Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 98 Isinya Mengerikan


__ADS_3

Rania berlari sembari membawa Naya.


"Ada apa?" tanyanya dari atas


"Mbak, lihatlah itu," Laila menunjuk ke arah bawah tangga dengan muka pucat karena ketakutan.


Rania perlahan menuruni tangga.


"Astaga, ulah siapa ini?" Rania terkejut sampai nyaris terjatuh karena shock.


"Mbak, cepat panggilkan security," titah Rania.


Laila menghampiri Rania dan merangkulnya.


"Mungkin ada yang tidak suka dengan pernikahan Mbak dengan suami Mbak," ucap Laila.


"Tapi siapa Laila? Apa jangan-jangan musuh suami ku?"


Rania mulai menduga-duga. Pekerjaan suaminya memang mengundang musuh berdatangan. Bisa saja salah satu dari mereka yang mengirim paket tersebut.


"Aku tidak tahu, Mbak. Aku hanya menduga saja, Mbak pasti lebih tahu,"


Laila mengajak Rania duduk agar lebih tenang.


"Aku juga tidak tahu pasti, Laila. Pekerjaan Mas Rangga sebagai pengacara membuat dia sering di benci orang lain,"


Rania menghela napas panjang.


"Bahkan dulu sebelum menikah, kita pernah di buat celaka dan di sekap oleh orang tidak di kenal. Ternyata mereka di bayar oleh musuh klien Mas Rangga,"


"Astaga, sampai seperti itu ya Mbak. Aku sampai mau muntah melihat itu tadi, kok ada orang setega itu,"


Laila mengingat tadi sempat mual saat pertama berhasil paket di buka.


"Maafkan aku ya Laila, kamu sedang hamil malah harus melihat pemandangan mengerikan itu,"


Rania merasa bersalah.


"Mbak kan juga tidak tahu paket itu isinya apa. Jadi jangan merasa bersalah,"


Tap... tap... tap...


Suara langkah terdengar. Ternyata security datang bersamaan dengan suami dan beberapa anak buahnya tiba.


"Ada apa Sayang? Katanya ada yang mengirim sesuatu yang menjijikkan?" tanya Rangga.


Wajahnya terlihat cemas, ia menatap istrinya.


"Itu masih ada di dekat tangga. Aku mau menyuruh security untuk membuangnya, ternyata Mas sudah datang,"


Rangga melangkah ke dekat tangga. Ia langsung menutup mulutnya. Bangkai hewan yang masih berdarah-darah terlihat dari dalam kresek, di atasnya ada foto pernikahannya bersama Rania yang di beri tanda silang dengan darah.


"Kurang ajar, berani sekali yang mengirim paket ini. Pak, tolong bersihkan semuanya," titah Rangga.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?"

__ADS_1


Rangga memeluk istri dan anaknya.


"Aku tidak apa-apa Mas. Tadi aku meminta bantuan Laila untuk membuka paket itu, aku tidak menyangka isinya sesadis itu," jawab Rania.


"Tenang saja, aku pasti menyelidikinya. Kita ke depan saja, biar bangkai itu di bersihkan,"


Mereka menuju ruang tamu.


"Maaf ya Laila, kamu harus melihat kejadian ini," ucap Rangga.


"Tidak apa-apa Pak, justru saya mau berterima kasih karena sudah berkenan membantu masalah saya,"


Mereka mulai berbicara masalah Akila dan rumah yang di rampas mantan mertua Laila. Karena terlihat serius Rania pamit untuk menuturkan Naya.


"Sayang, aku sekalian pamit sebentar lagi langsung ke tempat mertua Laila ya,"


"Oh ya sudah, hati-hati Mas,"


"Mbak, aku berterima kasih sekali ya sudah di bantu," sahut Laila.


"Sama-sama, maaf untuk kejadian tadi ya,"


Rangga dan yang lainnya tidak ingin membuang waktu, karena jam 2 siang mereka ada meeting jadi harus bergerak cepat. Mereka segera berangkat menuju rumah mantan mertua Laila.


☆☆☆


Di dalam kamar.


Rania sedang termenung sembari menemani putranya yang sedang terlelap. Pikirannya masih terbayang akan paket misterius tadi. Siapa yang tega membunuh binatang tidak berdosa, menyayat-nyayat sesadis itu hanya untuk mrnakut-nakuti keluarganya?


"Perasaan Mas Rangga tidak bercerita apapun tentang kasus yang sedang di tangani. Itu berarti kasusnya tidak berat, lalu siapa yang mengirim paket tadi?"


"Pak, rumah ini di lengkapi CCTV kan. Aku ingin lihat, barangkali pengirim paket itu terekam di CCTV," pinta Rania.


"Oh, baik Bu,"


Pria itu segera memutar rekaman di saat paket itu datang.


"Ini orang yang katanya di suruh Bu. Dia di mintai tolong karena kendaraan orang yang mengirim paket mogok di jalan," jelas security.


"Susah juga ya mencarinya. Tapi bisa saja pria itu berbohong, mungkin juga memang paket itu darinya,"


"Bisa juga begitu, Bu. Sebaiknya lapor polisi saja Bu, agar di selidiki lebih lanjut,"


"Ya nanti, biar menunggu mas Rangga pulang saja. Terima kasih ya, Pak,"


Rania kembali ke dalam rumah.


☆☆☆


Siang harinya.


"Halo, Sayang. Apa kamu masih memikirkan masalah tadi?"


Rangga menelepon karena kuatir dengan keadaan istrinya.

__ADS_1


"Iya sih Mas, aku masih memikirkan siapa pelakunya," jawab Rania.


"Sudahlah jangan di pikirkan lagi, aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya,"


"Baguslah, aku lega mendengarnya. Oh iya bagaimana masalah anaknya Laila?" tanya Rania.


"Ternyata tidak sesulit yang di bayangkan. Mereka ketakutan saat kita mengatakan akan membawanya ke jalur hukum. Sepertinya ada pihak yang sudah mempengaruhi pikiran mereka. Mungkin ada yang tidak suka dengan pernikahan Laila dan Alif. Tapi semua sudah beres, rumah dan Laila sudah berhasil kita rebut kembali," jelas Rangga.


"Alhamdulillah, semoga mereka bisa kembali hidup dengan damai,"


"Ya sudah, aku meeting dulu ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam salam,"


[Mbak, terima kasih ya berkat pak Rangga masalah ku bisa cepat di tangani.]


Sebuah pesan masuk dari Laila.


☆☆☆


"Kamu dari mana saja, jam segini baru pulang?" bu Nani berkacak pinggang mendapati Laila yang baru pulang.


"Maaf Bu, tadi ada urusan penting,"


Laila menunduk, ia merasa tidak enak karena keluar rumah sangat lama.


"Urusan apa? Mentang-mentang tidak ada suami bisa keluyuran semaunya,"


Laila malas untuk membantah dan menjelaskan semuanya. Ia lebih memilih diam mendengarkan ocehan ibu mertuanya itu.


"Heh kok malah diam sih, tidak sopan," ucap Bu Nani ketus.


"Aku tidak bisa menjelaskan Bu, maaf. Aku masuk dulu,"


Laila melangkah masuk, namun baru dua langkah ibu mertuanya menarik tangannya dengan kasar.


"Akh... sakit, Bu," Laila hampir saja terjatuh.


"Kamu dengar ya, jangan kira Alif selalu membela mu lalu aku akan diam saja. Akan aku buat kamu di tendang dari rumah ini oleh suami mu sendiri," ancam bu Nani.


"Sebenarnya apa salah ku Bu, kenapa ibu begitu membenci ku? Apa hanya karena aku miskin, atau ada sebab lain?"


Laila tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Pergilah dari hidup putra ku, jika kamu tidak ingin aku membenci mu,"


Ia menatap menantunya dengan sinis.


"Aku sedang mengandung cucu Ibu. Walaupun ibu membenci ku, setidaknya sayangi calon bayi ku. Dia cucu mu, Bu,"


Laila masih berharap ibu mertuanya akan menyayangi calon bayinya.


"Aku tidak akan pernah menyukai anak itu atau pun diri mu,"


Bu Nani mendorong Laila dengan kasar hingga kepalanya terbentur tembok.

__ADS_1


"Akh..." Laila meringis kesakitan.


Sakit di kepalanya tidak sebesar sakit hatinya.


__ADS_2