
Alif akhirnya mengalah, ia meninggalkan mereka setelah berpamitan. Mereka menikmati hidangan mereka dalam diam.
"Bu, setelah makan kita pulang saja ya," pinta Alisa.
"Kenapa begitu, Sayang?" tanya Rania.
"Aku capek, Bu,"
Alisa berbohong, sebenarnya dia kasihan melihat ibunya yang sedang sedih. Ia saja rasanya tidak rela melihat ayahnya di gandeng wanita lain, apalagi ibunya yang masih istri syah ayahnya.
"Naik perahu..." rengek Bintang.
"Baiklah, kita naik perahu dulu setelah itu pulang ya," putus Rania.
Sebenarnya ia juga sudah malas, mood nya jadi jelek karena Alif. Tetapi sebagai seorang ibu dirinya harus tetap memenuhi janjinya kepada kedua anaknya.
Setelah menemani kedua anaknya naik perahu, Rania segera meninggalkan tempat itu. Ia sempat berpapasan dengan suaminya dan juga wanita itu, namun dirinya mengalihkan pandangannya ke arah lain dan terus melangkah tanpa menoleh lagi.
☆☆☆
Keesokan harinya. Di kediaman keluarga Alif.
"Bu, aku tidak mau di suruh mengantarkan Desi dan anaknya lagi. Karena kejadian itu Rania salah paham dan menuduh ku munafik," ucap Alif.
"Desi itu wanita baik, walaupun seorang janda beranak satu tapi dia adalah wanita karir yang sukses. Jika memang Rania sudah tidak ingin kembali, untuk apa kamu mengejarnya lagi. Tidak ada salahnya kamu membuka hati untuk Desi," balas ibunya.
"Tapi aku mencintai Rania, Bu. Tidak mudah melupakan dia begitu saja, apalagi kami sudah mempunyai anak,"
Alif tetap kukuh dengan pendiriannya, walaupun ia sendiri tidak begitu yakin bisa kembali kepada istrinya namun ia akan tetap berusaha sampai titik darah penghabisan.
☆☆☆
Dua bulan kemudian.
Saat ketok palu hakim menggema di seluruh ruang sidang, tangis Alif dan Rania seketika pecah. Setelah kurang lebih 5 bulan menjalani proses perceraian, akhirnya sidang putusan telah selesai di gelar. Mereka sudah resmi bercerai, keduanya bukan suami istri lagi.
Alif menangis karena segala daya upaya yang telah ia lakukan untuk mempertahankan pernikahannya tidak membuahkan hasil. Kini ia harus benar-benar merelakan Rania pergi. Begitu berat baginya, hasil sidang membuatnya merasa kecewa.
Kebalikan dengan Alif, Rania menangis karena rasa haru. Setelah perjuangannya selama ini akhirnya ia bisa lepas dari bayang-bayang suami dan keluarganya yang selama ini membuat hidupnya menderita. Apalagi hak asuh kedua anak mereka jatuh ke tangannya, tidak ada yang paling membahagiakan dirinya selain dua keputusan itu. Akhirnya ia bisa hidup dengan tenang bersama kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Selamat ya Nia, sekarang kamu sudah resmi berpisah dengan Alif," ucap Rangga.
"Terima kasih Rangga. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi janda, namun keadaan yang memaksa ku mengambil keputusan itu," balas Rania.
"Aku tahu, aku juga bisa mengerti perasaan mu," ucap Rangga.
"Sekarang kamu bisa tersenyum lega Nia, gugatan mu telah di kabulkan hakim. Semoga kamu tidak akan pernah menyesal telah memutuskan hal itu,"
Alif mendekati mantan istrinya itu, ada rasa perih menggores hatinya tatkala harus menyadari wanita ini sudah bukan miliknya lagi.
"Insyallah aku tidak akan menyesal Mas. Walaupun kita sudah resmi bercerai, kita masih bisa membesarkan anak kita bersama. Kita bertemu dengan baik maka aku harap berpisah juga secara baik," ucap Rania.
"Sekarang kamu bisa cari pengganti ku, dan aku harap dia bisa jauh lebih baik dari ku," balas Alif.
Alif menatap Rania dan Rangga bergantian, entah apa maksudnya. Mungkin dia merasa kedua orang itu memiliki hubungan.
"Maaf Mas, aku bukan diri mu yang dengan mudah mendua. Bahkan kamu berani menggandeng wanita lain saat kita masih sah menjadi suami istri," ucap Rania kesal.
"Nia, aku sudah menjelaskannya waktu itu. Ibu yang memaksa ku..."
"Sudah Mas, saat ini itu bukan urusan ku lagi. Aku tidak ingin ikut campur tentang kehidupan mu. Sekarang kamu bebas memilih siapapun dalam hidup mu,"
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Bagaimana keputusannya, Lif? Kalian sudah resmi bercerai kan? Lalu bagaimana hak asuh anak? Kamu tidak minta harta gono gini?"
Baru saja tiba di rumah, ibunya sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Ia menghela napas dengan sedikit kasar sembari membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Di tanya kok malah diam sih?" tanya ibunya sedikit kesal.
"Ibu, aku baru saja sampai. Biarkan aku istirahat dulu, kepala ku pusing rasanya," jawab Alif kesal.
"Ibu tuh sudah tidak sabar ingin mendengar ceritanya,"
"Kenapa ibu tidak ikut saja tadi kalau begitu,"
"Aku malas bertemu dengan Rania, aku juga trauma berurusan dengan hukum,"
__ADS_1
Alif tidak menghiraukan ucapan ibunya, ia memejamkan mata karena kepalanya semakin pusing.
"Lif, di tanya kok malah tidur sih," hardik ibunya.
"Astaga Bu, buat orang jantungan saja,"
Alif langsung bangkit dari tidurnya karena terkejut, mau tak mau ia kembali duduk dan harus menceritakan hasil sidang segera agar ibunya berhenti mengganggunya.
"Aku sudah resmi bercerai dengan Rania, hak asuh jatuh ke tangannya. Tidak ada harta gono gini karena aku tidak pernah memberinya apa-apa, motornya saja ia beli sendiri. Sekarang ibu sudah dengar semuanya, tolong jangan ganggu aku lagi,"
Alif kembali berbaring dan memejamkan matanya, ia stress rasanya. Entah kapan dirinya bisa melupakan Rania, wanita yang selama ini selalu menemani hari-harinya.
"Kamu bodoh sekali sih Lif, harta yang di peroleh sebelum kalian bercerai harusnya bisa di bagi dua. Kamu berhak mendapatkan itu semua, harusnya kamu menuntut hal itu," ibunya masih terus mengoceh.
"Aduh, sudahlah Bu jangan membahas tentang harta lagi. Aku cukup malu dengan fakta tuduhan tidak memberikan nafkah yang layak selama ini, mau di taruh di mana wajah ku jika justru menuntut harta yang Rania peroleh sendiri," ucap Alif kesal.
Pria itu bangkit dan naik ke lantai dua, ia menutup pintu kamarnya dengan keras karena merasa kesal dengan ibunya yang berhasil membuatnya semakin geram.
"Semua ini salah ibu, jika saja ibu ku tidak jahat kepada Rania, tidak mungkin aku dan Rania bercerai," ucap Alif.
Tangannya memukul tembok karena kesal, sedikit darah segar mengalir dari tangannya.
"Lif, ibu minta maaf. Tolong buka pintunya," pinta ibunya.
"Mau apa lagi sih, Bu?"
Alif berteriak kepada wanita itu. Hatinya sedang tidak nyaman karena belum bisa menerima keputusan tadi, tapi ibunya makin membuatnya kesal.
"Ibu hanya ingin bicara sebentar saja," ucap ibunya.
"Aku sedang ingin sendiri, tolong pergi dari sini Bu,"
Alif memegangi kepalanya yang makin berputar.
"Tapi Lif...."
"Pergi..."
Pyarrr...
__ADS_1
Sebuah pigura foto ia lempar ke lantai.