
Jika Rania tengah berbahagia dengan Rangga, tidak begitu halnya dengan mantan suaminya. Belum ada sebulan menikah, pria itu sudah di buat pusing dengan kelakuan istrinya. Selain wanita itu memiliki nafsu yang tinggi dalam hubungan suami istri, ternyata dirinya juga sangat penuntut.
Alif kerap kali kesal karena istrinya meminta nafkah yang banyak. Desi jarang sekali memasak dan lebih sering membeli, ia hanya memasak nasi saya di rumah sedangkan untuk sayur dan lainnya ia akan membeli di warung. Padahal ia tidak ada kesibukan di rumah.
"Des, kamu tolong berhematlah sedikit. Aku ini hanya karyawan harian bukan karyawan tetap, jadi gaji ku tidak banyak," pinta Alif.
"Aduh Mas uang segitu saja kamu perhitungan, bagaimana jika aku minta ini dan itu," jawab Desi.
"Aku bukan perhitungan, tapi apa yang kita keluarkan paling tidak harus sesuai dengan yang kita hasilkan. Aku sudah sering lembur tapi tetap tidak cukup untuk mu,"
Alif menghela napas dengan kasar, Desi benar-benar tidak bisa mengatur keuangan. Berbeda jauh dengan mantan istrinya yang selalu bisa berhemat. Ia memberi Rania 500 sampai 800 ribu sebulan tapi wanita itu menerima dengan lapang dada. Kini belum sebulan ia sudah memberi Desi uang 1,2 juta tapi masih belum cukup, padahal mereka hanya bertiga. Belum lagi dirinya harus membayar uang kos setiap bulan dan kebutuhannya sendiri.
"Mas Alif kok jadi cerewet sih setelah menikah, aku jadi menyesal sekarang,"
Alif kesal sekali mendengar ucapan istrinya, seharusnya yang menyesal adalah dirinya bukan wanita itu.
"Kamu itu yang sopan kalau bicara dengan suami, aku sudah membanting tulang untuk mu justru begini perlakuan mu," teriak Alif.
"Lagian Mas juga yang membuat aku kesal," ucap Desi lirih.
"Sudahlah, aku lapar tolong siapkan makanan," titah Alif.
"Aku tidak sempat masak, akan aku belikan dulu. Mas mau makan apa?"
Alif bangkit lagi dan menggebrak meja karena kesal.
"Tidak sempat kamu bilang? Memangnya dari tadi apa yang kamu lakukan?"
Desi sedikit ketakutan saat pria itu membentaknya, namun tetap juga wanita itu menjawab.
"Ya bersih-bersih rumah," jawabnya.
"Memangnya bersih-bersih butuh berjam-jam? Sejak sekarang dan seterusnya kamu harus memasak. Aku akan menjatah uang yang aku beri mulai sekarang,"
Alif berlalu masuk ke dalam kamar. Kepalanya terasa pusing sekali memikirkan kelakuan Desi, apalagi ia belum makan sejak kemarin malam. Maksudnya untuk menghemat ia berencana makan di rumah, tapi ternyata justru istrinya tidak memasak. Sial sekali nasib yang menimpanya.
'Astaga rasanya aku tidak kuat, ternyata Rania memang wanita terbaik' batin Alif.
☆☆☆
Di tempat lain nun jauh di sana.
Rania sedang melihat anak-anaknya bermain di pinggir sungai di belakang rumah orang tuanya. Aliran airnya tidak deras sehingga tidak perlu kuatir terbawa arus, sungainya juga dangkal.
"Bu aku titip anak-anak dulu ya, aku mau ke atm sebentar. Aku bawa motor ayah saja ya," pamit Rania.
"Ya sudah hati-hati ya," pesan ibunya.
__ADS_1
Rania sedang mengeluarkan motor saat Rangga melihatnya.
"Mau kemana, Nia?" tanya Rangga.
"Mau ke atm sebentar,"
"Kalau begitu aku antar saja, taruh saja motornya. Kita bawa mobil saja,"
"Tapi dekat kok, Rangga,"
"Sudah masukkan saja, aku ambil kunci mobil dulu,"
Rania akhirnya memasukkan motor ayahnya kembali.
"Memangnya kamu kehabisan uang kok mau ke atm?" tanya Rangga.
"Bukan, rencana aku mau bantu merenovasi rumah orang tua ku. Kamu lihat sendiri kan keadaannya bagaimana, aku ingin menambah 2 kamar lagi di belakang. Agar jika anak-anaknya semua berkunjung bisa tidur di dalam kamar semua," jawab Rania.
Rangga semakin kagum kepada wanita itu, sepertinya dia memang wanita yang tepat untuk menjaga seluruh hartanya.
"Itu atm nya Rangga," tunjuk Rania.
Rangga segera memarkirkan mobilnya. Rania segera masuk ke dalam bilik atm.
"Hanya bisa mengambil 50 juta, mana cukup ini," ucap Rania.
"Kenapa, Nia?" tanya Rangga yang tiba-tiba sudah di sampingnya.
"Aku lupa atm ku cuma bisa mengambil maksimal 50 juta. Mungkin nanti aku transfer saja ke rekening saudara, karena ibu juga tidak punya atm. Hari ini juga bank libur kan,"
Rangga mengeluarkan kartu debet dari dalam dompetnya.
"Pakai ini saja, suruh pegang ibu. Isinya sih tidak banyak mungkin sekitar 200 jutaan, semoga saja cukup. Nanti pin nya aku catat biar tidak lupa," ucap Rangga.
"Jangan Rangga, biar aku beri ini saja nanti biar aku transfer lagi," tolak Rania.
"Nia, sebentar lagi kita akan menikah. Orang tua mu juga orang tua ku, ini jauh tidak berharga di banding jasa mereka telah membesarkan wanita sebaik diri mu untuk ku,"
"Tapi Rangga..."
Rangga menempelkan telunjuknya di bibir wanita itu.
"Jangan selalu menolak pemberian ku. Berikan uang 50 juta itu dan juga kartu ini. Kebahagian orang tua adalah pintu sukses seorang anak, benar begitu bukan,"
Rania ingin sekali rasanya memeluk pria ini jika tidak mengingat mereka masih bukan muhrim.
"Baiklah, terima kasih ya,"
__ADS_1
"Sama-sama, Rania Sayang,"
"Apa?"
"Bukankah bapak menyuruh kita belajar memanggil lebih mesra,"
Rangga membuat pipinya merona.
"Baiklah, Mas Rangga,"
"Apa? tidak dengar, coba ulangi lagi,"
Rangga begitu senang menggoda wanita pujaannya itu.
"Aku belum terbiasa, maaf ya jika terkadang masih lupa. Aku harap Mas Rangga bisa mengerti,"
"Hahaha..."
Rangga tidak dapat menahan tertawanya lagi.
☆☆☆
Sore harinya.
"Bu, Pak, kami pamit dulu ya. Ini ada uang 50 juta untuk pegangan dan di kartu ini ada 200 juta pemberian dari Mas Rangga untuk membantu merenovasi rumah ini. Pin nya sudah aku catat di dalam. Jika masih kurang ibu dan bapak bisa hubungi aku ya,"
Rania menyerahkan uang dan kartu pemberian Rangga.
"Astaga, apa tidak terlalu banyak Nia? Nak Rangga kenapa memberi banyak sekali, kami jadi tidak enak. Biarlah begini saja yang penting nyaman untuk tinggal,"
Orang tua Rania tidak percaya menerima uang sebanyak itu. Mereka menolaknya dengan halus karena tidak ingin merepotkan.
"Tidak bu, ini bukanlah apa-apa. Jasa ibu dan bapak yang telah membesarkan wanita sebaik dia tidak bisa di ganti dengan apapun,"
Rangga menyerahkan kembali uang dan kartu itu.
"Terima kasih sekali ya, semoga rejeki kalian selalu lancar dan barokah,"
"Amin,"
Semua mengamini doa tulus itu. Karena hari semakin sore mereka memutuskan untuk segera berangkat.
Ada kesedihan di setiap perpisahan, apalagi berpisah dengan kedua orang tua. Namun yang paling sedih adalah Alisa, kasih sayang orang tua Rania yang benar-benar tulus membuat gadis itu sangat merasa kehilangan.
"Aku akan sering berkunjung kesini dengan Om Rangga ya Nek, Nenek jangan sedih,"
Alisa mengusap air mata di wajah wanita yang mulai keriput di makan usia, sebelum dirinya benar-benar pulang.
__ADS_1