
Dua hari kemudian.
"Mana Akila? Kami mau membawanya pergi dari sini,"
Mantan mertua Laila datang ke rumah orang tuanya untuk merebut Akila.
"Yang berhak merawatnya adalah anak kita, Laila. Mengapa kalian mau mengambilnya? Kita tidak akan memberikannya,"
Pak Guntur dan bu Asih kukuh mempertahankan Akila.
"Aku mau bersama nenek, jangan bawa aku. Huaaa... huaaa..." Akila menangis karena orang tua ayahnya memaksa membawanya pergi.
"Lepaskan cucu ku, jika tidak kami akan berteriak agar warga berdatangan," ancam bu Asih.
Ia menarik Akila dan mendekapnya dengan erat.
"Laila sudah menikah, katanya juga dia sudah hamil. Mereka pasti akan menyia-nyiakan cucu ku, buktinya ia malah tinggal dengan kalian sampai sekarang,"
Mantan mertua Laila tidak mau kalah.
Semenjak kepergian ayah kandungnya, Akila memang hidup bersama ibunya. Namun karena Laila harus bekerja untuk kebutuhan hidupnya serta Akila, ia menitipkan putrinya di rumah kedua orang tuanya. Selama ini ia berjuang sendiri membesarkan Akila, keluarga suaminya tidak pernah peduli terhadap mereka. Karena mereka menganggap kematian putranya karena dirinya.
"Walaupun dia menikah, dia tidak lupa dengan Akila. Mereka sering ke sini dan mengajak Akila jalan-jalan. Seandainya kalian tidak merebut rumah peninggalan suami Laila, pasti mereka bisa tinggal bersama,"
Emosi bu Asih meletup-letup. Karena Laila menikah lagi, mereka menganggap dirinya tidak pantas tinggal di rumah almarhum putranya sehingga mengusirnya. Seolah belum puas sekarang mereka mencoba merebut Akila. Tentu saja ini tidak bisa di biarkan begitu saja.
Karena merasa kalah mantan mertua Laila pergi dengan rasa kesal.
☆☆☆
"Apa Bu, mereka mau membawa Akila? Lalu bagaimana sekarang?"
Laila menjadi panik, ia tidak rela orang tua suaminya mengambil putrinya.
"Untuk sementara ibu dan bapak bisa mencegahnya. Tapi ibu kuatir mereka akan ke sini lagi dengan membawa lebih banyak dukungan, apalagi kita hanya orang miskin,"
Laila semakin cemas, orang tua suaminya pasti akan berbuat apapun untuk merebut Laila.
"Sebenarnya apa sih mau mereka, Bu? Rumah sudah di ambil, sekarang Akila juga ingin mereka kuasai?"
Laila tidak dapat membendung lagi air matanya. Ia ingat saat-saat sulit yang ia lalui bersama putrinya selama lebih dari dua tahun terakhir. Dirinya bahkan terpaksa menitipkan putri yang sangat di cintainya itu kepada orang tuanya agar dirinya bisa kerja.
"Sabar ya Nak. Lebih baik kamu konsultasi dengan orang yang paham hukum, untuk mengantisipasi jika mereka datang lagi. Ibu juga tidak rela jika harus kehilangan Akila, mereka tidak tulus mencintainya,"
"Ibu tenang ya, aku akan coba berbicara dengan mas Alif nanti,"
__ADS_1
Pembicaraan itu berakhir dengan menyisakan rasa kuatir di hati keduanya.
☆☆☆
Sore harinya.
"Mas, itu sudah aku buatkan teh hangat. Apa Mas mau makan sekarang?" tanya Laila.
"Terima kasih, Laila. Aku mau mandi dulu, nanti saja makannya,"
Alif segera masuk ke kamar mandi, Laila membantu menyiapkan baju ganti suaminya.
"Mas, aku ingin bicara penting,"
Laila tak sabar lagi menunggu bicara kepada Alif. Alif yang mengeringkan rambutnya langsung menoleh ke arah istrinya.
"Ada apa, Laila? Apa ibu ku menyakiti mu lagi?" tebak Alif.
Laila menggeleng.
"Bukan itu Mas, ini menyangkut Akila,"
"Akila? Kenapa dengan Akila?"
"Orang tua ayahnya ingin mengambilnya dari ku, padahal selama ini mereka tidak pernah peduli dengan kehidupan kami. Aku tidak rela Mas jika Akila bersama mereka,"
"Aku mengerti perasaan mu, kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Rumah yang seharusnya menjadi hak kalian sudah mereka rampas, sekarang mereka malah ingin mengambil Akila. Mereka sangat keterlaluan,"
Alif juga ikut geram.
"Tapi aku buta hukum Mas, aku tidak tahu harus berbuat apa,"
Laila tertunduk sedih. Alif juga tampak berpikir. Dirinya juga tidak mengerti tentang hukum.
"Sepertinya kita harus meminta bantuan pak Rangga. Dia kan seorang pengacara, jadi pasti mengerti masalah seperti ini," Alif mendapat ide.
"Oh iya, suaminya mbak Rania ya. Ide bagus itu, Mas,"
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Wah, ternyata kalian. Ayo ke atas saja, ada orang tua ku juga di sana,"
Rania mengajak Alif dan Laila ke ruang keluarga yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Ibu, Bapak, apa kabarnya?"
Alif menyalami mantan mertuanya.
"Alif... Alhamdulillah, kami baik. Ini istri mu ya?"
Laila juga menyalami mereka dengan sopan.
"Iya Bu, ini istri ku namanya Laila,"
Alif asyik berbincang dengan mantan mertuanya, sementara Laila menggendong baby Naya sembari mengobrol dengan Rania.
"Nia, sebenarnya kita ke sini ingin bertemu dengan suami mu. Ada hal yang ingin kami tanyakan tentang hak asuh anak," ucap Alif pada akhirnya.
"Hak asuh anak?"
Wajah Rania berubah tegang, ia mengira Alif akan mengambil kedua anak mereka. Alif segera menjelaskan, ia tahu Rania salah paham.
"Oh, jadi begitu. Sebentar ya aku panggilkan, dia sedang mengajari anak-anak di kamarnya,"
Rania segera memanggil suaminya. Menit kemudian mereka kembali bergabung.
Setelah berbasa-basi sebentar, Alif dan Laila kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Mereka menceritakan semuanya secara detail agar Rangga bisa memberi solusi lewat kaca mata hukum yang ia ketahui.
"Jadi begitu ceritanya. Jelas sekali yang berhak mengasuh adalah Laila sebagai ibu kandungnya. Mereka bisa memberi bantuan dalam hal materi jika Laila tidak bisa menafkahi putrinya. Karena sebenarnya yang bertanggung jawab menafkahi Akila adalah keluarga pihak suami,"
Banyak sekali yang Rangga jelaskan tentang hak asuh, tentang rumah warisan almarhum suaminya dan lain-lain. Bahkan Rangga memberi tahu pasal-pasalnya. Walaupun mereka terkadang tidak mengerti dengan istilah-istilah dalam hukum yang Rangga jelaskan namun mereka bisa menangkap inti yang ingin pria itu sampaikan.
"Terima kasih sekali ya Pak Rangga atas penjelasannya. Kalau begini kami kan bisa bernapas lega," ucap Laila.
"Sama-sama, semoga info yang aku berikan bisa bermanfaat. Jika butuh bantuan Pak Alif dan Istri jangan segan-segan kabari aku ya," balas Rangga.
☆☆☆
"Kalian itu dari mana saja sih, semalam ini baru pulang? Aku bukan penjaga pintu, buat kunci sendiri biar kalau pulang malam tidak merepotkan orang,"
Bu Yani menyambut mereka dengan wajah kesal.
"Maaf Bu, tadi kami hanya pergi ke rumah teman," jawab Alif.
"Di rumah istri mu itu sok lemah, giliran keluar semangat sekali," sindir bu Nani.
"Ibu bicara apa sih? Laila begitu karena bawaaan bayi, sebelumnya dia juga rajin sekali. Lagi pula memang aku yang melarangnya agar tidak terlalu lelah," bela Alif.
Laila merasa bersalah, ia membuat suaminya sering berselisih paham dengan ibunya sendiri.
__ADS_1
"Memang nasib, punya menantu tapi mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri,"
Bu Nani masih mengoceh ketika kembali ke atas. Sementara Alif berusaha menyabarkan hati istrinya.