
Dona berlari dengan berurai air mata, ia tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehadiran Rangga di dalam hidupnya selama ini. Ia sadar memang pria itu tidak pernah mengatakan mencintainya. Namun rasa pedulinya membuat Dona merasa bahwa pria itu memiliki perasaan terhadapnya.
Dona segera menyetop taksi dan pergi dari sana. Ia tidak memperdulikan lagi panggilan Anto dan Rangga yang mencoba menghentikannya. Hatinya sudah terlanjur sakit untuk terus mendengarkan penjelasan mereka.
"Bagaimana ini Anto? Aku hanya takut dia kembali depresi atau berbuat nekad,"
Rangga sangat kuatir Dona pergi dalam keadaan marah seperti itu. Wanita itu baru saja sembuh dari masalah mentalnya, ia takut kejadian ini akan mengguncang jiwanya kembali.
"Kamu pulang saja, biar aku yang urus. Aku akan segera menyusulnya,"
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan mu, bukannya tidak bisa di tinggal?"
"Ini menyangkut masalah nyawa seseorang, biarlah nanti izin langsung. Pulanglah, aku juga akan pergi,"
Anto mengambil tas dan jaketnya.
"Ok, nanti jangan lupa kabari ya,"
Mereka berpisah ke tujuan masing-masing. Rangga memutuskan kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang sudah menantinya.
☆☆☆
"Apa ada klien yang datang?" tanya Rangga.
"Tidak ada Pak, hanya saja..."
Anita tidak menyelesaikan kalimatnya, ia terlihat sedikit takut dan menundukkan kepalanya, membuat Rangga bertanya-tanya.
"Hanya saja kenapa?" tanya Rangga lebih lanjut.
"Hanya saja tadi Bu Rania ke sini,"
"Apa? Istri ku ke sini? Apa dia cerita tujuannya datang kemari?"
Anita tampak ragu untuk bercerita. Rangga menatapnya lekat, membuat wanita takut.
"Kenapa diam, Anita?"
"Itu Pak, katanya perasaannya gelisah. Beliau hanya ingin memastikan jika Bapak dalam keadaan baik-baik saja,"
"Ah dia ada-ada saja. Dia terlalu kuatir pada ku,"
Rangga tersenyum mengetahui istrinya begitu peduli kepadanya. Hatinya sangat senang.
"Saya ingin minta maaf, Pak,"
__ADS_1
Rangga menatap Anita dengan heran. Ia merasa dia sama sekali tidak ada salah terhadap dirinya.
"Memangnya kamu punya salah apa, Anita?"
Anita yang tadinya berdiri sekarang duduk di hadapan bosnya itu. Ia menceritakan apa yang telah di katakannya kepada istri Rangga itu. Semua ia katakan dengan jujur. Ia meminta maaf karena sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Rania.
Baru saja selesai bercerita, ponsel Rangga berdering. Ia terpaksa mengangkatnya terlebih dahulu.
"Iya Anto, bagaimana?" tanya Rangga.
"Dona tidak pulang ke rumah, aku tidak tahu dia di mana. Aku sangat kuatir sekali, ini aku sedang mencarinya," jawab Anto.
"Apa? Aduh kenapa jadi ribet begini sih. Istri ku juga sudah tahu tentang Dona, tadi dia ke kantor dan salah satu staf ku memberi tahu dirinya. Aku takut dia salah paham. Kamu terus cari Dona, aku akan pulang ke rumah dulu,"
Setelah selesai, Rangga tidak berkata apapun kepada Anita. Ia bergegas pulang menuju rumah. Istrinya sedang hamil, ia takut masalah ini membuatnya berpikir dan berpengaruh terhadap janin yang ia kandung. Sepanjang perjalanan pikirannya tidak fokus, hatinya di liputi rasa gelisah.
☆☆☆
"Bu, ada tamu di depan," ucap si mbak.
"Siapa, Mbak?" tanya Rania.
"Dia tidak mau memberi tahu namanya, Bu,"
"Baiklah, suruh tunggu di ruang tamu. Aku mau lihat Bintang sebentar di kamarnya,"
Rania menatap perempuan muda di depannya, ia merasa tidak pernah melihat atau mengenalnya.
"Maaf, Mbak ini siapa ya?" tanya Rania ramah.
"Saya adalah kekasih suami mu," jawab Dona.
"Apa? Mbak tidak salah rumah kan?"
Tentu saja Rania tidak percaya. Ia yakin suaminya tidak mungkin berselingkuh. Ia tahu betul Rangga sangat mencintainya, apalagi sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak.
"Tentu saja tidak, aku kekasih Mas Rangga. Kita sudah berhubungan hampir sebulan ini,"
Dona berkata dengan begitu percaya dirinya. Gadis ini tidak bisa terima jika Rangga sudah beristri. Ia bertekad untuk merusak rumah tangga mereka. Bahkan dirinya tidak peduli lagi jika wanita di depannya tengah mengandung.
"Aku tidak akan percaya jika bukan suami ku yang mengakuinya sendiri,"
Rania memang sangat dewasa dan bijaksana, ia tidak mudah terpengaruh.
"Apa kamu pikir orang yang berbuat salah akan mengaku? Jangan terlalu naif jadi wanita. Tentu saja Mas Rangga lebih memilih diri ku yang masih muda daripada diri mu yang sudah berumur, hahaha..." cemooh Dona.
__ADS_1
"Apa kamu wanita yang bernama Dona itu?"
Rania ingin memastikan jika wanita yang di ceritakan Anita kepadanya tadi adalah wanita di depannya saat ini.
"Dari mana kamu tahu nama ku? Apa suaminya mengingau nama ku saat dia sedang tidur ya?" Dona tampak senang.
Rania hanya tersenyum.
"Jika dia mencintai mu, dia pasti sudah menikahi mu. Mungkin kamu yang terlalu naif. Suami ku memang selalu baik terhadap siapa pun, sepertinya kamu salah paham dengan kebaikannya,"
Dona kesal, ternyata istri Rangga tidak mudah di provokasi. Saat ini justru dirinya yang terpojok.
"Kamu jangan terlalu percaya dengan suami mu itu, bahkan kita telah menghabiskan malam bersama. Dia begitu bergairah, hahaha..."
Rania sangat jijik mendengar ucapan wanita itu.
"Usaha mu bagus, tapi maaf aku lebih percaya suami ku daripada orang asing seperti diri mu. Wanita yang rela merendahkan harga dirinya demi seorang pria. Apa tidak ada pria single yang tertarik kepada mu sehingga diri mu mencoba menggoda suami orang?"
Emosi Rania tersulut, ia tidak terima suaminya di tuduh sehina itu.
"Kurang ajar sekali mulut mu itu, awas kamu,"
Dona kalap, ia mendekati Rania lalu menarik jilbab yang ia pakai hingga ia tercekik oleh jilbab itu.
"Lepaskan aku, Dona," teriak Rania.
Teriakannya mengundang ART datang, namun karena Dona mengancam akan melukai Rania, ia tidak berani mendekat. Beruntung Rangga segera datang. Ia terkejut melihat Dona sudah berbuat kasar terhadap istrinya. Rangga segera mengirim pesan kepada Anto sebelum masuk.
"Dona, lepaskan istri ku!" titah Rangga.
"Mas Rangga," Rania hanya bisa memanggil suaminya lirih.
"Akhirnya kamu datang Mas Rangga ku Sayang. Aku tidak akan melepaskan dia. Katakan padanya jika kamu mencintai ku. Katakan jika kita sudah menghabiskan malam bersama, katakan Mas,"
Emosi Dona makin tidak terkontrol, Rania hanya bisa memegangi perutnya. Ia takut wanita itu melukai calon bayinya.
"Kamu bicara apa Dona? Bukankah Anto sudah menjelaskan tadi, aku hanya ingin menolong mu lepas dari rasa trauma mu, tidak lebih. Tolong jangan sakiti istri ku, dia tidak bersalah,"
Dona justru tertawa menakutkan, sepertinya penyakitnya mulai kambuh kembali. Wanita itu mengeluarkan pisau kecil dari dalam tasnya.
"Jika kamu tidak bisa menjadi milik ku, maka wanita ini juga tidak boleh memiliki mu,"
Dona mulai memainkan pisau itu di wajah dan leher Rania. Rangga sangat panik, ia kuatir sekali.
"Tolong jangan sakiti istri ku," Rangga bersimpuh di hadapan Dona.
__ADS_1
Wanita itu justru menyeringai ke arahnya. Ia mulai mengarahkan pisau itu ke perut istrinya.
"Jangan Dona..." teriak Rangga.