
Satu bulan kemudian.
Rania mulai menikmati kehidupannya menjadi seorang janda, walaupun terkadang ia masih membutuhkan bantuan dari orang lain, namun ia sudah benar-benar tak melibatkan Alif lagi dalam kehidupannya.
Kerajaan bisnis Rania semakin banyak, sekarang mulai merambah ke kosmetik, skincare serta makanan. Semua ia percayakan untuk di kelola orang lain dan ia hanya mengontrolnya sesekali. Selebihnya ia hanya mengawasinya dari rumah. Alisa dan Bintang juga hampir tidak bertanya lagi tentang kehadiran ayahnya, karena Alif juga sudah tidak pernah datang menjenguk mereka. Tampaknya pria itu sudah bisa menerima kenyataan.
Tok... tok... tok...
"Rania.... buka pintunya,"
Rania yang sedang mengawasi berbagai bisnisnya lewat gadgetnya tersentak, ia masih mengenal suara khas yang menakutkan itu. Jelas sekali itu adalah suara mantan ibu mertuanya.
"Untuk apa ibunya Mas Alif kesini?"
Hatinya di liputi tanda tanya, ia segera membukakan pintu.
"Assalamualaikum, ibu silahkan masuk," ucap Rania sopan.
"Waalaikum salam," jawabnya ketus.
"Tumben ibu kesini, ada perlu apa ya?" tanya Rania.
"Aku cuma mau tanya, apa benar kamu yang memberi Nelly pinjaman uang untuk mengurus perceraiannya dengan Tedy?"
Rania mulai mengingat, memang mantan adik iparnya pernah ke rumahnya untuk meminjam uang padanya.
"Iya Bu, memang benar. Memangnya kenapa?"
"Harusnya kamu jangan berikan, Tedy itu walaupun sudah punya istri tapi tidak pernah lupa memberi nafkah Nelly. Bahkan dia juga memberi ku uang," jawab ibunya Alif.
"Maaf Bu, waktu itu aku hanya ingin membantu Nelly yang sedang kesusahan. Aku tidak ingin ikut campur urusannya lebih dalam," ucap Rania.
"Tapi dengan kamu meminjamkannya uang, berarti kamu sudah ikut campur. Jangan mentang-mentang kamu sudah banyak uang lalu bisa bertindak seenaknya ya,"
Rania yang tadinya tenang mulai tersulut emosi. Namun ia masih menahan diri.
"Ibu... untuk apa Ibu kesini?"
Nelly tiba-tiba datang memegangi ibunya.
"Ibu tadi mendengar jika kamu punya uang untuk mengurus perceraian itu dari pinjam kepada Rania, makanya ibu kesini," jawab ibunya.
"Ini bukan salah mbak Rania, untuk apa ibu mengaitkan masalah ku dengannya," ucap Nelly.
"Maaf ya, tolong jangan membuat keributan di rumah ku. Aku memberikan uang itu kepada Nelly ikhlas, dan tidak ada keinginan untuk ikut campur masalah apapun. Nelly tolong bawa ibu mu pergi dari sini," ucap Rania tegas.
"Iya, Mbak. Maaf ya sudah mengganggu Mbak, kami pamit dulu,"
__ADS_1
Nelly segera menarik tangan ibunya yang masih terus saja mengoceh. Rania tidak mengira niat tulusnya membantu Nelly akan berujung begini, ia akan lebih berhati-hati lagi untuk kedepannya.
☆☆☆
Beberapa hari kemudian.
Masa iddah Rania telah berlalu, namun Rangga belum juga menghubunginya untuk membicarakan tentang hubungan mereka yang sempat di bahas sebelumnya. Rania menganggap jika pria itu tidak serius dengan perkataannya waktu itu. Namun dia tidak merasa kecewa karena ia juga sadar diri.
"Bu, aku kangen sama Om Rangga. Sudah lama kita tidak pergi bersama," ucap Alisa.
"Mungkin dia sedang sibuk Sayang, Om Rangga kan seorang pengacara hebat. Kliennya pasti banyak jadi tidak sempat bertemu kita," jawab Rania.
"Apa boleh aku pinjam ponsel ibu untuk menghubunginya, sekali saja,"
Melihat putrinya sepertinya begitu berharap padanya, Rania pun mengizinkannya. Gadis kecil itu melonjak kegirangan. Ia segera menghubungi pria itu.
Tut... tut... tut...
Beberapa kali Alisa mencoba, namun tidak ada respon. Dengan wajah kecewa ia menyerahkan ponsel kembali kepada ibunya.
"Tuh benar kan, Om Rangga pasti sedang sibuk. Jika tidak pasti sudah di angkat," ucap Rania.
"Tidak biasanya Om Rangga seperti itu, mungkin dia sudah melupakan kita," balas Alisa.
Raut wajah kecewa tergambar jelas di sorot mata putrinya. Sejujurnya Rania pun merasa kecewa. Jauh di sudut hatinya ia juga merasakan kerinduan yang sangat akan kehadiran pria itu.
Tring... tring...
"Sayang, itu Om Rangga menelepon balik," ucap Rania.
Dengan penuh rasa bahagia Alisa menerima telepon itu.
"Halo, Om Rangga,"
"Halo juga Alisa Sayang, maaf ya tadi Om masih ada di ruang sidang,"
"Tidak apa-apa Om, justru Alisa yang minta maaf karena sudah mengganggu. Aku hanya rindu sama Om Rangga,"
"Sama Sayang, Om juga kangen. Mau main kesana masih belum sempat karena banyak pekerjaan. Om janji secepatnya akan mengajak kalian liburan lagi ya,"
"Benar Om? Janji ya?"
"Iya, Sayang. Sudah dulu ya, Om mau sidang lagi,"
Bukan hanya Alisa, Rania juga begitu senang hanya dengan mendengar suaranya. Sepertinya pria itu memang sangat sibuk.
☆☆☆
__ADS_1
Malam harinya.
Cahaya bintang tidak tampak, berganti mendung hitam yang bergelayut manja di langit. Rintik gerimis mulai turun membasahi bumi. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 19.00 tapi suasana sudah sangat sunyi. Orang-orang sudah sibuk di dalam rumahnya. Jalanan mulai lengang dari orang yang berlalu lalang. Hanya sesekali pedagang makanan tampak berkeliling.
Rania dan kedua anaknya sedang menonton tv. Mereka memanfaatkan momen ini untuk bercanda sembari menonton. Sayup-sayup terdengar suara deru mesin kendaraan di depan rumah.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, itu suara Om Rangga Bu,"
Alisa segera berlari ke arah pintu dengan wajah sumringah.
"Om Rangga, ayo masuk,"
Alisa menggandeng tangan pria itu dan mendudukkannya di kursi.
"Maaf ya, baru sempat berkunjung,"
Rangga mengusap rambut Alisa lalu mendudukkan Bintang di pangkuannya, sementara Rania ke dapur untuk membuatkannya minum.
"Nia, tidak perlu repot-repot. Aku ingin mengajak kalian keluar," ucap Rangga.
"Hore, jalan-jalan,"
Keduanya serempak bersorak gembira. Mereka segera berganti pakaian. Hanya butuh waktu 15 menit mereka sudah siap dengan penampilan seadanya.
"Kita mau kemana Om?" tanya Alisa saat di dalam mobil.
"Kita akan jalan-jalan ke mall," jawab Rangga.
"Rangga, maaf ya sudah merepotkan mu," ucap Rania.
"Kamu bilang apa sih, mereka sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri,"
Rania menatap pria itu yang tengah fokus memperhatikan ke arah jalan.
'Rangga, kenapa kamu membuat ku bingung,' batin Rania.
"Jangan memandangi ku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta dan tergila-gila kepada ku," ucap Rangga.
Rania ingin tertawa, namun ia juga merasa sebal kepadanya. Mereka segera turun, karena belum makan mereka memutuskan makan dulu di salah satu restoran.
"Bu, itu bukannya ayah ya? Sepertinya bersama wanita dan anak kecil yang waktu itu di kebun binatang ya?"
Mereka semua sontak menoleh ke arah yang di maksud Alisa. Ternyata benar itu memang mantan suaminya, pantas saja sudah tidak pernah menemui anak-anaknya karena sudah punya pengganti mereka.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Biarkan saja ya, kita masih bisa kan jalan-jalan tanpa ayah kalian," jawab Rania.
"Sabar ya Sayang, doakan semua lancar. Agar Om Rangga bisa segera menjadi ayah kalian," ucap Rangga serius.