Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 86 Rahasia Yang terungkap


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Alif begitu intens mendekati Akila selama dua minggu terakhir. Ia mengajak gadis kecil itu jalan-jalan, baik sekadar ke taman atau pun liburan ke tempat pemandian. Gadis itu sangat gembira, sudah lama sekali ia kehilangan sosok seorang ayah di dalam hidupnya. Kehadiran Alif mengobati rasa rindunya. Ia mulai menyukai Alif. Bahkan ia sudah memberi lampu hijau untuk hubungan mereka.


"Jadi besok kita akan menemui orang tua Laila, Lif?" tanya ayahnya.


"Iya Yah, Akila sudah mengizinkan aku menjadi ayahnya. Lebih cepat membicarakan tentang pernikahan lebih baik, aku sudah mantap memilih Laila sebagai yang terakhir dalam hidup ku," jawab Alif.


"Baiklah, ibu akan membicarakan dengan ibu mu nanti,"


"Jika ibu tidak bersedia, biar aku bersama Ayah saja yang kesana. Aku tidak mau ibu membuat keributan di sana,"


"Tenang saja, aku pasti akan menasehati ibu mu,"


☆☆☆


"Aduh... perut aku kok tiba-tiba sakit ya, padahal baru 5 bulanan,"


Rania memegangi perutnya yang terasa sakit, ia meringis. Napasnya sedikit sesak, namun menit kemudian rasa sakit itu memudar dan lalu menghilang.


"Astaga, kenapa tadi sakit sekali? Padahal saat kehamilan Alisa dan Bintang tidak pernah seperti ini,"


Rania merasa bingung dengan apa yang menimpanya barusan. Ia ingin memberi tahu suaminya namun takut akan membuatnya kuatir dan justru mengganggu pekerjaannya. Apalagi suaminya terlihat sedang sibuk akhir-akhir ini, bahkan kadang sering pulang larut malam.


"Aku cerita nanti saja, saat dia pulang,"


Rania mencoba berbaring, namun hatinya merasa gelisah. Entah apa yang terjadi hingga membuatnya seperti itu. Mungkin karena sedang hamil sehingga membuat emosinya menjadi tidak stabil.


"Kenapa aku kepikiran Mas Rangga terus ya?"


Rania mengusap pipi putranya yang sedang tertidur di sampingnya. Pikirannya melayang kepada suaminya, tidak biasanya ia cemas seperti ini.


"Sepertinya aku harus ke kantornya, untuk memastikan Mas Rangga baik-baik saja,"


Rania segera bersiap-siap. Ia berganti pakaian yang rapi lalu sedikit memoles wajahnya. Perutnya yang semakin besar justru semakin memancarkan aura kecantikannya.


"Mbak, titip Bintang ya. Aku mau ke kantor suami ku,"


"Baik, Bu,"


Rania segera meminta sopir untuk mengantarnya ke kantor Rangga.


☆☆☆


"Halo Anto, kamu di mana?" tanya Rangga.


"Aku di kantor, ini sedang menangani kasus baru. Memangnya kenapa?"


"Kamu tahu, sekarang Dona sedang ada di kantor ku. Aku sudah tidak mau merahasiakan ini lagi, aku akan memberi tahu semuanya,"

__ADS_1


"Sabar dulu Rangga, kamu bawa dia kesini saja. Kita bicara di sini, karena sekarang aku tidak bisa meninggalkan kantor,"


"Baiklah, aku akan membawanya kesana sekarang,"


Rangga memutus panggilan, ia kembali ke ruang kerjanya.


"Ayo kita pergi," ajak Rangga.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Dona senang.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Rangga.


"Aku akan pergi dulu, tolong handle semuanya sampai aku kembali ya,"


Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Belakangan ini Dona sering tiba-tiba muncul di kantornya, membuatnya merasa tidak nyaman bahkan harus menghindar secara sembunyi-sembunyi. Pekerjaannya menjadi terbengkalai karena Dona. Ia jadi sering lembur untuk mengerjakannya hingga larut malam.


"Aku tidak menyangka pak Rangga mendua, padahal bu Rania walaupun janda begitu sempurna dan juga baik," ucap salah seorang karyawannya.


"Tapi sepertinya pak Rangga tidak menyukai wanita itu. Wanitanya saja yang ganjen. Sudah tahu punya istri justru di pepet saja," sahut yang lain.


Baru saja mereka melanjutkan pekerjaannya, seseorang menyapa mereka.


"Selamat pagi semuanya,"


Rania tersenyum manis sekali, ia menyapa semua orang dengan ramah. Semua karyawan Rangga tercengang melihat kehadirannya. Hampir saja suaminya kepergok bersama wanita lain di kantor ini. Semuanya menjadi gugup, suasana berubah menegangkan.


Anita, wanita yang pernah ia cemburui mempersilahkannya dengan ramah.


"Terima kasih, apa pak Rangga sedang ada klien?" tanya Rania.


Para karyawan saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa. Jujur atau harus berbohong agar bos mereka tidak bertengkar.


"Ibu mau minum apa? Biar saya ambilkan?" Anita mencoba mengalihkan perhatian.


"Tidak perlu repot, aku hanya ingin bertemu suami ku sebentar Anita. Perasaan ku sedikit tidak nyaman, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," jawab Rania.


Anita makin merasa bersalah. Bagaimana mungkin ia tega membohongi orang sebaik Rania yang begitu peduli dengan keadaan bosnya itu.


"Ikut saya sebentar, Bu. Ada yang harus saya bicarakan,"


Anita menggandeng Rania ke ruangannya. Ia mengatakan semuanya kepada wanita itu.


☆☆☆


"Loh, ini kan kantornya Mas Anto? Untuk apa kita kesini, Mas?" tanya Dona.


"Masuk saja, nanti kamu juga tahu,"


Rangga masuk lebih dulu di ikuti Dona di belakangnya.

__ADS_1


"Wah kalian sudah datang, ayo duduk,"


Wanto mempersilahkan mereka, ia mengambilkan mereka minum agar lebih santai.


"Sebenarnya untuk apa sih kita kesini?"


Dona menatap Rangga penuh tanda tanya. Tapi pria itu hanya diam.


"Mas Anto, sebenarnya ada apa ini? Apa ada yang kalian rahasiakan dari ku?"


Dona beralih menatap saudaranya itu. Pria itu menghela napas dengan kasar.


"Apa kamu tidak ingat apa yang telah menimpa mu beberapa waktu yang lalu?" Anto balik menatap mata Dona.


"Tolong jangan bertanya hal itu lagi, aku sudah bisa melupakannya. Kita harus menghargai Mas Rangga yang sudah berhasil menghilangkan rasa trauma ku," jawab Dona.


"Jadi kamu ingat jika Rangga yang membantu mu keluar dari depresi?"


"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku ingat,"


Dona mulai terlihat kesal.


"Rangga itu hanya ingin membantu mu, tidak lebih Dona. Jadi jangan salah paham dengan kepeduliannya selama ini terhadap mu,"


"Maksud Mas Anto apa? To the point saja Mas, jangan terlalu berbelit,"


"Kamu tahu kan, jika Rangga adalah seorang advokat. Selama ini dia selalu membantu orang-orang yang mengalami depresi seperti diri mu. Aku tidak tega melihat mu seperti itu, bahkan psikiater sudah menyarankan untuk membawa mu ke rumah sakit jiwa waktu itu. Makanya aku minta tolong Rangga untuk membantu mu keluar dari rasa trauma,"


"Lalu apa masalahnya. Mas Rangga bisa menerima semua kekurangan ku. Dia tidak menjauhi ku walau ia tahu aku sudah tidak sempurna,"


Dona belum juga mengerti, atau lebih tepatnya ia menolak paham.


"Kamu salah paham Dona, aku hanya membantu mu. Aku tidak punya perasaan lebih terhadap mu," sahut Rangga.


Anti terlalu bertele-tele saat menjelaskan, itu membuat Rangga tidak sabar dan memperjelas maksudnya. Ia melihat Dona sudah betul-betul sembuh sehingga mereka bisa terus terang sekarang.


"Apa Mas Rangga serius? Apa karena aku sudah tidak sempurna makanya Mas tidak menyukai ku?"


Dona terlihat sedih, sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening.


"Bukan seperti itu, tapi aku memang tidak mungkin menyukai mu,"


Rangga ingin menjelaskan, namun tidak sanggup membuat wanita itu terluka.


"Lalu kenapa, Mas?" Dona mulai tidak sabar.


"Karena Rangga sudah mempunyai istri dan anak Dona," sahut Anto.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, penjelasan Anto membuat Dona begitu terguncang. Badannya lemas hingga jatuh terduduk di lantai. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan telah Ia dengar.

__ADS_1


__ADS_2