
Keesokan harinya.
"Mas, apa boleh aku nanti mengajak orang tua ku jalan-jalan bersama anak-anak?"
Tanya Rania saat menemani suaminya sarapan.
"Tentu saja boleh, tapi Alisa kan sedang sekolah, apa kamu tidak mengajaknya?"
"Kita perginya nunggu Alisa pulang kok,"
"Ya sudah hati-hati ya, kamu harus tetap waspada. Walaupun musuh-musuh ku ada di dalam penjara, mereka masih punya kuasa. Aku takut mereka menyuruh orang untuk mencelakakan keluarga ku,"
"Iya Mas, tenang saja. Aku selalu menyuruh sopir untuk lewat jalanan yang ramai, aku selalu menghindari jalan sepi kok,"
Selesai sarapan, Rania mengantar suaminya sampai depan rumah. Seperti biasa ia mencium kening istrinya. Semenjak Rania mengandung ia juga selalu mencium perutnya setiap akan berangkat kerja.
Rania akan sibuk bersama Bintang setiap pagi, karena Alisa sekolah dan Rangga bekerja. Sebentar lagi dirinya akan sendiri setiap pagi, karena Bintang sudah waktunya untuk masuk tk. Beruntung sebentar lagi dia akan punya bayi, sehingga tidak kesepian di rumah sebesar ini.
☆☆☆
"Selamat pagi, Pak Rangga,"
"Wah, Pak komisaris tumben sekali datang ke kantor. Kok tidak memberi kabar dulu,"
"Ah sudahlah Rangga, kita tidak perlu formal seperti ini. Aku ingin meminta tolong pada mu,"
Pria itu menatap tajam, sepertinya masalahnya serius.
"Ok, katakan saja Anto. Jika aku aku bisa membantu, pasti aku bantu,"
Rangga juga menanggapi dengan serius. Anto adalah komisaris polisi, mereka kenal karena sering menangani kasus yang sama di bidang masing-masing.
"Saudara ku ada yang mengalami pelecehan seksual, pelakunya kabur entah kemana. Aku kesulitan mencarinya karena Dona tidak pernah mau bicara siapa pelakunya. Kasihan dia sangat depresi, orang tuanya apalagi. Kamu kan sering membantu korban kejahatan, mereka bisa lebih baik berkat bantuan mu. Tolong temuilah Dona, ajaklah dia bicara. Aku sangat berharap pada mu,"
Tatapan temannya yang penuh harap tidak bisa membuatnya berkata tidak.
"Baiklah, kapan kita akan menemuinya?" tanya Rangga.
"Kapan pun, jika kamu ada waktu," jawab Anto.
Karena keduanya sama-sama tidak sibuk, jadi memutuskan untuk datang menemui Dona sekarang.
☆☆☆
Di tempat lain, masih di kota yang sama.
__ADS_1
Seorang wanita berusia 25 tahun sedang menatap dirinya di cermin. Tatapannya kosong, pikirannya entah kemana. Sudah hampir sebulan ia mengurung diri di kamar, tidak mau makan jika tidak di paksa. Kadang ia tertawa sendiri, terkadang bergumam tidak jelas. Bahkan terkadang berteriak histeris. Dia adalah Dona, seorang korban perkosaan yang pelakunya masih bebas berkeliaran di luar sana.
Pihak keluarga sebenarnya tidak tega melihat kondisinya. Mereka hanya bisa membawanya ke psikiater, namun belum ada perkembangan. Sebenarnya psikiater sudah menyuruh mereka membawanya ke rumah sakit jiwa, namun pihak keluarga merasa tidak tega.
"Assalamualaikum,"
Anto dan Rangga memberi salam. Mereka segera menyampaikan maksud kedatangannya. Ibunya Dona menyambut dengan suka cita. Ia sangat berharap Rangga bisa membantu keadaan Dona agar lebih baik, syukur-syukur jika gadis itu bisa segera pulih.
"Mari saya ajak bertemu dengan Dona,"
Keduanya mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Dona sedang duduk di depan meja rias saat mereka datang, wanita itu menatap ke arah cermin dengan tatapan kosong. Mereka prihatin melihat kondisinya.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Wah nenek sudah kembali dari rumah tante ya,"
Alisa yang baru pulang sekolah langsung memeluk neneknya. Ia senang sekali jika rumah menjadi lebih ramai.
"Ayo cepat ganti baju dulu Sayang, kita akan mengajak nenek dan kakek jalan-jalan ke mall hari ini," titah Rania.
"Serius, Bu?"
Alisa tampak ragu.
Alisa segera ke kamarnya, ia berganti baju secepat kilat. Hanya beberapa menit saja ia telah siap di ruang keluarga.
"Wah cepat sekali ganti bajunya, Nak,"
Mereka segera berangkat ke mall terdekat di antar sopir.
☆☆☆
"Subhanallah, bagus sekali ini tempatnya Nak,"
Kedua orang tua Rania terlihat takjub sekali melihat mall yang megah itu.
"Ini namanya mall, Bu. Di desa kita belum ada, adanya di kota itu juga cuma ada beberapa saja dan tidak sebesar ini. Kalau di sini banyak sekali gedung seperti ini," jelas Rania.
"Bu, apa kita boleh beli apa saja?" tanya Alisa.
"Boleh, tapi jangan berlebihan. Sesuai kebutuhan saja ya, Sayang,"
"Siap, Bu,"
__ADS_1
Rania membelikan kedua orang tuanya pakaian, mukenah, baju koko, dan beberapa barang keperluan mereka. Ia juga membelikan oleh-oleh untuk saudaranya di desa. Berhubung sebentar lagi akan datang bulan ramadhan, waktu yang pas untuk berbagi rejeki. Karena sebaik-baiknya bersedekah adalah kepada kerabat sendiri sebelum kepada orang lain.
"Apa kalian tidak lapar dari tadi belanja?" tanya Rania.
"Iya Bu, lapar sekali," jawab Alisa.
"Ibu dan Bapak mau makan apa?"
"Terserah saja, Nia. Kamu kan mengerti selera orang tua mu ini,"
Rania tersenyum. Tadinya ia mau mengajak ke restoran, tapi mungkin orang tuanya tidak akan suka jadi ia memilih ke food court yang menyediakan beraneka ragam menu.
"Loh Nia, bukannya itu mantan ibu mertua mu ya?"
Bu Arum menunjuk seorang wanita yang tengah makan tidak jauh dari tempat mereka. Rania memperhatikannya, ternyata memang ibunya Alif sedang makan juga bersama Nelly.
"Iya Bu, itu dengan adiknya Mas Alif juga," jawab Rania.
"Ibu ingin menyapanya, bagaimana pun dia pernah jadi mertua mu kan. Ayo kita kesana, Pak,"
Belum juga Rania melarang, kedua orang tuanya sudah melangkah ke arah mereka.
"Tunggu di sini dulu ya, ibu mau ke tempat nenek kalian dulu ya,"
Setelah mereka mengangguk, Rania segera menyusul orang tuanya.
"Assalamualaikum, bagaimana kabarnya Bu?"
Bu Arum menyapa bu Nani. Wanita itu sangat terkejut melihat mantan besan dan mantan menantunya ada di depannya. Saking terkejutnya ia sampai tidak merespon.
"Eh Mbak Nia sama orang tuanya ya, silahkan duduk,"
Justru Nelly yang menyambut mereka. Sementara bu Nani terlihat salah tingkah.
"Tidak perlu Nel, kita ninggalin anak-anak di sana. Orang tua ku hanya ingin menyapa ibu saja, mereka kan lama sekali sudah tidak bertemu," balas Rania.
"Oh begitu ya. Ya sudah salam sama anak-anak ya Mbak,"
Mereka pun berpamitan. Bu Nani hanya diam, entah apa yang ada di dalam hatinya. Mungkin wanita itu malu atau merasa bersalah. Atau mungkin juga karena hal yang lain.
"Mantan ibu mertua mu itu benar-benar keterlaluan ya, di ajak bicara cuma diam saja. Sudah seperti patung saja, sama sekali tidak menghargai," ucap ayahnya.
Rania tersenyum menanggapi. Baginya itu bukan hal yang aneh, tidak menghina mereka saja itu termasuk beruntung. Ia tahu bagaimana tajamnya mulutnya jika menghina orang.
"Sudah sifatnya begitu, Pak. Makanya tadi aku sebenarnya ingin melarang kalian kesana, eh sudah jalan duluan,"
__ADS_1
Keduanya hanya bisa tersenyum masam. Mereka tidak bisa membayangkan 11 tahun putrinya harus mengenal dan sering bertemu orang seperti bu Nani itu.