
Acara di sekolah Alisa berjalan lancar. Rangga dan Rania berhasil memenangkan lomba yang di adakan berpasangan, membuat Alisa merasa bangga dan terharu.
"Terima kasih ya Om, karena ada Om Rangga ibu bisa menang lomba,"
Alisa merangkul keduanya dengan rasa bahagia.
"Itu karena ibu yang jago Sayang, berterima kasihlah kepada ibu," ucap Rangga.
"Ibu memang hebat, terima kasih Alisa sayang ibu," ucap Alisa.
"Jadi hanya sayang sama ibu nih?"
Rangga menggoda Alisa, ia pura-pura2 sedang merajuk.
"Tentu saja juga sayang Om Rangga dan juga Bintang," jawab Alisa.
Kebahagian kita yang menciptakan, bukan orang lain yang memberikan. Semuanya bisa tercipta dari hal-hal sederhana yang mungkin tidak terpikir oleh orang lain. Parameter bahagia bagi setiap orang pasti berbeda, jadi sudah sepantasnya kita bisa menghargai satu sama lain.
☆☆☆
Dua hari kemudian.
Beberapa hari hidup terasa tenang bagi Alif. Namun hari ini Desi mulai membuat ulah, dengan terang-terangan ia mengajak Alif melakukan hubungan suami istri lagi. Siapa yang tidak mau di ajak melakukan enak-enak? Namun ia takut dengan dosa jadi dia menolak. Namun wanita itu justru mengancam akan mengatakan perbuatan mereka kepada orang tua Alif.
"Des, tunggulah sampai kita benar-benar resmi menikah. Aku takut dosa, hidup kita akan sengsara jika melakukan zina," ucap Alif.
"Tapi aku sudah tidak tahan Mas, aku tahu kamu pasti juga ingin kan? Ayo lah Mas, aku yang bayar hotelnya. Kamu hanya tinggal menikmati, aku akan membuat mu senang," rayu Desi.
"Tapi Des, aku tidak ingin membuat kesalahan lagi. Cukup kemarin saja, aku sudah begitu menyesal. Tolong jangan paksa aku lagi,"
Desi kesal mendapat penolakan dari pria yang ia cintai.
"Aku akan mengatakan perbuatan kita kepada orang tua kita berdua, agar kita segera di nikahan," ancam Nelly.
"Apa kamu sudah gila? Apa kamu tidak malu jika sampai orang tua kita tahu?" tanya Alif.
"Biar saja, mereka pasti mengerti. Toh kita sama-sama kesepian, jadi pasti di maklumi," jawab Desi.
Apa yang akan di katakan orang tua mereka jika sampai tahu mereka sudah melangkah terlalu jauh?
__ADS_1
'Bisa hancur reputasi ku sebagai pria baik-baik jika sampai Desi bercerita, biarlah aku turuti sekali lagi kemauannya,' batin Alif.
"Baiklah akan aku turuti, tapi benar kamu yang bayar ya," ucap Alif.
Desi sangat gembira, wanita ini benar-benar penggoda. Ia mampu menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya. Entah bagaimana hidup Alif jika sampai mereka menikah nanti.
☆☆☆
Sore harinya.
Alif telah siap memakai baju rapi. Semenjak bersama Desi ia lebih merawat diri, apalagi ia tahu akhir pertemuan mereka akan berada di atas kasur. Ia menyemprotkan sedikit parfum di tubuhnya. Kali ini dia menyiapkan pengaman, ia takut Desi akan menjebaknya dengan sebuah kehamilan.
Belum ada cinta di hatinya untuk wanita itu. Yang ada hanya nafsu yang tidak seharusnya di salurkan tanpa adanya ikatan pernikahan.
"Mas mau ketemu mbak Desi? Hati-hati Mas, jangan sampai menyesal nanti,"
Alif tidak mengerti apa maksud ucapan adiknya itu.
"Apa maksud mu, Nel?" tanya Alif.
"Tidak ada wanita sebaik mbak Rania. Hati-hati jika dekat dengan wanita, jangan sampai setelah jauh melangkah justru rasa sesal yang di dapat. Aku berdoa Mas bisa bahagia, jangan seperti diri ku," jawab Nelly.
"Aku tahu Rania yang terbaik, tapi apa gunanya masih memikirkannya jika kenyataannya sudah tidak bisa aku miliki. Aku akan mencoba menerima Desi apa adanya. Terima kasih atas doa dan perhatiannya, aku harap kamu juga segera menemukan kebahagian," ucap Alif.
Nelly tersenyum getir, kini wanita itu tidak mengharapkan kehadiran seorang pria lagi dalam hidupnya. Ia takut terluka kembali.
☆☆☆
Di tempat lain di sudut kota yang sama.
Nelly sudah lebih dulu sampai di hotel, ia berdandan sedemikian rupa agar tidak mengecewakan pria yang di cintainya. Ia bahkan telah menyiapkan lingerie untuk di pakainya saat bertempur. Ia benar-benar ingin menggoda iman Alif.
"Des, aku sudah sampai hotel," ucap Alif di telepon.
"Mas masuk saja, aku di kamar 102. Aku sudah menunggu mu, Mas," jawab Desi dengan manja.
Alif hanya bisa beristigfar di dalam hati, sekali lagi ia akan mengulang kesalahan yang sama. Manusia memang sering berperilaku munafik.
Sesungguhnya apa yang di larang Allah itu sangat mahal harganya dan pedih azabnya. Namun begitu, manusia masih terus berbondong-bondong mengikutinya. Dan sesungguhnya yang mengalirkan pahala itu mudah amalannya, namun mengapa begitu sedikit pengikutnya.
__ADS_1
Dengan hati berdebar Alif mendekati kamar yang di maksud. Seolah merasakan kehadirannya, Desi langsung membuka pintu tepat saat dirinya berada di depan pintu. Wanita itu segera menarik tangannya yang terlihat ragu untuk masuk.
"Desi, pakaian mu..."
"Kenapa? Apa Mas suka?"
Desi mulai bergerilya di tubuh pria itu. Ia tak ubahnya seorang pel*c*r yang menggoda mangsanya.
"Iya, tapi..."
Desi membungkam mulut pria itu dengan bibirnya, ia bergerak dengan sangat berpengalaman. Ia tersenyum ketika berhasil membuat pusaka Alif tegang. Wanita itu meliuk-liuk di hadapan Alif, sembari terus memberi rangsangan yang bertubi ke tubuh pria itu.
"Akh... Des, aku sudah tidak tahan,"
Napas mereka saling memburu, mereka telah beralih ke atas kasur. Desi selalu mendominasi permainan seperti biasanya.
"Sabar Mas, aku masih ingin membuat mu tahu kemampuan ku," jawab Desi.
"Kamu memang nakal," ucap Alif.
Nafsu mereka kian menggelora, peluh menutup seluruh tubuh mereka yang sedang melayang di dera rasa nikmat yang tiada tara.
"Tunggu Des, pakai pengaman dulu ya,"
Alif mengambil k*nd*m yang telah ia persiapkan.
"Kok pakai itu Mas, nanti tidak terasa lo. Lebih enak langsung saja," balas Desi.
"Tapi Des, aku tidak ingin kamu..."
"Aku tidak akan hamil Mas, sudah ku bilang aku minum pil,"
"Aku tidak mau lanjut jika tidak pakai pengaman," ancam Alif.
Mereka kukuh dengan pendirian masing-masing. Alif takut Desi akan menjebaknya. Karena Alif kukuh, Desi merampas k*nd*m itu dan membuangnya sembarangan. Ia mencium bibir pria itu dengan sangat rakus, saat lengah ia menenggelamkan barang Alif sepenuhnya di dalam miliknya.
"Des..."
Alif tak mampu meneruskan kalimatnya, ia pasrah saat Desi berg*y*ng dengan liar di atas tubuhnya. Hatinya menolak namun tubuhnya justru menginginkan lebih. Mereka terus melakukan penyatuan hingga sama-sama mencapai pelepasan.
__ADS_1