Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 114 Akhir Yang Indah


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Selamat ya, kita tunggu undangan pernikahannya,"


Rania dan Rangga memberi selamat kepada Anto dan Michelle yang sedang melangsungkan acara pertunangan.


Keluarga Anto tadinya banyak yang tidak mendukung hubungannya dengan Michelle karena latar belakangnya yang pernah masuk rumah sakit jiwa. Namun karena Anto kukuh dan di dukung sikap Michelle yang memang baik, keluarga Anto akhirnya menyetujui hubungan mereka.


"Terima kasih ya, kalian pasti orang yang pertama kita undang jika kita menikah," balas Anto.


Pesta pertunangan berlangsung meriah dan lancar. Ternyata Michelle bukan orang sembarangan, kerabatnya banyak dari kalangan berada. Mobil-mobil mewah terparkir cukup banyak di parkiran hotel tempat mereka melangsungkan acara. Kedua keluarga memang merupakan orang berada. Pesta berlangsung tertutup, hanya mengundang kerabat dan teman dekat kedua belah pihak saja.


"Terima kasih ya Mas, sudah menerima aku apa adanya," ucap Michelle.


"Sama-sama, aku juga beruntung bisa mendapatkan wanita sebaik dan secantik kamu,"


Keduanya saling berpelukan mesra sekali, membuat yang masih belum punya pasangan merasa iri melihat kemesraan mereka.


"Tidak menyangka ya Mas, Michelle ternyata berjodoh dengan teman mu sendiri,"


Rania menatap pasangan yang sangat mesra itu.


"Iya, semua ini seperti mimpi. Kalau ingat kejadian penculikan itu rasanya aku kesal sekali kepadanya," ucap Rangga.


"Iya, rasanya jantung ku seolah berhenti berdetak saat itu. Alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh total ya,"


Keduanya saling merangkul, terbawa suasana yang sedang melangsungkan pesta.


☆☆☆


"Mas, kepala ku pusing sekali,"


Laila hampir saja terjatuh jika suaminya tidak sigap menangkapnya.


"Sudah aku bilang kamu jangan terlalu lelah, kaki mu masih butuh istirahat walaupun sudah sembuh,"


Alif menuntun istrinya duduk di kursi.


"Kamu pasti juga telat makan makanya sampai pusing begitu," imbuh Alif.


Kaki Laila terluka cukup parah ketika menyelamatkan ibu mertuanya. Ia banyak mendapat jahitan. Beruntung tidak ada otot yang cedera parah. Tulangnya juga tidak ada yang patah. Namun begitu dokter tetap menyuruhnya untuk beristirahat dari kegiatan yang terlalu berat.


"Aku bosan jika hanya duduk tanpa melakukan apa-apa. Membuat kue kan tidak membutuhkan banyak tenaga, Mas,"


Alif memijat kepala istrinya dengan lembut membuat Laila merasa lebih nyaman. Namun dalam hitungan menit perutnya terasa mual.


"Aduh, huek... huek..."


Laila berlari ke kamar mandi, ia muntah banyak sekali. Alif menyusulnya, membantu memijatnya sampai istrinya berhenti muntah.


"Kita ke dokter saja, wajah mu pucat sekali," ajak Alif merasa sangat kuatir.


Laila yang merasakan sekujur tubuhnya tidak nyaman menurut saja saran dari suaminya. Mereka menuju klinik terdekat.


"Bagaimana, Dok? Istri saya sakit apa?" tanya Alif setelah Laila di periksa.


"Untuk lebih memastikan tolong lakukan tes kehamilan dulu ya, ini tempat urine dan tespectnya,"


Dokter memberikan Laila wadah untuk menampung urine dan sebuah tespect.


Laila dan Alif saling berpandangan. Bisa-bisanya mereka tidak berpikir ke arah sana.

__ADS_1


"Jadi istri saya hamil, Dok?" tanya Alif, masih belum percaya.


"Dugaannya begitu, makanya untuk lebih pastinya silahkan tes dulu,"


"Baik, Dok,"


Alif mengikuti istrinya ke kamar mandi. Ia menunggu dengan tidak sabar.


"Bagaimana, Laila?" tanya Alif saat istrinya keluar dari kamar mandi.


Laila tersenyum lalu menunjukkan hasil tesnya.


"Garis dua, berarti positif," teriak Alif.


Alif memeluk istrinya sangat erat karena terlalu senang.


"Aduh Mas, sakit," ucap Laila.


"Maaf, maaf ya. Aku terlalu senang,"


Mereka berdua kembali ke ruangan dokter. Menurut perkiraan dokter usia kandungannya sudah 3 minggu. Setelah mendengarkan nasehat dari dokter dan di beri obat serta vitamin, mereka pulang ke rumah.


☆☆☆


"Assalamualaikum, Yah," ucap Alif.


"Waalaikumsalam salam, ada apa Lif?" tanya pak Agus.


"Aku hanya ingin memberi tahu kabar gembira. Barusan aku dari klinik, kata dokter Laila sedang hamil 3 minggu,"


Alif berkata dengan antusias, terlihat sekali ia sangat gembira.


"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya. Kamu harus selalu menjaga Laila dengan baik," pesan pak Agus.


"Ibu mu pasti senang. Tadi adik mu juga telepon, katanya dia juga sedang hamil satu bulan,"


"Nelly juga hamil? Alhamdulillah, bulan ini sangat membahagiakan untuk keluarga kita,"


Alif senang sekali, adik dan istrinya di percaya memperoleh keturunan di saat yang bersamaan.


☆☆☆


"Yang benar, Laila hamil lagi?" tanya bu Nani.


"Iya Bu, katanya sudah 3 minggu. Kemungkinan lahirnya akan berdekatan dengan anaknya Nelly," jawab pak Agus.


"Alhamdulillah, cucu ku akan bertambah dua lagi di saat yang hampir bersamaan,"


Bu Nani sangat bahagia. Semenjak Laila menyelamatkan hidupnya sebulan yang lalu, ia telah banyak berubah. Ia tidak lagi membenci wanita itu, sekarang dirinya justru menyayangi Laila. Ia sadar jika harta bukanlah segalanya. Laila adalah menantu dan istri yang baik untuk putranya. Bahkan dia sudah rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya.


☆☆☆


"Mas, aku harus bagaimana? Alisa selalu menanyakan kapan kita akan memberikannya adik perempuan, ini semua gara-gara Mas Rangga sudah berjanji segala," rengek Rania.


"Ya sudah sekarang kita buat,"


Rangga tersenyum nakal kepada istrinya.


"Mas, aku serius," Rania mulai merajuk.


"Aku juga serius," Rangga mulai menciumi tengkuk istrinya.

__ADS_1


"Mas!"


"Iya, Sayang..."


Rangga justru menggoda istrinya yang sedang marah karena ketidak seriusannya.


"Mas Rangga, aku serius. Naya lahir lewat operasi cesar, kata dokter butuh waktu lama jika menginginkan anak lagi," ucap Rania serius.


"Iya, aku tahu. Nanti kita konsultasikan kepada dokter lagi. Biar aku yang akan memberi pengertian kepada Alisa,"


Rangga berusaha menenangkan istrinya.


"Benar ya, Mas harus tanggung jawab pokoknya," Rania menatap suaminya dengan serius.


"Iya, iya... sekarang kita nyicil dulu ya,"


Rangga melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Nyicil apa?" tanya Rania bingung.


"Ya nyicil bikin adik buat Alisa dong, Sayang,"


Rangga membaringkan istrinya, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Kemudian berubah menjadi *******-******* yang menggairahkan.


"Mas..."


Rania menikmati tatkala suaminya mulai menjelajahi lehernya, kemudian turun ke bukit kembarnya yang sudah mengeras. Sentuhan tangan dan mulut suaminya memberikan sensasi yang luar biasa hingga membuat tubuhnya tidak berhenti bergetar menahan rasa nikmat.


"I love you, honey..."


Bisikan Rangga di telinga istrinya membuat bulu kuduk Rania makin meremang. Keduanya hanyut dalam kenikmatan yang sempurna.


Bercinta memang surganya dunia, apalagi jika di lakukan atas dasar suka sama suka, dengan pasangan sah yang memang kita cintai.


"Terima kasih ya Sayang,"


Rangga mengecup kening istrinya ketika permainan mereka telah selesai.


"Semoga Mas selalu puas dengan pelayanan ku,"


"Tentu saja, bersama mu adalah keinginan ku. Menikahi mu adalah impian ku. Memiliki mu adalah tujuan ku. Menua bersama mu adalah harapan ku,"


Rangga menatap kedua manik indah istrinya, wanita yang ia harapkan selalu menjadi bidadari surganya.


💝💝💝


Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini:


* Sesuatu yang kita genggam erat akan tetap terlepas jika memang bukan milik kita.


* Tidak ada kata terlambat untuk menjadi sukses.


* Terkadang Allah mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum bertemu jodoh yang sebenarnya.


* Di setiap hati manusia pasti ada sedikit kebaikan, sejahat apapun dia.


Yang lainnya teruskan sendiri ya 😅😅


Semoga readers tidak kecewa dengan ending nya.


Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan dari awal hingga akhir 🙏🙏

__ADS_1


Di tunggu karya baru saya ya 🙏🙏


__ADS_2