
"Jadi semua ini bukan kecelakaan?"
Wanto melangkah masuk dengan tatapan tajam. Tadinya ia ingin menjenguk sepupunya yang baru saja keguguran itu. Ia sangat kuatir ketika Alif mengabarinya. Tidak menyangka akan tahu kenyataan pahit ini.
"Mas Wanto,"
"Wanto, kamu datang,"
Laila dan Alif terkejut melihat kedatangan Wanto.
"Kenapa kamu diam saja ibu mu membuat saudara ku terluka?"
Bukkk... bukkk...
Wanto memukul Alif sebelum akhirnya di lerai oleh Rangga dan pak Agus.
"Tenang dulu, kita harus meluruskan ini semua,"
Pak Agus sebagai orang paling tua berusaha membuat suasana lebih kondusif.
"Jujur, aku juga terkejut mendengar perkataan Laila yang di benarkan oleh Alisa. Sekarang coba ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya?" tanya pak Agus.
Alisa dan Laila saling pandang, sementara bu Nani semakin gemetaran. Tamatlah sudah riwayatnya jika sampai semua orang tahu kebenarannya.
"Biar aku saja yang cerita, kasihan Tante pasti masih sangat sedih,"
Semua menatap ke arah Alisa yang dari tadi menunduk.
"Waktu itu nenek menyuruh Tante cepat naik ke kamarnya. Namun saat Tante baru beberapa langkah, nenek menjegalnya sehingga Tante terjatuh membentur kulkas dan lantai," jelas Alisa.
"Astagfirullah, tega sekali,"
Rania tidak dapat menutupi keterkejutannya.
"Apa?"
Alif jatuh terduduk di lantai, hatinya masih menolak percaya karena ia masih merasa ibunya tidak akan tega membunuh calon bayinya.
Semua yang berada di dalam ruangan menatap ke arah bu Nani. Wanita itu hanya bisa terdiam karena merasa terpojok, tapi bukan karena merasa bersalah.
"Astagfirullah... apa benar itu, Bu?" tanya pak Agus.
"Aku hanya bercanda, aku tidak bermaksud membunuh anak mereka," jawab bu Nani, ketakutan.
Plakkk... plakkk...
"Tega kamu ya berbuat seperti itu kepada menantu mu. Dulu Rania, sekarang Laila pun kamu perlakukan sama. Apa sebenarnya mau mu, Bu? Apa kamu ingin anak kita hidup sendirian selamanya? Begitu mau mu?"
Pak Agus kalap, ia begitu emosi hingga menampar istrinya dua kali. Itu pun sebenarnya tidak cukup, kesalahannya tidak bisa di ampuni kali ini.
"Sebaiknya kamu kembali ke rumah lama mu Laila. Aku tidak akan membiarkan mu tinggal bersama wanita jahat sepertinya," ucap Wanto.
Laila mengangguk.
"Laila, maafkan aku yang sudah tidak mempercayai kata-kata mu,"
__ADS_1
Alif bersimpuh di hadapan istrinya. Namun Laila masih membisu.
"Maaf Pak, sebaiknya bawa ibu pulang ke rumah saja. Laila pasti akan terus bersedih jika melihat ibu tetap di sini," bisik Rania kepada pak Agus.
"Iya Nak, kamu benar,"
Pak Agus menarik tangan istrinya.
"Lif, masalah ibu mu nanti kita bicarakan di rumah. Aku akan membawanya pulang dulu agar Laila lebih tenang,"
Tanpa menunggu persetujuan pak Agus menyeret istrinya keluar.
"Maaf Laila, Mas Alif, kami turut berduka cita atas kejadian yang menimpa Laila. Kami doakan Laila cepat pulih. Kami tidak ingin mengganggu, jadi kami pamit dulu ya. Terima kasih sudah menjaga anak-anak,"
Rania menghampiri Laila dan menghiburnya. Sebenarnya ia masih ingin berbicara banyak dengan wanita itu, namun sepertinya mereka harus menyelesaikan masalah rumah tangga mereka terlebih dahulu.
☆☆☆
"Ibunya Alif itu kenapa jahat sekali ya? Aku yakin dulu kamu pasti sengsara punya mertua seperti dia,"
Rangga membuka pembicaraan saat dalam perjalanan pulang.
"Nenek itu memang suka sekali menghina orang, Pa. apalagi kepada ibu dan tante Laila. Padahal mereka tidak pernah jahat kepada nenek. Mungkin sudah sifatnya begitu ya," sahut Alisa.
"Tapi dia tidak menyakiti kamu dan juga Bintang kan, Sayang?" tanya Rangga.
Alisa menggeleng.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Rangga.
Alisa menagih janji mereka untuk bercerita. Rangga dan Rania sudah sepakat untuk tidak menceritakan yang sebenarnya, jadi mereka mengarang cerita yang masuk akal agar bisa di terima Alisa.
Michelle sedang menjalani proses hukuman sembari menunggu keputusan sidangnya. Keduanya memang telah memaafkan dirinya, namun hukum harus tetap berjalan.
☆☆☆
"Mas Anto, tolong antarkan aku ke rumah ku. Aku tidak ingin lagi tinggal di sana," pinta Laila.
"Laila, tolong jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintai mu, Laila,"
Alif mencoba mencegah istrinya.
"Aku ingin sendiri dulu, Mas. Kamu terlalu menganggap ibu mu seperti dewa sampai-sampai menutup mata dari kebenaran. Apa belum cukup aku telah kehilangan anak ku?"
Tatapan tajam istrinya menghujam jantungnya. Alif merasa sangat bersalah.
"Aku tahu aku salah, aku tidak menyangka ibu akan sekejam itu. Maafkan aku Laila..."
Laila segera berkemas di bantu oleh Wanto. Ia memang sengaja tidak memberi tahu keadaannya kepada orang tuanya agar mereka tidak kuatir. Ia juga menyuruh Wanto tidak bercerita kepada orang tuanya. Ia ingin menyendiri untuk sementara waktu.
☆☆☆
Malam harinya.
Alif sedang suntuk, ia berbaring di kamarnya. Belum hilang kesedihannya karena kehilangan calon bayinya, ia harus menerima kenyataan jika ibunya adalah penyebab anaknya meninggal. Bahkan sekarang istrinya memilih menghindar darinya. Lengkaplah sudah penderitaannya kini.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Lif, ibu ingin bicara dengan mu. Boleh ibu masuk?"
Ibunya mengetuk pintu kamarnya.
Alif menutup kepalanya dengan bantal. Ia enggan untuk bertemu wanita itu. Mendengar suaranya saja sudah membuatnya kesal. Terkadang ia tidak habis pikir dengan ibunya yang seolah tidak ingin melihatnya hidup bahagia. Selalu saja ada yang di perbuatnya untuk menyakiti hatinya.
Alif lelah sampai akhirnya ia tertidur dengan bantal masih di atas kepalanya.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Pagi-pagi, bukannya berangkat bekerja Alif justru sibuk berkemas. Ia memasukkan barang-barang istrinya dan juga miliknya ke koper dan tas.
"Yah, aku pinjam mobilnya," ucap Alif.
"Kamu mau kemana kok bawa koper dan tas?" tanya ayahnya.
"Ini barang-barang ku dan Laila, aku akan tinggal bersamanya," jawab Alif.
"Apa? Kamu ingin meninggalkan rumah ini?"
Bu Yani ikut menyahuti.
"Ibu minta maaf, tapi ibu mohon jangan pergi dari rumah ini,"
Bu Nani mencoba menghalangi langkah putranya.
"Jika aku tega, ibu harusnya sudah di penjara karena telah membunuh anak ku,"
Alif menunjuk ke arah ibunya, membuat wanita itu tertunduk tidak berani menatapnya.
"Aku sudah muak dengan sikap ibu. Seorang ibu harusnya membuat anaknya bahagia bukan malah menderita. Mungkin Ibu memang tidak memiliki hati seorang ibu,"
Alif segera berlalu dari sana. Orang tuanya hanya bisa melihatnya pergi. Ia berharap istrinya bisa memaafkan dan memulai dari awal kembali.
Beberapa saat kemudian.
Tok... tok... tok...
Alif mengetuk rumah Laila perlahan. Rumah itu tampak sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Apa Laila tinggal bersama orang tuanya ya?" gumam Alif.
Krekkk...
Baru saja akan melangkah pergi, Alif mendengar suara pintu di buka.
"Mas Alif, mau apa ke sini?" tanya Laila ketus.
"Aku minta maaf, Laila. Aku ingin tinggal bersama mu," jawab Alif.
"Sudah terlambat, Mas! Jika saja saat itu Mas mau menuruti keinginan ku untuk kembali ke rumah ini, pasti kita tidak akan sampai kehilangan bayi kita,"
__ADS_1
Air mata Laila luruh bersama rasa sakit yang ia rasakan. Ia sangat tidak rela kehilangan bayinya. Perasaannya hancur, ia belum bisa menerima kenyataan.