Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 50 Pencurian


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Sayang, ayo cepat nanti terlambat sekolahnya," pinta Rania.


"Iya Bu, sebentar lagi," jawab Alisa.


Gadis itu segera mengenakan kaos kaki dan sepatunya. Setelah selesai mereka segera bergegas menuju sekolah.


"Sayang, ibu harus ke ruko dulu. Kamu tidak apa-apa kan ibu ajak keliling sebentar?" tanya Rania.


"Iya Bu, aku ikut," jawab Bintang.


Mereka segera menuju tempat usaha sembako Rania.


"Loh, kok masih tutup. Ini kan sudah jam 7, kemana mereka?"


Rania mencoba menghubungi orang yang mengurus bisnis sembakonya itu, namun ponselnya tidak aktif. Perasaannya makin tidak nyaman, karena bu Nani dan pak Tarno baru seminggu ini bekerja kepadanya. Sebelumnya yang mengurus adalah sepasang suami istri yang masih berteman baik dengannya, namun karena mereka harus pulang kampung maka dirinya terpaksa mencari karyawan baru.


"Bu, kenapa ya toko sebelah kok tutup?" tanya Rania kepada tetangga sebelah tokonya.


"Bu Rania... katanya ibu yang menyuruh mereka menjual semua barang. Kata pak Tarno toko ibu mau di kontrakan," jawab ibu itu.


"Apa? Saya tidak pernah menyuruh begitu, jangan-jangan mereka mau mencuri barang-barang di toko," ucap Rania.


Ia segera membuka tokonya dengan kunci serep yang selalu ia bawa. Betapa terkejutnya dia melihat tokonya kosong melompong, hanya ada etalase dan rak untuk tempat memajang dagangannya.


"Astaga, ternyata mereka pencuri. Aku harus menghubungi Mbak Marni,"


"Halo Mbak, bu Nani dan pak Tarno sudah membawa semua barang dagangan di toko. Semuanya ludes hanya tersisa rak dan etalase saja," jelas Rania.


"Yang benar Nia? Padahal mereka itu orang baik loh, kok nekad mencuri. Apa sudah kamu laporkan ke polisi?" tanya mbak Marni.


"Belum mbak, dari sini aku akan langsung laporan. Tolong mbak bantu ya, mbak kan kenal mereka," jawab Rania.


"Maaf ya Nia, aku sungguh tidak tahu jika mereka ada niat jahat. Kalau tahu tidak mungkin aku rekomendasikan," ucap mbak Marni merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya Mbak, aku tahu ini tidak ada hubungannya sama Mbak Marni. Tolong kabari jika ada informasi ya,"


Setelah menghubungi temannya yang merekomendasikan mereka, Rania segera menghubungi Rangga. Pria itu adalah orang pertama yang Rania ingat saat dirinya ada masalah apapun. Karena dia tahu pria itu selalu ada untuk dirinya sesibuk apapun kehidupannya.


"Assalamualaikum, Rangga,"


"Waalaikum salam, ada apa Nia? Kenapa kamu kelihatannya panik begitu?" tanya Rangga.


"Toko sembako ku telah di curi, semua barang dagangan habis. Aku curiga dengan kedua karyawan baru ku karena ponsel mereka semua tidak aktif," jawab Rania.


Wanita itu sedih karena toko ini adalah bisnis pertamanya yang mengantarkan dirinya bisa sukses dan merambah ke bisnis lainnya. Ia sadar jika semua ini adalah ujian, namun tetap saja rasanya tidak bisa menerimanya dengan mudah.


"Kamu pulang ke rumah saja, nanti kita ke kantor polisi bersama. Aku akan segera kesana,"


Rania mengikuti ucapan Rangga, ia dan Bintang pulang ke rumah. Dengan tidak sabar ia menunggu Rangga datang.


"Nia,"


"Rangga, aku di sini,"


"Kamu sabar ya, mereka pasti tertangkap. Ayo kita ke kantor polisi,"


Rangga mendampinginya dengan sabar. Karena pria itu seorang pengacara jadi sangat paham dengan hukum. Petugas sangat menghormatinya sehingga bergegas untuk menguak kasus ini.


"Tenang saja bu Rania dan pak Rangga, kita akan bergerak secepatnya. Jika ada informasi nanti akan kami kabari secepatnya," ucap petugas itu.


"Terima kasih, kami percayakan kasus ini. Semoga pelakunya segera tertangkap," balas Rangga.


Setelah semua selesai mereka segera menjemput Alisa sebelum pulang ke rumah Rania.


"Sabar Nia, ini ujian. Jangan risau, jika masih rezeki insyaallah pasti kembali. Jika tidak kembali, di ikhlaskan agar di ganti yang lebih baik,"


Rangga menggenggam tangannya dengan lembut untuk menguatkannya, ada rasa tenang di hati wanita itu. Entah mengapa kehadiran pria ini selalu membuat kekuatirannya menghilang.


"Terima kasih Rangga untuk semuanya, terima kasih selalu ada di saat aku butuh," ucap Rania tulus.

__ADS_1


"Kamu tahu aku tulus melakukannya, bahkan untuk seumur hidup aku pun rela. Kapan kamu izinkan aku bisa melindungi mu siang dan malam? Menjadi iman untuk mu, Alisa dan juga Bintang?"


"Rangga... awas," teriak Rania.


"Sudah bicara nanti di rumah, lihat itu kamu hampir menabrak karena tidak fokus," ucap Rania.


"Maaf ya, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Rangga.


"Tidak apa-apa, hanya kaget saja," jawab Rania.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan lagi sampai tiba di rumah Rania.


"Ayo masuk, sebentar ya aku buatkan minum dulu,"


Sementara Rania membuat minum, Rangga asyik bercengkrama dengan kedua anak wanita itu. Mereka terlihat semakin akrab dengan Rangga, jika orang tidak tahu mungkin akan menyangka Rangga sebagai ayah mereka.


"Nia, apa kamu tidak berencana untuk membeli rumah agar tidak mengontrak lagi?" tanya Rangga.


"Sudah ada rencana, tapi masih bingung mau beli di daerah mana. Ini juga masih sisa beberapa bulan lagi, masih ada waktu untuk mencari," jawab Rania.


"Kenapa kalian tidak tinggal bersama ku saja? Apa kamu tidak punya perasaan kepada ku, Rania?"


Di todong pertanyaan seperti itu Rania bingung untuk menjawab. Ia memang menyimpan perasaan kepada pria ini. Namun ia tidak percaya diri karena statusnya sebagai janda.


"Aku masih seperti Rania yang dulu, tapi tolong beri aku waktu untuk memantapkan hati ku. Jika tidak ada perasaan, tidak mungkin sampai sejauh ini," jawab Rania.


Pria itu tersenyum, setidaknya ia tahu jika Rania memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia rela menunggu beberapa waktu lagi.


"Kenapa Ibu dan Om Rangga sama-sama senyum begitu?"


Alisa yang datang tiba-tiba dari kamar mandi mengagetkan mereka berdua. Keduanya jadi salah tingkah sendiri. Alisa senang karena semenjak ibu dan ayahnya berpisah, ibunya tidak pernah menangis lagi.


"Alisa Sayang, menurut kamu Om sama ibu kamu cocok tidak?" tanya Rangga.


"Cocok dong, ibu dan Om Rangga sama-sama baik. Ibu selalu bahagia jika ada Om, Om Rangga juga selalu tersenyum jika bersama ibu,"

__ADS_1


Ucapan polos Alisa membuat keduanya tersipu malu. Namun yang di katakan gadis itu memang benar adanya. Cinta di hati mereka semakin tumbuh subur dengan berjalannya waktu.


Memang dalam hidup, kita terkadang tidak di pasangkan dengan jodoh yang sesungguhnya. Akan ada orang yang salah terlebih dahulu mengisi hidup kita, sebelum Tuhan menghadiahkan jodoh yang terbaik. Mungkin Saja kisah cinta Rania dan Rangga contohnya, di pertemukan kembali setelah terpisah belasan tahun lamanya. Karena takdir Allah itu memang yang terbaik.


__ADS_2