Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 43 Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rania bangun saat adzan subuh seperti biasanya, ternyata bu Sari pemilik rumah sudah bangun dan sedang memasak di dapur. Setelah menumpang shalat, Rania segera membantu wanita itu di dapur.


Beberapa saat kemudian ternyata Rangga juga bangun untuk mandi dan shalat. Bu Sari segera membuatkannya segelas teh hangat dan kopi untuk suaminya. Pukul 06.00 pagi suami bu Sari yang bernama pak Tohir mengantar Rangga ke rumah tukang service mobil, orang tersebut bersedia ikut ke rumah pak Tohir.


"Mbak, suaminya di panggil dulu biar sarapan. Kita makan sama-sama," ajak bu Sari.


Rania sedikit canggung dengan kata suami, tapi ia takut akan banyak menimbulkan pertanyaan jika menjelaskan kebenarannya. Jadi dia membiarkannya dan memilih menuruti kata bu Sari.


"Rangga, ayo sarapan dulu. Bu Sari sudah membuatkan kita sarapan," ajak Rania.


"Nia, harusnya kamu jangan panggil nama. Mereka menganggap kita adalah pasangan, harusnya kamu panggil sayang atau mas gitu dong. Jika tidak mereka akan curiga dan menyuruh kita menikah sungguhan karena semalam sudah tidur satu kamar," bisik Rangga.


"Astaga, kamu benar," ucap Rania.


Ia membayangkan kebohongan mereka ketahuan, lalu di paksa nikah siri oleh warga karena sudah tidur sekamar.


'Oh tidak, apa yang aku pikirkan' batin Rania.


"Ya sudah Mas Rangga sarapan dulu ya, aku mau lihat anak-anak dulu di kamar,"


Rania sengaja berucap dengan keras agar semua mendengar, supaya mereka tidak curiga. Rangga ingin tertawa karena dia berhasil mengerjai Rania. Ia senang wanita itu memanggilnya begitu, lebih berharap lagi jika ia memanggilnya sayang.


"Iya Sayang, aku tunggu di meja makan ya,"


Aduh, mereka sudah seperti artis film yang sedang berakting saja.


☆☆☆


Di tempat kerja Alif.


"Hei, jangan melamun saja dong. Yang sudah pergi jangan di pikirkan lagi, kamu harus terus melanjutkan hidup,"


Wanto menepuk pundak Alif yang terlihat sedang melamun. Ia tidak tega melihat temannya seperti tak punya semangat.


"Bagaimana lagi, kamu tahu sendiri aku dan Rania sudah 11 tahun lebih membina keluarga. Sangat sulit untuk melupakannya, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa," ucap Alif.


"Tapi kan mantan istri mu sudah tidak mungkin rujuk dengan mu, ya kamu harus segera cari pengganti. Apa tahan kamu tidak begituan selamanya,"


Ucapan Wanto memang benar, sudah lama sekali hasratnya tidak di salurkan. Itu kadang yang membuatnya merasa pusing dan lebih mudah emosi.


"Mungkin kamu benar, aku akan mencoba lagi dengan Desi," ucap Alif.


"Siapa itu Desi?" tanya Wanto.

__ADS_1


"Dia itu janda beranak satu, masih ada hubungan keluarga dengan ibu ku. Ibu ingin aku mendekati wanita itu," jelas Alif.


"Ya coba saja, siapa tahu berjodoh. Daripada kamu begini, prihatin aku melihat mu terpuruk terus,"


Alif segera mengambil ponselnya dan bermaksud menghubungi Desi.


Tut... tut...


"Halo, Mas Alif. Aku pikir sudah tidak mau menghubungi ku lagi," ucap Desi dengan nada manja.


"Bukan begitu, aku hanya sedikit sibuk saja. Nanti malam apa kamu ada acara?" tanya Alif.


"Tidak ada, paling hanya di rumah saja,"


"Kalau begitu nanti kita keluar ya, tapi berdua saja. Bisa tidak?"


"Ehm.. baiklah. Aku tunggu ya,"


Wanto tersenyum melihat temannya berhasil mengajak wanita itu keluar.


"Sebagai seorang pria, kamu harus agresif. Wanita tidak akan mendahului, mereka lebih suka pasrah. Semoga nanti malam sukses ya," ucap Wanto.


"Sukses apanya?" tanya Alif.


"Kan sudah lama tidak dapat jatah, hajar saja toh janda ini," jawab Wanto.


"Ya kan bisa tester dulu, kalau enak di lanjut," seloroh Wanto.


"Oh dasar Wanto sableng," umpat Alif.


Keduanya lalu tertawa. Mereka memang berteman baik walaupun berbeda karakter. Wanto sedikit urakan sedangkan Alif cenderung pendiam. Walaupun begitu mereka tak pernah bertengkar dan saling melengkapi.


☆☆☆


Di rumah pak Tohir.


Mobil Rangga sudah selesai di perbaiki. Anak-anak juga sudah bangun dan sarapan. Mereka akan segera kembali pulang.


"Pak, Bu, terima kasih sekali atas bantuannya. Tolong ini di terima sebagai ucapan terima kasih kami,"


Rangga memberikan amplop berisi uang kepada bu Sari.


"Tidak perli, kami ikhlas membantu mbak Rania dan keluarga,"


"Kita juga ikhlas kok Bu, tolong di terima agar istri saya tidak marah jika ibu sampai menolaknya,"

__ADS_1


Tadinya bu Sari tidak mau menerima namun karena Rangga terus memaksa, akhirnya ia menerimanya juga.


"Kami pamit dulu ya Pak, Bu, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Mereka melambaikan tangan kepada suami istri itu.


"Om, kapan-kapan kita ke rumah nenek lagi ya. Aku suka di sana, nenek dan kakek sangat baik," ucap Alisa di dalam perjalanan.


"Alisa Sayang, jangan begitu. Om Rangga itu sibuk, jadi tidak punya banyak waktu untuk pergi-pergi," balas Rania.


"Tidak masalah kok, kapan kalian mau kesana Om pasti antar. Bahkan jika kalian mau tinggal di sana juga boleh,"


Rangga berbicara sambil melirik ke arah Rania. Kini mata mereka beradu pandang, ada debaran halus di hati mereka.


"Rangga, berhenti membuat aku salah paham. Jangan pernah mempermainkan hati wanita," ucap Rania kesal.


Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Ia merasa heran dengan sikap Rangga, terkadang begitu perhatian namun di lain waktu sikapnya berubah biasa saja bahkan terkesan cuek.


"Alisa dan Bintang mau tidak punya ayah seperti Om?" tanya Rangga.


Rania langsung memandang pria itu, namun ia justru terkesan cuek dan justru terus berbicara dengan anaknya.


"Mau dong, Om Rangga kan baik dan perhatian. Ibu pasti juga mau," jawab Alisa.


"Alisa,"


Rania memasang wajah garangnya, membuat Alisa menunduk.


"Rangga, sudah aku bilang berhenti membuat ku salah paham. Kemarin orang tua mu berkata tentang pernikahan dan kamu bilang kamu tidak tahu tentang hal itu. Kenapa sekarang kamu bertanya hal yang tidak pantas kepada putri ku?"


Kesabaran Rania mulai habis. Rangga membuatnya sangat kesal.


"Kamu memang tidak peka, Rania. Maaf jika sudah membuat diri mu kesal," jawab Rangga.


"Apa maksud mu mengatakan aku tidak peka?" tanya Rania.


"Kamu pikir kenapa sampai sekarang aku masih sendiri? Apa kamu tidak sadar juga?"


Rangga menepikan kendaraannya, ia menatap manik Rania begitu lekat. Beruntung Bintang tertidur dan tidak terganggu dengan suara mereka.


"Ya mana aku tahu, kamu tidak pernah bercerita kepada ku selama ini. Kamu jangan berteka-teki, aku tidak paham Rangga," jawab Rania.


"Aku tidak pernah dekat dengan wanita, tidak menikah sampai saat ini. Apa kamu masih juga belum mengerti, jika hati ku masih selalu untuk mu. Aku tidak bisa melupakan diri mu, walaupun sudah puluhan tahun lamanya,"

__ADS_1


Akhirnya kata-kata yang selama ini hanya tertahan di hati mampu ia lontarkan juga, walau dengan sedikit kesal karena wanita yang ia cintai tidak peka akan perasaannya.


__ADS_2