Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 53 Mantan Menantu Yang Sukses


__ADS_3

Bu Nani memandangi mantan menantunya itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Mata dan hatinya menolak percaya jika wanita yang datang dengan anggun dan kecantikan luar biasa itu adalah mantan menantunya yang pernah ia sia-siakan. Rania benar-benar cantik, penampilannya sangat modis dengan perhiasan yang tidak berlebihan.


"Kok bisa sih dia yang dekil jadi seperti artis begitu hanya dalam waktu beberapa bulan? Padahal bertahun-tahun jadi menantu dia tidak bisa mengurus diri?" tanya bu Nani.


"Ya itu karena sekarang mbak Rania punya banyak uang, ia bisa melakukan perawatan. Mungkin dulu Mas Alif tidak memberinya nafkah yang lebih sehingga jangankan untuk perawatan, untuk makan saja mungkin sulit," jawab Nelly.


"Tidak mungkin Nel, Mas mu bukan pria yang tidak bertanggung jawab seperti itu," balas bu Nani.


"Ya mana kita tahu Bu, yang menjalani kan mereka. Tapi dari yang aku lihat sepertinya memang begitu," ucap Nelly.


Rania mendekat ke arah mereka, sehingga mereka berhenti bergosip.


"Selamat ya Bu, Nelly. Aku turut bahagia," ucap Rania.


Rania dan semuanya menyalami semua keluarga mempelai, ia segera mengisi buku tamu dan memasukkan amplop. Namun diam-diam bu Nani mengambil amplop pemberian Rania.


"Bu, kok di ambil sih amplopnya?" tanya Nelly.


"Diam, jangan berisik. Ibu ingin tahu isinya berapa," jawab bu Nani.


Wanita itu segera membuka amplop di tangannya yang cukup tebal. Ternyata isinya 10 lembar uang seratus ribu.


"Satu juta, Nel," ucap bu Nani dengan mata berbinar.


"Mbak Nia memang baik. Uang 3 juta yang aku pinjam saja dia tidak pernah tagih. Kemungkinan amplop pemberiannya yang terbanyak isinya, Bu," balas Nelly.


"Ternyata dia benaran kaya ya, ibu jadi menyesal sekarang. Tahu dirinya sukses begini dulu pasti ibu pertahankan," ucap bu Nani.


"Hus, Ibu itu bicara apa sih. Sekarang mbak Desi menantu Ibu, jangan memikirkan yang lain lagi. Itu sebagai pembelajaran untuk ke depannya agar tidak seenaknya menghina orang lain,"


Mereka terus saja bergosip sembari menyalami tamu yang datang. Sepertinya kehidupan Rania menjadi topik yang menyenangkan mereka sekarang.


Sementara itu Rania dan rombongan mulai naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Alif menatap mantan istrinya dengan pandangan terpana, Rania bagaikan berlian di dalam pestanya.


'Ya Allah betapa cantiknya Rania, aku bahagia pernah memilikinya. Seandainya dia bersedia rujuk, aku tidak akan pernah melepaskannya' batin Alif.


"Selamat ya Mas, semoga sakinah mawaddah warohmah," ucap Rania.


Desi tampak menatap Rania dengan pandangan sinis, kini dirinya tidak level dengan Rania yang wanita baik-baik dan sukses. Mereka sempat berfoto bersama. Anak-anak juga tersenyum melihat ayahnya, kehadiran Rangga di sisi ibunya membuat mereka kuat.

__ADS_1


Setelah selesai mereka menyantap hidangan yang di sediakan. Rangga begitu perhatian terhadap Rania dan kedua anaknya membuat Alif yang sejak kedatangan mereka tidak pernah mengalihkan pandangannya dari mereka.


"Kamu Rania kan? Mantan istrinya Alif?"


Seorang ibu menghampiri Rania, dirinya lupa siapa dia. Namun ia tetap tersenyum padanya.


"Iya Bu," jawabnya.


"Wah kamu beda sekali dari saat bersama Alif dulu. Apa ini calon suami mu ya? Kalian sangat serasi sekali. Semoga hubungan kalian langgeng ya," ucap ibu itu.


"Amin, terima kasih doanya ya Bu. Semoga Tuhan mendengar doa ibu. Kami permisi dulu," sahut Rangga.


Pria itu membawa mereka menjauh dari ibu tadi, sembari mengambil makanan lagi agar ibu itu tidak merasa tersinggung. Sementara Rania mengikuti saja kemana pria itu membawanya.


"Kita kesana saja, yang sedikit sepi agar tidak ketemu orang yang mengenal mu lagi," ucap Rangga.


"Memangnya kenapa, Rangga?" tanya Rania.


"Alif sudah menikah kembali, takutnya istrinya mendengar dan tidak menyukainya. Lihat saja tatapan wanita itu tadi ke arah mu, seakan ingin memakan mu saja,"


Ekspresi Rangga tadi membuat Rania tergelak.


Tentu saja pria itu cemburu, ia tidak ingin mendengar kisah tentang Alif dan Rania lagi karena itu akan membuat kupingnya terasa panas.


"Tentu saja aku cemburu, bukankah kalian sudah berpisah. Jadi seharusnya tidak ada lagi yang mengungkit kisah lama kalian,"


Rania tersenyum mendengar jawaban jujur dari pria itu. Dirinya sama sekali sudah tidak ada perasaan terhadap Alif, ia datang hanya menghargai undangannya karena bagaimanapun ia adalah ibu dari anak-anak Alif.


"Setelah ini kita pulang ya," ajak Rania.


"Kenapa? Apa hati mu sakit melihat mantan suami mu telah bersanding dengan wanita lain?" tanya Rangga.


"Apa aku terlihat begitu, Rangga? Aku sudah tidak mempunyai perasaan untuknya, jika ada aku tidak mungkin menggugat cerai," jawab Rania tegas.


Setelah makanan mereka habis, mereka berpamitan untuk pulang kepada keluarga mantan suami Rania.


☆☆☆


"Terima kasih sekali ya Rangga, sudah mau menemani kami ke pesta itu," ucap Rania saat mereka tiba.

__ADS_1


"Sama-sama, aku akan menemani kemanapun kalian minta," balas Rangga.


"Benar ya Om, kapan-kapan kita liburan lagi ya Om," sahut Alisa.


"Boleh, bagaimana kalau lusa. Lusa itu kan hari minggu, jadi Om punya waktu banyak," ucap Rangga.


"Iya Om, mau. Boleh kan Bu?"


"Iya boleh, sekarang Alisa istirahat dulu ya,"


"Siap, Bos,"


Tingkah lucu Alisa membuat keduanya tertawa.


"Aku buatkan minum ya, kamu mau apa?" tanya Rania.


"Apa saja deh,"


Rania segera ke dapur, ia kembali dengan dua gelas teh hangat di tangannya.


"Tidak menyangka ya Nia, secepat itu Alif menikah lagi," ucap Rangga.


"Ya mungkin dia sudah mantap, jadi untuk apa di tunda lagi,"


Mereka terdiam sejenak.


"Jadi hati mu belum mantap kepada ku?"


"Aku takut mengecewakan mu Rangga, aku juga takut mengecewakan anak-anak ku,"


Rania tertunduk, kegagalan membuatnya berpikir tentang apapun saat ini. Dia tidak bisa meramal masa depan, ia takut kehidupan masa depan tidak seindah yang ia bayangkan.


"Aku tahu aku bukan pria yang sempurna, tapi aku berjanji akan memberikan yang terbaik yang aku bisa. Aku juga tidak menjanjikan dunia, tapi aku akan berusaha selalu membahagiakan kalian semua,"


Ucapan Rangga memang tulus karena memang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Perasaannya bukan main-main, bahkan ia setia memberikan hatinya untuk Rania seorang. Puluhan tahun ia mencari, akhirnya takdir masih mempertemukan mereka walau dengan keadaan yang berbeda.


"Sebenarnya aku juga kasihan kepada anak-anak, mereka sangat membutuhkan sosok ayah yang melindungi mereka. Jika kamu memang serius, buktikan ucapan mu agar hati ku bisa mantap menjalani semua dengan mu,"


Rangga tersenyum, ia tidak menyangka jika wanita ini sudah memberinya lampu hijau untuk melangkah lebih jauh lagi dengannya.

__ADS_1


__ADS_2