
Wanto tersenyum senang. Ia tidak menyangka temannya akan gerak cepat. Sepertinya idenya untuk mengenalkan mereka sangat tepat.
Laila menatap Alif dengan penuh arti. Ia tidak menyangka pria ini begitu berterus terang. Sejenak ia terpaku karena rasa terkejut.
"Dia ini teman kerja sekaligus sahabat ku, namanya Alif. Dia seorang duda beranak dua, tapi kedua anaknya ikut dengan mantan istrinya,"
Wanto menjelaskan panjang lebar tentang Alif. Tentang statusnya, pekerjaannya, dan tentang sebab perceraiannya dengan kedua istrinya. Tentu saja ia pro terhadap temannya itu. Wanto juga menceritakan niat baiknya untuk mengenalkan mereka berdua.
"Kalau hanya berkenalan aku pasti mau, Mas. Tapi untuk menikah aku harus pikir-pikir dulu. Aku baru bisa memutuskan setelah lebih mengenal Mas Alif," ucap Laila.
"Tidak masalah, aku juga tidak ingin buru-buru. Lagi pula kasus perceraian ku juga belum putusan. Aku juga senang ternyata kamu tidak menolak niat baik Wanto," balas Alif.
Setelah beberapa lama mengobrol mereka memutuskan untuk segera berpamitan. Alif dan Laila bertukar nomor telepon. Ada sedikit senyum tersungging dari bibir keduanya saat mereka saling berpandangan. Setidaknya hati Alif sekarang tidak lagi kosong. Membayangkan kebahagian Rania dan kedua anaknya bersama keluarga barunya membuat hatinya sakit.
"Aku hanya bisa mendekatkan kalian sejauh ini, sisanya kamu harus berusaha sendiri ya Lif. Dan ingat, Laila itu wanita baik-baik tidak sama dengan Desi jadi jangan berbuat terlalu jauh sebelum kalian menikah. Aku percaya dengan mu,"
Wanto berpesan kepada Alif sebelum ia pergi dengan motornya. Rumah mereka memang berbeda arah, jadi mereka berpisah di sana. Alif juga tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti saat bersama Desi.
☆☆☆
Keesokan harinya.
"Sayang, sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan. Pekerjaan ku sangat banyak sekali, jadi aku harus segera berangkat,"
Rangga mencium kening istrinya, lalu beralih mencium Alisa dan Bintang.
"Tunggu Mas, aku tahu kamu sangat sibuk sekali tapi kamu harus tetap sarapan. Aku sudah siapkan bekal untuk mu, karena ini akan membantu mu lebih fokus bekerja,"
Rania menyerahkan kotak bekal itu kepada Rangga, sementara pria itu tersenyum senang. Mempunyai Rania dalam hidupnya membuat hari-harinya lebih bahagia.
"Kok papa buru-buru sekali, Bu? Kasihan sampai tidak sempat sarapan,"
__ADS_1
Alisa memang sangat menyayangi Rangga, karena pria itu juga sangat sayang dan perduli terhadap mereka.
"Papa banyak pekerjaan Nak, tapi tenang saja ibu sudah membawakannya bekal kok," jawab Rania.
"Ternyata jadi orang kaya itu tidak mudah ya Bu. Selama ini aku melihat papa sangat bekerja keras walaupun dia sudah kaya. Pergi pagi pulang malam, sampai kadang tidak sempat sarapan seperti hari ini,"
Wajah Alisa terlihat sedih membayangkan kehidupan Rangga.
"Proses tidak akan mengkhianati hasil Sayang. Papa bisa seperti ini karena bekerja keras. Ibu juga dulu seperti itu, harus berpanas-panas di jalan, mengangkat karung dan kardus sendiri sebelum menikmati hasilnya sekarang. Jika ada yang menghina mu, jangan pernah berkecil hati. Jadikan itu cambuk untuk memotivasi mu agar semakin maju,"
Alisa menyimak dengan seksama penjelasan ibunya. Ia merasa beruntung di lahirkan dari seorang wanita cerdas seperti dirinya.
Terkadang banyak stigma negatif di masyarakat tentang seorang wanita yang berpendidikan tinggi tapi lebih memilih menjadi seorang ibu rumah tangga daripada bekerja kantoran. Mereka lupa jika hidup itu adalah pilihan, kondisi setiap orang juga pasti tidak sama. Kita tidak boleh menyamaratakan mereka tentang sebuah hal. Wanita adalah pendidik generasi bangsa yang sesungguhnya, karena merekalah yang memberikan pendidikan pertama untuk seorang anak dalam hidupnya. Jadi setidaknya pendidikan tinggi merupakan bekal mereka untuk mendidik anak menjadi baik, selain akhlak dan akidah tentunya.
☆☆☆
Dua hari kemudian.
Laila menatap dirinya di cermin, wajahnya ternyata sangat cantik dengan polesan sedikit make up. Usianya yang masih 32 tahun, menunjukkan kematangannya sebagai seorang wanita. Ia memakai pakaian terbaiknya saat ini. Selama dua tahun menjadi orang tua tunggal untuk Akila kadang membuatnya sedih, apalagi kala putrinya yang berusia 5 tahun itu mulai menanyakan tentang ayahnya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Laila segera bangkit untuk membukakan pintu. Alif telah berdiri di depan pintu, menatapnya dengan tatapan terpana. Wangi semerbak dari tubuh Alif menyenangkan indra penciumannya.
"Mau masuk dulu, atau langsung pergi Mas?" tanya Laila dengan wajah tertunduk malu.
"Kita langsung berangkat saja ya. Tidak enak dengan pandangan orang jika kita berdua saja di dalam rumah," balas Alif.
Laila terpana, ia tidak menyangka masih ada pria seperti Alif yang menghargainya sebagai seorang wanita. Mereka pun berboncengan ke rumah makan yang tidak terlalu jauh dengan rumah Laila.
__ADS_1
"Maaf ya Mas jika aku sedikit kaku. Aku tidak pernah dekat dengan seorang pria selain almarhum suami ku,"
Laila membuka percakapan saat mereka baru duduk di rumah makan itu. Laila memang gadis yang lugu, ia tidak pernah berbuat macam-macam selama menjanda. Yang menjadi fokusnya adalah mencari uang dengan pekerjaan halal untuk membahagiakan putri satu-satunya.
"Tenang saja Laila, kamu tidak sendiri. Pacar pertama ku adalah ibu dari anak-anak ku yang menemani ku selama 11 tahun. Dan wanita kedua adalah istri kedua ku yang Wanto ceritakan kemarin. Aku juga sedikit kaku jika berdekatan dengan wanita,"
Ternyata keduanya mempunyai banyak kesamaan, itu baru mereka ketahui setelah mengobrol tentang hidup masing-masing. Alif menyukai sifat Laila yang menurutnya mirip dengan Rania. Semoga saja perasaan yang ia rasakan bukan sekadar pelarian seperti saat bersama Desi waktu itu.
☆☆☆
Sore harinya.
"Sayang, maafkan aku ya hari ini sepertinya tidak bisa pulang tepat waktu. Aku harus mengurus kasus besar,"
Rangga menghubungi istrinya untuk memberi kabar.
"Iya Mas, aku mengerti. Tapi jangan terlalu lelah dan juga jangan lupa makan," ucap Rania.
"Iya Sayang, setelah ini aku akan makan. Kamu jangan menunggu ku, aku takut pekerjaan ini akan selesai larut malam,"
"Apa tidak bisa kamu selesaikan di rumah, Mas?"
Rania kuatir dengan kesehatan suaminya.
"Tidak bisa Sayang, aku harus bekerja bersama tim. Tidak mungkin aku bawa mereka ke rumah,"
"Baiklah, sampai ketemu nanti Mas,"
"Mas Rangga, ini kopinya aku taruh di sini ya. Semoga kamu menyukai kopi buatan ku,"
Rania mendengar suara genit seorang wanita yang sepertinya telah membuatkan kopi untuk suaminya sebelum telepon Rangga matikan.
__ADS_1
Perasaan Rania tidak nyaman, pikirannya melayang kepada suaminya. Ada sedikit cemburu di hatinya.
"Ya Allah Mas, aku harap kamu tidak berbohong. Aku harap kamu bisa menjaga hati mu untuk ku,"