Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 70 Malam Pertama


__ADS_3

Rania membuka pintu kamar, ia melihat Rangga telah tertidur sembari mendekap Bintang.


"Astaga aku lupa menyuruh mereka tidur bersama neneknya, semoga Rangga tidak merasa kecewa,"


Rania memakai krim setelah mandi, tidak lupa ia menyemprotkan wewangian ke badannya. Ia telah memindahkan kedua anaknya di kamar orang tuanya.


"Sayang, kamu sudah kembali?"


Rangga melihat istrinya dari kaca meja rias. Wanita itu tetap cantik walau tanpa riasan di wajahnya. Mereka saling melempar senyum.


"Anak-anak kemana, ini kan sudah malam?"


Rangga melihat kasur itu telah kosong, hanya menyisakan dirinya sendiri.


"Mereka tidur dengan ibu," jawab Rania.


"Kamu pengertian sekali sih. Tapi sebenarnya aku tidak masalah mereka tidur di sini malam ini, toh masih ada malam-malam berikutnya,"


Rangga memeluk istrinya dari belakang, aroma tubuhnya begitu membuatnya terlena.


"Yang benar, kalau begitu aku suruh mereka kesini lagi," goda Rania.


Ia pura-pura ingin melangkah keluar namun tangannya di tarik lagi oleh suaminya. Mata mereka saling beradu pandang. Perlahan namun pasti ia mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Berawal dari ciuman kecil berubah menjadi ******* yang memabukkan. Napas keduanya memburu, Rangga membawa istrinya ke kasur dan membaringkannya.


Ini merupakan kali pertama untuk Rangga, ia merasa sedikit gugup. Namun kobaran gairah sangat tergambar jelas di wajahnya. Bahkan naluri kejantanannya telah bangkit sejak tadi.


"Mas, bisakah kita memakai lampu tidur saja?" tanya Rania.


"Kenapa Sayang? Tubuh mu terlalu indah untuk kamu samarkan," jawab Rangga.


Wajah Rania merona, tersipu malu.


"Aku malu, Mas,"


Rangga menuruti permintaan istrinya, ia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Suasana menjadi lebih romantis saat ini.


"Apa kamu bahagia menikah dengan ku, Sayang?" tanya Rangga.


"Tentu saja, Mas,"


Rangga mencium kening istrinya penuh rasa sayang. Lalu turun menjelajahi setiap ruang di wajah Rania. Rania tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk mendesah tatkala suaminya mulai menelusuri seluruh bagian di lehernya.


"Akh... Mas,"


Rania melingkarkan tangannya di leher pria itu. Sambil terus mencium bibir istrinya tangannya membuka semua pakaian Rania satu persatu. Rania makin melayang ketika Rangga menyesap kedua gunung kembarnya dan menggigit kecil puncaknya membuat tubuhnya bergetar tiada henti mendapatkan kenikmatan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.


"Akh... Mas, aku sudah tidak tahan," ucap Rania dengan terengah-engah.


"Sabar Sayang, ini adalah malam pertama kita. Aku akan melakukannya pelan-pelan,"


Rangga membuka semua pakaiannya, terlihat jelas tonjolannya sudah begitu tegang. Rania tersipu melihatnya.


'Astaga, besar sekali' batin Rania.

__ADS_1


Rania menggigit bibirnya, membayangkan milik suaminya menghujam ke dalam miliknya.


'Ya ampun kepada aku begini' ia merutuki dirinya sendiri.


Gesekan antara kulit membuat libido keduanya makin membara.


"Akh..."


Rania memekik dan mencengkeram bahu suaminya dengan keras ketika pria itu berhasil menghujamkan senjatanya di antara pahanya. Rasanya begitu nikmat tiada tara. Keduanya mendesah, bermain dengan orang yang di cintai memang sangat nikmat.


"Sayang, enak sekali milik mu," bisik Rangga di telinga istrinya yang telah melayang ke surga.


Rangga memang mendapatkan seorang janda, namun itu tidak menurunkan semangatnya untuk bercinta. Justru ini sudah ia nantikan sekian lama, bercinta dengan Rania membuatnya tidak ingin berhenti.


"Akh..."


Mereka memekik bersamaan, cairan Rangga menyirami rahim istrinya bertubi-tubi. Hangat sekali.


"Terima kasih ya, Sayang,"


Rangga mencium kening istrinya. Mereka segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Rangga.


"Mau membersihkannya," ucap Rania.


"Jangan dulu, tunggulah sebentar,"


Rangga menarik tangan Rania dan kembali mendekap tubuh istrinya.


Rania tersenyum dan bergelung manja di dada bidang itu.


"Mas ingin punya anak berapa?"


"Sebanyak-banyaknya,"


"Apa? Tapi usia ku sudah tidak muda lagi Mas, aku takut tidak bisa mewujudkannya,"


Wajah Rania terlihat sedih, Rangga merasa bersalah melihatnya.


"Aku bercanda Sayang, aku memang mengharapkan anak dari mu. Tapi kita tidak akan terlalu memaksa, bukankah anak kita sudah dua sekarang,"


Rania menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Perasaan haru menyelusup di dalam dadanya. Tidak ada kata yang terucap, namun dekapannya di dada suaminya yang semakin dalam sudah menunjukkan betapa bersyukurnya ia memiliki pria itu.


☆☆☆


Rania terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ia masih sangat mengantuk sekali karena suaminya hampir tidak membuatnya tidur. Ia meminta jatahnya sepanjang malam. Ia bisa memakluminya karena ini benar-benar malam pertama bagi suaminya.


"Mas bangun, shalat dulu yuk,"


Rania mencium pipi suaminya dengan mesra.


"Sudah subuh ya? Kok cepat sekali?"

__ADS_1


Bukannya bangun pria itu justru menarik istrinya dalam dekapannya.


"Mas, aku sudah mandi,"


"Memangnya kenapa? Nanti bisa mandi lagi,"


Rangga mulai menciumi istrinya kembali, bau sabun di tubuhnya membuat kejantanannya bangkit kembali. Tangannya meremas kedua gunung kembar istrinya, memilin puncaknya dengan gemas.


"Mas, akh..."


"Berhenti please..."


Rangga menghentikan aksinya, ia menatap mata istrinya yang sedang meminta belas kasihan.


"Sekarang aku lepaskan, tapi nanti malam..."


Rangga mengerling nakal ke arah istrinya. Rania yang masih berusaha menstabilkan napasnya hanya bisa tersenyum menanggapi.


☆☆☆


Pagi ini kedua kakaknya berpamitan untuk pulang, masih banyak urusan yang sudah menunggu mereka.


"Sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian, semoga selalu bahagia sampai maut memisahkan," ucap Tiara.


"Terima kasih, jangan lupa datang nanti malam ya," balas Rangga.


"Tentu saja, kita pulang dulu ya,"


Mereka mengantarnya sampai depan rumah. Mereka juga segera bersiap-siap untuk kembali ke kota. Sebuah pesta mewah sudah di siapkan mertua Rania di sana.


"Bu, kami pamit dulu ya. Kami pasti akan sering berkunjung kemari,"


Rangga menyalami mertuanya.


"Iya Nak, titip Rania dan kedua cucu kami ya. Tolong lindungi mereka dan sayangi mereka,"


Rasa haru menyelimuti hati semua orang. Perpisahan selalu membawa kesedihan. Perpisahan selalu saja membuat kita rapuh. Apalagi meninggalkan orang tua di usia senjanya, itu merupakan keputusan yang sulit. Rania sudah mengajak mereka tinggal di kota, namun kedua orang tuanya menolak karena tidak ingin meninggalkan kampung halamannya.


"Bu, apa benar kita akan sering berkunjung ke rumah nenek?" tanya Alisa saat perjalanan pulang.


"Tentu saja Sayang, kita akan sering kesini. Kita juga akan sering bermain ke rumah nenek Rahmi," jawab Rangga.


"Hore... Aku senang, nenek Arum dan nenek Rahmi sangat baik. Aku sayang mereka semua," ucap Alisa.


"Jadi hanya mereka saja yang baik? Om apa tidak baik?"


Rangga berusaha merajuk walaupun tidak pantas dengan posturnya yang gagah.


"Tentu saja baik, Papa Rangga adalah yang terbaik," jawab Alisa mantap.


Rania dan Rangga beradu pandang, mereka sepertinya tidak salah dengar.


"Sayang, kamu panggil Om apa tadi?" tanya Rania memastikan.

__ADS_1


"Iya Bu, mulai sekarang aku akan memanggil Papa. Aku sayang Papa,"


Rangga sangat senang mendengarnya.


__ADS_2