkejut melihat ART-nya tergeletak di dekat dapur.


"Sepertinya dia di pukul wanita itu, Mas,"


Rangga segera menghubungi dokter tadi.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan security itu? Apa mereka sudah sadar? Ini di rumah masih ada satu orang lagi yang pingsan,"


Menit kemudian, Dokter datang bersama seorang security yang telah sadar. Sementara satu security tetap berjaga di depan. Tampaknya mereka belum sadar dengan apa yang terjadi.


Saat dokter itu tengah memeriksa ART itu, Anto datang bersama beberapa petugas polisi. Mereka semua ke pos security untuk melihat rekaman cctv kejadian tadi. Ternyata petugas keamanan ini pingsan setelah memakan kue pemberian Michelle, sementara si mbak di pukul dengan benda tumpul di tengkuknya saat akan masuk setelah mengangkat jemuran.


"Gila, pintar sekali wanita ini. Sepertinya ini memang sudah terencana dengan rapi. Apa kamu tahu rumahnya di mana?" tanya Anto.


Rangga menggeleng.


"Kita sudah lama sekali lost contact, baru ketemu lagi beberapa hari yang lalu. Tapi teman ku mungkin tahu,"


Rangga segera menghubungi Siska dan Jeremy. Mereka yang juga sejak tadi mencari info tentang Michelle segera memberikan alamatnya. Ternyata Rico juga memberikan koordinat yang sama dengan alamat yang temannya beri tadi.


"Sayang, kamu jangan menangis lagi ya kita akan segera menemukan putra kita. Sebaiknya sekarang kamu telepon pak Alif, minta untuk malam ini biar anak-anak tinggal bersamanya. Kita tidak mungkin meninggalkan mereka di sini atau membawanya bersama kita dalam mencari Naya,"


Dengan lembut Rangga memberi pengertian kepada istrinya. Rania sangat memahami ucapannya. Ia segera menghubungi Alif, namun tidak bercerita kejadian sesungguhnya agar kedua anaknya tidak panik.


Mereka semua mulai melakukan pencarian. Rania masih belum bisa berhenti menangis. Ia terus berdoa untuk keselamatan anaknya.


☆☆☆


"Kenapa kita menginap di sini, Yah? Besok kita kan harus sekolah," Alisa tampak tidak senang.


Alisa terlihat sangat kecewa, tidak biasanya orang tuanya meninggalkan mereka saat bepergian. Biasanya mereka akan selalu mengajak keduanya. Dengan langkah berat Alisa masuk ke rumah ayahnya. Perilaku buruk neneknya masih melekat dalam ingatannya sehingga membuatnya takut untuk menginjakkan kaki di rumah ini.


"Kok tumben mereka kamu bawa ke sini, Lif?" tanya bu Nani.


"Iya Bu, Rania dan suaminya tiba-tiba mendadak ke luar kota, jadi mereka sementara di sini dulu," jawab Alif.


"Oh begitu. Ya sudah kalian tidur dengan nenek ya, sudah lama kalian tidak datang ke sini. Kalian sudah makan belum?"


Bu Nani menggiring keduanya masuk, ia bersikap sangat ramah sekali. ketakutan Alisa berangsur memudar mendapat perhatian seperti itu.


"Mas Alif, loh itu kan Alisa dan Bintang. Mana mbak Rania?" tanya Laila.


"Malam ini mereka akan menginap di sini Laila, barusan Rania telepon katanya mereka ada urusan mendadak keluar kota, jadi titip mereka di sini," jawab Alif.


Perasaan Laila tidak nyaman. Rania masih dalam masa nifas tapi sudah harus keluar rumah, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mereka.


'Apa jangan-jangan ada kaitannya dengan paket misterius kemarin ya?' batin Laila.

__ADS_1


"Kok wajah mu jadi cemberut seperti itu, Laila? Apa kamu keberatan mereka menginap di sini?" tanya Alif.


"Oh tidak, Mas. Aku senang mereka di sini, hanya saja aku kuatir takut mbak Rania dan pak Rangga sedang dalam masalah," jawab Laila.


"Maksud mu bagaimana? Masalah apa?"


Laila pun menceritakan kejadian saat dia datang ke rumah Rania waktu itu.


"Memang pekerjaan pak Rangga itu berbahaya, makanya sebenarnya dari dulu aku kuatir anak-anak tinggal bersama mereka. Kita doakan saja mereka baik-baik saja,"


Alif mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Namun Laila masih mau mengambil air di dapur.


"Hei Sayang, kalian sedang makan ya," sapa Laila kepada kedua anak suaminya.


"Sudah tahu lagi makan," sindir bu Yani.


Alisa merasa tidak senang, ternyata bukan hanya ibunya tapi istri baru ayahnya juga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari neneknya.


"Iya Tante, ayo makan dengan kita," ajak Alisa ramah.


"Tante sudah makan Sayang, kalian makan yang banyak ya," Laila mengusap kepala keduanya dengan lembut, ia jadi teringat Akila.


"Eh kalian tidur di mana? Tidur bersama ayah dan Tante saja ya?" Laila berharap keduanya menerima tawarannya.


Alisa melihat ke arah neneknya.


"Kamu tidak perlu sok baik, mereka akan tidur bersama ku. Sudah sana pergi," usir bu Nani.


Dengan rasa kecewa, Laila melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah.


Brukkk... brekkk...


"Akh..."


Laila berteriak kesakitan sebelum akhirnya pingsan.


"Astaga, Tante..."


Alisa berlari ke arah Laila yang tengah pingsan. Gadis itu mulai menangis ketika melihat darah mengalir dari sela paha wanita itu.


"Ayah... Tante, hua... hua..."

__ADS_1


Bu Nani terlihat panik dengan apa yang terjadi.


__ADS_2