
Keesokan harinya.
"Sayang, nanti malam ada teman ku yang ingin melihat baby Naya. Kebetulan mereka sedang liburan di Indonesia, jadi mampir," ucap Rangga.
"Teman kuliah dulu, Mas?"
"Iya, mereka bertiga. Aku sudah menyuruh mbak banyak lebih banyak,"
"Baiklah Mas, kita akan menyambut mereka,"
"Terima kasih, Sayang. Aku berangkat kerja dulu ya,"
Rangga mencium istri dan juga anaknya.
☆☆☆
"Halo Rangga, kamu sedang apa?" tanya Michelle.
"Ini sedang kerja. Kalian jadi kan nanti mampir ke rumah?" tanya Rangga.
"Ya pasti dong. Aku kangen banget sama kamu, sudah lama kita tidak bertemu,"
"Jangan seperti itu, sekarang aku sudah punya istri. Aku tidak mau dia salah paham nanti,"
Wajah Michelle langsung manyun. Dia kesal sekali kepada Rangga. Bertahun-tahun mengejarnya, jangankan jadi kekasih, bisa dekat dengannya saja sangat sulit rasanya. Mendengar dirinya menikahi seorang janda, hatinya sangat hancur. Apa kurangnya dirinya sehingga pria idamannya lebih memilih menikahi janda beranak dua?
"Kenapa sih kamu selalu menghindari ku? Bertahun-tahun aku mencintai mu, sedikit pun kamu tidak peduli dengan perasaan ku,"
Michelle mulai terbawa perasaan.
"Sudahlah Michelle, kamu tahu sendiri jawabannya. Tolong tidak perlu bahas hal itu lagi, jika tidak sebaiknya kamu tidak perlu datang kemari,"
Rangga enggan membahas masalah itu. Baginya sampai kapan pun Michelle hanyalah seorang teman, tidak lebih. Hatinya terkunci untuk Rania seorang.
"Iya, iya... Maaf. Ya sudah sampai ketemu nanti,"
Michelle memilih mengalah, ia tidak ingin Rangga marah dan membuat rencananya berantakan.
☆☆☆
Di rumah Alif.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita kos atau ngontrak saja, aku ingin membawa Akila hidup bersama kita. Aku takut kecolongan dan mereka berhasil membawanya,"
Laila masih memikirkan masalah Akila. Sebagai seorang ibu tentu saja hal ini membuatnya tidak tenang.
"Aku juga maunya begitu Laila, tapi kamu tahu sendiri sementara ini aku harus bisa berhemat untuk membayar pinjaman. Apalagi sekarang kamu hamil, kita harus memikirkan persiapan untuk lahiran nanti,"
Keduanya diam, sama-sama berpikir.
"Bagaimana jika Akila ikut tinggal di rumah ini. Dia bisa menggunakan kamar adik ku di bawah. Jika aku masuk malam, kamu bisa tidur dengannya," Alif memberi ide.
__ADS_1
"Tinggal di sini?"
Laila tidak mau Akila mendapat perlakuan yang sama seperti dirinya dari bu Yani. Cukup ia yang mendapat hinaan dan perlakuan tidak menyenangkan dari ibu mertuanya itu.
"Kenapa? Kamu tidak mau, Akila tinggal di sini?" tanya Alif.
"Lebih baik jangan Mas, itu sama saja menabuh genderang perang dengan ibu mu,"
Laila berusaha jujur. Ia kuatir akan memperkeruh suasana jika Akila tinggal di sini.
"Aku mengerti kekuatiran mu. Kamu yang sabar ya, doakan rezeki ku lancar agar kita bisa segera hidup mandiri," ucap Alif.
Laila tersenyum, ia bisa mengerti keadaan suaminya. Apalagi sekarang semua bergantung kepada Alif. Di tambah ia juga sedang hamil, otomatis pengeluaran juga pasti bertambah.
☆☆☆
"Oh teman Den Rangga ya, silahkan masuk. Saya panggilkan ibu dulu,"
ART itu langsung ke lantai dua memanggil Rania.
"Istrinya Rangga ternyata cantik ya, pantas saja dia mencintainya," puji Jeremy.
Mereka sedang memandangi foto pernikahan Rangga dan Rania.
"Tetap saja dia hanya seorang janda, sudah punya dua anak lagi," sahut Michelle.
"Duh jutek banget sih, kelihatan sekali jika kamu iri, hehehe..." ledek Siska.
Sifat sombong Michelle mulai keluar.
"Sok tahu banget sih kalau dia tidak level dengan mu. Memangnya kamu tahu siapa dia?" tanya Jeremy.
"Ya pasti dia hanya orang kampung, kebetulan saja ketemu Rangga lalu di angkat derajatnya," cemooh Michelle.
Kedua temannya hanya bisa menggeleng kepala melihat sifat temannya itu.
"Halo, maaf ya menunggu lama. Ayo kita ke ruang atas,"
Rania menyapa mereka dengan ramah. Mereka memperkenalkan diri dan menjabat tangan Rania. Mereka mengikuti langkah Rania menuju lantai dua.
"Aku kira cantiknya karena make up, eh ternyata asli kulit wajahnya glowing," bisik Jeremy.
Michelle makin panas mendengar ucapan Jeremy.
"Silahkan duduk, dan di makan hidangannya,"
Mereka duduk santai sembari bercerita. Tadinya mereka menyangka Rania hanyalah ibu rumah tangga biasa yang hidupnya tergantung dari harta suaminya. Ternyata perkiraan mereka salah besar. Rania wanita yang cerdas, apa pun topik yang mereka bahas ia selalu nyambung.
"Kamu wanita yang pintar, kenapa tidak terus berkarir saja?" tanya Jeremy.
"Aku kan sudah menikah, jadi hanya menganggap semuanya hanya hobi saja. Apalagi Mas Rangga sudah mencukupi semua kebutuhan kami. Lagi pula dia lebih suka aku di rumah dari pada sibuk di luar,"
__ADS_1
Tak berapa lama berselang, Rangga datang. Dengan tanpa berdosa Michelle langsung memeluk pria itu. Membuat semua orang menatap ke arah mereka.
"Rangga... kenapa lama sekali sih,"
Rangga yang merasa risih segera melepas pelukan wanita itu. Ia menghampiri istrinya dan mencium keningnya. Rania yang tadinya kesal dengan tingkah michelle akhirnya luluh juga.
"Apa kalian sudah lama?" tanya Rangga.
"Ya lumayan, untung ada Rania jadi tidak bosan menunggu mu," jawab Jeremy.
"Hei jangan main-main, dia istri ku,"
Rangga merangkul pinggang istrinya untuk menegaskan kepemilikannya. Temannya tertawa melihat tingkahnya.
"Ckckck... dulu kamu terkenal dingin, sekarang jadi posesif. Cinta memang bisa membolak-balikkan hati manusia,"
"Hahaha... cinta memang aneh. Makanya kalian itu cepat menikah, biar merasakan nikmatnya surga dunia," seloroh Rangga.
"Iya deh, yang sudah menemukan belahan hati, serasa dunia milik berdua,"
Mereka terus saja bercanda, mengingat masa-masa kuliah dulu. Bercerita tentang kegiatan masing-masing dan rencana masa depan.
"Mas, aku tinggal lihat baby Naya dulu ya. Kalian lanjutkan saja,"
Kesempatan ini sudah di nantikan Michelle sejak tadi. Ia perlahan bergeser mendekati Rangga. Rangga yang sedang asyik mengobrol dengan Jeremy tidak menyadarinya.
"Rangga, aku mau ke toilet. Di mana tempatnya?" tanya Michelle.
"Kamu lurus saja, di sebelah pintu belok kiri,"
Rangga memberi tahukan letak toiletnya.
"Aduh anterin saja deh, aku takut," Michelle modus.
"Astaga, kamu sudah besar masa takut sih," ledek Jeremy.
"Aku kan memang penakut dari dulu, ayo Rangga anterin,"
Dengan manja ia menarik tangan Rangga.
"Ya sudah ayo. Aku antar Michelle dulu ya,"
Mereka berjalan beriringan. Michelle tersenyum licik.
"Apa sih yang di rencanakan Michelle? Sudah tahu Rangga punya istri, masih saja tidak berhenti mengejarnya,"
Jeremy tidak senang melihat tingkah Michelle. Karena dari dulu sebenarnya ia menyukai wanita itu, namun ia justru sibuk mengejar cinta Rangga dan mengabaikan perasaannya.
"Itu toiletnya. Aku tinggal dulu,"
Michelle menarik tangan Rangga hingga tersudut ke tembok. Wanita itu berusaha mencium bibir Rangga.
__ADS_1