Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 63 Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rania sedang sibuk mengisi seminar lagi, kali ini ia di undang menjadi pembicara untuk tema "Sukses tidak mengenal usia". Walaupun untuk menjadi pembicara tidak begitu banyak bayarannya daripada dari hasil bisnisnya, namun ia merasa senang jika wanita-wanita di luar sana terinspirasi dari kisahnya untuk menjadi sukses juga.


Seperti biasa jika sedang ada acara, ia akan menitipkan kedua anaknya di toko sembakonya yang telah ia modifikasi dengan menambahkan kasur lantai dan televisi. Mbak Marni menjaga mereka dengan baik, jadi Rania pasti memberinya bonus setiap pulang dari acara.


"Apa anak-anak rewel hari ini, Mbak?" tanya Rania.


"Mana pernah sih mereka rewel Nia, apalagi kamu kan perginya cuma 2 sampai 3 jam saja. Mereka sudah makan, sekarang tertidur karena ngantuk,"


Rania melihat anaknya yang sedang terlelap tidur, mbak Marni memang orang yang dapat ia andalkan untuk mengurus semua hal. Sebenarnya dia bisa saja mencari pembantu atau menitipkan anaknya di daycare, hanya saja ia masih belum percaya seperti halnya terhadap mbak Marni.


"Kamu tinggal pulang saja Nia, nanti kalau bangun biar aku antarkan kesana. Kamu pasti capek kan,"


Mbak Marni memang sangat perhatian, ia sudah seperti saudara baginya.


"Terima kasih ya Mbak, ini ada sedikit tambahan,"


Ia memberikan amplop kepada mbak Marni.


"Ya ampun, makasih ya Nia. Semoga rezekinya terus melimpah,"


"Amin, aku pulang dulu ya Mbak. Assalamualaikum,"


Rania memang wanita sederhana, ia masih setia menggunakan motornya walaupun dia bisa membeli mobil dengan uangnya yang melimpah. Menurutnya untuk saat ini dirinya masih belum perlu mobil, apalagi ada Rangga yang selalu saja mengantarnya jika ingin bepergian jauh.


Baru saja merebahkan dirinya di atas kasur ponselnya berbunyi.


"Assalamualaikum, Mas Rangga," ucapnya sembari tersenyum.


"Waalaikum salam, Sayang. Apa sudah pulang dari seminarnya?" tanya Rangga.


"Sudah, ini baru saja sampai rumah. Anak-anak ketiduran di ruko jadi aku pulang duluan," jawab Nia.


"Jangan terlalu banyak menerima pekerjaan, kasihan anak-anak nanti,"


"Iya, aku mengerti kok Mas,"


"Kalau sudah menikah nanti cukup bisnis dari rumah saja ya, yang penting anak-anak tidak kekurangan kasih sayang. Insyaallah untuk masalah nafkah aku masih bisa menghidupi kalian bertiga,"


Rania senang ternyata Rangga tidak melarangnya bekerja, walaupun pria itu lebih mengutamakan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Baginya pria sepertinya memiliki tanggung jawab yang tidak di miliki mantan suaminya.


"Iya, aku mengerti Mas. Kamu dan anak-anak akan menjadi prioritas ku nantinya,"

__ADS_1


"Syukurlah, bukannya aku tidak ingin kamu lebih sukses dari aku. Hanya saja mencari nafkah adalah tugas pria, jika kamu bekerja untuk sekedar hobi atau agar tidak bosan aku tidak masalah. Oh iya, nanti sore aku jemput ya. Ada makan malam keluarga besar di rumah papa khusus untuk mengenalkan kamu dan anak-anak kepada anggota keluarga yang lain,"


Rania terkesima, ada rasa takut yang hadir di hatinya. Ia takut menerima hinaan karena statusnya sebagai seorang janda.


"Apa harus seperti itu, Mas? Aku takut mereka tidak bisa menerima ku,"


Rania jujur tentang perasaannya.


"Tenang saja, aku akan selalu bersama mu. Tidak akan aku biarkan seorang pun menghina diri mu, jadi siap-siap lah nanti. Kita langsung pulang kok jadi besok Alisa masih bisa sekolah,"


☆☆☆


Sore harinya.


"Alisa, apa Ibu sudah cantik?"


Rania sudah menanyakan hal ini berulang kali kepada putrinya. Ia sudah beberapa kali ganti baju namun merasa belum ada yang pas.


"Ibu... Ibu itu pakai apa saja tetap cantik, karena kecantikannya terpancar dari hati," jawab Alisa.


"Aduh, manis sekali ucapan putri ibu ini. Jadi, ibu lebih bagus pakai yang mana?"


Alisa menepuk jidatnya sendiri, ia gemas melihat tingkah laku ibunya.


"Bu, apa orang jatuh cinta itu seperti ini?"


"Ya seperti ibu ini, selalu ingin tampil baik di depan orang yang di cintai,"


Entah darimana Alisa belajar tentang hal ini, sepertinya melihat dari tayangan sinetron yang kadang mereka lihat.


"Nanti Alisa akan tahu sendiri jika sudah dewasa," jawab Rania.


Tin... tin...


"Om Rangga sudah datang,"


Kedua anaknya berlari menyambut kedatangan Rangga.


"Astaga, anak-anak Om sudah pada cantik dan tampan," puji Rangga sembari memeluk keduanya.


"Ada yang lebih memukau, sedang ada di kamar Om," sahut Alisa.


"Benarkah?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Iya, pilih bajunya saja sudah satu jam sendiri. Belum dandan dan lain sebagainya," jawab Alisa.


Rania mendengar ucapan putrinya, ia merasa malu karena anaknya terlalu jujur.


"Alisa..."


Rania keluar menatap putrinya yang justru tersenyum. Sedangkan pria itu terpana, ternyata Alisa tidak berbohong. Pujaan hatinya sangat cantik dan anggun.


"Rania Sayang, kamu benar-benar luar biasa," kata pria itu tidak berkedip menatap keindahan di depannya.


☆☆☆


"Wah ini yang di tunggu-tunggu baru datang, ayo masuk Nak,"


Ternyata keluarga Rangga memang keluarga besar. Ada sekitar 50 orang yang hadir di sana. Makan malam di adakan di out door, suasanya begitu tenang dan romantis.


"Ini dia calon menantu kami, namanya Rania. Dia adalah seorang pengusaha sukses. Sedangkan gadis cantik dan pria tampan ini adalah anaknya,"


Papa Rangga mengenalkannya kepada seluruh anggota keluarga. Mereka juga mengatakan jika akan melamarnya minggu depan.


"Wah aku kira masih gadis, karena kelihatan awet muda," puji salah seorang dari mereka.


"Iya, tidak salah Rangga menunggu lama. Pilihannya memang luar biasa," sahut yang lainnya.


"Jangan lupa kabari jika menikah lo, Rangga," ucap keluarga lainnya.


Ternyata ketakutannya tidak terbukti, keluarga Rangga sangat menghargainya. Kedua anaknya juga senang karena mereka bermain dengan keponakan-keponakan Rangga yang juga baik.


"Mas... Keluarga mu begitu baik, sama seperti diri mu," ucap Rania.


"Kan sudah aku bilang, kamu tidak perlu kuatir. Aku akan menjaga mu lebih dari nyawa ku," balas Rangga.


"Mas, kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sering gombal sih. Padahal dulu cueknya minta ampun, sampai aku merasa jika aku terlalu percaya diri menganggap kamu memiliki perasaan pada ku,"


Rangga tertawa lebar, sebenarnya dia memang bukan orang yang romantis. Tapi semenjak bersama Rania mendadak dia menjadi puitis sudah mengalahkan Chairil Anwar saja.


"Itu karena diri mu, tidak ada kejelekan yang bisa aku lihat untuk mencela mu,"


"Tuh kan, modus sekali,"


Keduanya tertawa lepas, mereka merasa sangat bahagia.


"Tidak menyangka ya Ma, penantian Rangga akan segera berakhir. Memang jodoh itu rahasia Allah," ucap ayah Rangga.

__ADS_1


"Iya Pa, aku bisa merasakan jika Rangga begitu bahagia bisa bersama Rania. Ternyata Rangga seperti Papa, jodohnya dengan janda. Bedanya dulu aku belum punya anak, sedangkan Rania sudah punya dua anak,"


"Sepertinya memang janda lebih menggoda, Ma," goda suaminya.


__ADS_2