
Beberapa hari kemudian.
"Halo, assalamualaikum Nia,"
"Waalaikum salam, ada apa Mas?"
Walaupun masih ada perasaan jengkel di hati Rania karena kedatangan Alif yang tempo hari berusaha memprovokasinya untuk membenci Rangga, ia tetap mengangkat telepon dari mantan suaminya itu.
"Besok kan hari minggu, rencanya aku ingin mengajak anak-anak keluar. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Alif.
"Sebenarnya tidak masalah, hanya saja kita juga akan pergi ke rumah orang tua ku nanti sore. Kemungkinan baru kembali besok sorenya, jadi mungkin lain kali saja kamu mengajak mereka pergi," jawab Rania.
"Ke Rumah orang tua mu? Apa bersama pria itu?" tanya Alif.
"Pria siapa maksud mu, Mas? Rangga?" tanya Rania.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia. Apa kamu masih sering bertemu dengannya?
Rania tidak suka Alif terlalu ingin tahu tentang kehidupannya. Mereka sudah berpisah jadi seharusnya pria itu tidak perlu ikut campur lagi dengan urusannya. Dia adalah wanita dewasa yang sudah tahu mana yang baik dan buruk yang harus dia jalani.
"Tolong jangan terlalu ikut campur urusan ku Mas, kita sudah berpisah. Aku rasa istri mu tidak akan menyukainya jika sampai tahu hal ini," jawab Rania.
"Maksud ku baik Nia, aku hanya mengkuatirkan diri mu karena kamu ibu dari anak-anak ku," ucap Alif.
"Tapi aku sudah dewasa, aku bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Ya sudah, aku masih ada urusan. Lain kali saja Kamu telepon lagi, assalamualaikum,"
Panggilan di putus secara sepihak oleh Rania. Baru saja meletakkan ponselnya di nakas, benda itu berdering kembali.
"Aku kira Mas Alif lagi, ternyata Rangga,"
Setelah tahu siapa yang menghubunginya ia segera mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum, Rangga,"
"Waalaikum salam, nanti sore jadi kan kita ke rumah orang tua mu?" tanya Rangga.
"Iya jadi, memangnya kenapa? Apa kamu ada urusan? Kalau kamu tidak bisa aku bisa naik travel saja kok,"
"Bisa dong, aku hanya takut kamu membatalkannya. Momen ini sangat aku tunggu, karena aku ingin meminta diri mu kepada orang tua mu,"
"Apa? Aku kira kamu hanya ingin mengatakan perasaan mu saja kepada orang tua ku,"
__ADS_1
"Ini hanya simbolis saja jika aku memang serius terhadap mu. Untuk lamaran resminya aku pasti akan membawa kedua orang tua ku,"
"Semoga tanggapan kedua orang tua ku baik ya, amin,"
"Amin. Ya sudah sampai ketemu nanti ya, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
☆☆☆
Sore harinya.
"Bu, apa semua sudah di bawa? Pelampung ku sudah belum?"
Orang yang paling antusias dengan kepergian ini adalah Alisa. Karena masa kecilnya dulu ia habiskan di rumah neneknya karena dirinya harus bekerja membantu perekonomian suaminya kala itu, sehingga gadis itu terpaksa ia titipkan kepada orang tuanya. Kedekatannya dengan sang nenek dulu bahkan melebihi dari dirinya.
"Sudah Sayang, semua sudah ibu siapkan," jawab Rania.
"Oh baguslah, aku tidak sabar untuk bertemu nenek. Mereka pasti senang kita datang berkunjung," ucap Alisa.
"Iya, sebentar lagi Om Rangga pasti datang. Kamu ganti dulu baju ngaji mu itu," tidak Rania.
"Baik, Bu,"
"Nia, jika kita sudah menikah nanti maukah kamu dan anak-anak menjadikan diri ku imam dalam setiap sujud mu?" tanya Rangga.
"Tentu saja, apapun itu jika tentang kebaikan pasti akan aku ikuti," jawab Rania.
Setelah memasukkan semua barang, mereka pun segera berangkat.
"Nia, apa kamu dan anak-anak sudah makan?" tanya Rangga saat mobil mulai melaju.
"Malam belum Om, aku lapar," Alisa yang menjawab lebih dulu.
"Ya sudah Setelah ini kita makan dulu, kalian mau makan apa?" tanya Rangga.
"Bebek goreng Om," jawab Alisa.
"Kalau gitu kita mampir di food court saja, jadi banyak pilihan menunya,"
Rangga segera menepikan mobilnya saat melihat food court di pinggir jalan, biasanya orang menyebutnya pujasera di mana banyak sekali menu yang mereka sediakan.
__ADS_1
"Ayo makan yang banyak ya, perjalanan kita masih panjang," ucap Rangga.
Mereka makan menu kesukaan masing-masing. Saat hampir selesai bersantap sembari sesekali bercanda datang seseorang menghampiri mereka.
"Hei, kamu Rangga kan? Masih ingat aku tidak?" tanya pria itu.
Rangga mengamati pria itu dan mencoba mengingatnya.
"Astaga, kamu Baron ya? Teman kelas waktu SMA itu,"
Mereka akhirnya tertawa dan berpelukan untuk melepas kerinduan.
"Ini Rania kan, gadis cantik dan pintar saat kita sekolah dulu?"
Rania juga menyalami teman sekolahnya itu. Ia tidak menyangka akan bertemu di sini. Baron adalah teman sekelas mereka yang terkenal badung, namun begitu dia sebenarnya anak yang baik. Hanya saja karena keluarganya broken home jadi dia kurang perhatian sehingga menarik perhatian orang lain dengan kenakalannya.
"Jadi kalian masih bersama sampai sekarang ya? Aku tidak menyangka, aku kira waktu itu hanya cinta monyet saja. Anak kalian sudah dua rupanya, kapan-kapan kita adakan reunian dong biar bisa ketemu yang lain juga," ucap Baron.
Pria itu ternyata salah paham, namun tidak salah jika dia salah mengerti karena kenyataannya mereka sedang makan bersama layaknya sebuah keluarga sekarang.
"Kamu sendiri sudah menikah belum? Sudah punya anak berapa?" tanya Rangga mengalihkan perhatiannya.
"Sudah, tapi aku sudah jadi duda anak satu sekarang. Aku pengangguran karena berdampak corona kemarin, kalau ada lowongan pekerjaan bagi-bagi info dong," jelas Baron.
"Yaudah kamu coba datang saja ke kantor ku, nanti kita bisa bicara lagi. Ini kita mau lanjut jalan, mau ke rumah orang tua Rania Di desa,"
Rangga memberikan kartu namanya kepada pria itu. Pria itu sangat senang sekali, akhirnya mereka pun berpisah karena Rangga akan melanjutkan perjalanan.
"Rangga, kenapa tadi kamu tidak menjelaskan kepada Baron tentang hubungan kita?" tanya Rania.
"Untuk apa Rania, di sana tempat umum. Aku bisa menjelaskannya nanti saat dia datang ke kantor, toh aku memang sudah menganggap kalian adalah bagian dari diri ku," jawab Rangga.
Rania tahu jika Rangga melakukan itu untuk melindungi harga dirinya sebagai seorang janda, apalagi tadi di tempat umum. Pria itu pasti tidak ingin hatinya terluka.
"Terima kasih ya, Rangga," ucap Rania.
"Terima kasih untuk apa?" pria itu menoleh, melihat Rania sekilas.
"Terima kasih untuk semuanya," jawab Rania.
"Kamu aneh, aku tidak berbuat apa-apa tapi kamu mengucapkan terima kasih. Tidurlah sana, nanti kalau sampai aku bangunkan,"
__ADS_1
Rania masih menatap pria itu dengan rasa yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata. Rangga memang bukan pria yang suka mengobral kata manis, bahkan sikapnya terkadang cuek. Namun semua yang ia lakukan menunjukkan betapa ia mencintainya. Rangga mencintai dengan caranya sendiri.