
Beberapa bulan kemudian.
"Mas, nanti sore jangan lupa ya. Kita akan ke pernikahan Nelly,"
Rania mengingatkan suaminya lagi.
"Apa kamu yakin akan datang ke sana, Sayang? Perut mu semakin besar, perkiraan satu minggu lagi akan melahirkan. Apa tidak lebih baik kamu tidak perlu datang,"
Rangga sangat kuatir dengan kondisi istrinya yang mendekati hari kelahiran.
"Ayolah Mas, datang sebentar saja. Baru kali ini pernikahannya meriah seperti ini, aku tidak nyaman jika sampai tidak datang di resepsinya," pinta Rania.
"Iya baiklah, tapi sebentar saja ya. Setelah itu kamu harus langsung istirahat," akhirnya Rangga mengalah.
"Terima kasih ya Mas," Rania memeluk dan mencium suaminya.
"Pagi-pagi sudah menggoda, apa mau seperti semalam lagi?"
Rania menggigit bibir bawahnya. Semakin besar kandungannya, nafsunya memang semakin tinggi.
"Wah kalau diam begitu, tandanya iya nih," Rangga langsung menyimpulkan sendiri.
Rangga langsung menggendong istrinya ke dalam kamar.
"Mas, bukannya Mas ada meeting nanti?"
"Semua bisa di tunda, yang penting istri ku bahagia,"
Rangga membaringkan istrinya perlahan di atas kasur. Ia mulai meIumat bibir istrinya. Rania membiarkan lidah suaminya menjelajah seluruh rongga mulutnya. Ia meremas dan memiIin bongkahan kenyal yang semakin besar itu.
"Mas..."
Rania mulai merintih keenakan.
"Kamu suka, Sayang?"
Rangga makin menggencarkan serangannya. Rania yang sudah pasrah hanya bisa menatap dengan sayu. Sepertinya ia sudah tidak tahan lagi.
"Mas..."
Rania kembali di buat melayang. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat. Matanya mengisyaratkan agar suaminya segera menuju inti permainan.
"Iya Sayang, sabar,"
"Akh..."
Rania mulai mendesis saat suaminya melakukan penyatuan. Rangga memimpin permainan dengan lembut. Ia tidak ingin ingin menyakiti istri dan calon anaknya.
"Mas, aku di atas ya," pinta Rania.
"Boleh,"
Mereka bertukar posisi. Karena perutnya sudah sangat besar, posisi ini yang paling di sukainya karena dapat memimpin permainan. Keduanya sangat menyukai posisi ini karena termasuk salah satu yang di anjurkan dokter.
"Sayang, aku mau sampai," ucap Rangga dengan napas tersengal.
Rania hanya tersenyum, sambil tetap bergerak teratur. Keduanya berhasil sampai bersamaan. Rania membenamkan diri dalam dekapan suaminya. Rangga mengecup kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku berangkat kerja dulu ya Sayang," ucap Rangga setelah membersihkan diri.
☆☆☆
Suasana gedung di salah satu hotel tampak meriah. Ini adalah tempat di mana pernikahan Nelly adik Alif di gelar. Ia mendapatkan pria idamannya, seorang anggota polisi yang berstatus duda mati tanpa anak. Keduanya bertemu saat Nelly menghadiri seminar yang mengundang Rania sebagai pembicara.
"Mas doakan ini pernikahan mu yang terakhir ya. Semoga kamu berjodoh sampai mati bersama Fery," Alif memeluk adiknya yang sedang di rias itu.
"Terima kasih, Mas. Aku juga ingin segera punya keturunan seperti Mas Alif, doakan ya," balas Nelly.
"Tentu saja, Mas pasti selalu doakan,"
Beberapa saat kemudian, semuanya telah siap. Kedua mempelai mulai memasuki gedung pernikahan. Acara demi acara berjalan dengan khidmat. Para tamu semakin ramai ketika malam mulai menjelang.
Bu Nani terlihat tersenyum sumringah. Tampak jelas jika dirinya bangga mendapatkan menantu seorang perwira polisi. Ia selalu mengelu-elukan menantunya itu kepada semua orang.
"Selamat ya Nelly, semoga samawa," ucap Rania.
"Ya ampun terimakasih sekali, Mbak Nia sudah menyempatkan datang walau hamil besar begini,"
Nelly sangat merasa di hargai. Mantan kakak iparnya ini memang sangat baik. Ia juga turut andil besar dalam perjalanan hidupnya yang semakin membaik ini.
"Tapi maaf ya, aku nanti tidak bisa lama," balas Rania.
"Iya Mbak, tidak apa-apa. Mbak datang saja aku sudah sangat senang,"
Mereka berfoto-foto sebentar. Alif yang mengetahui kedatangannya segera menghampiri mereka.
"Selamat malam pak Rangga, Rania. Kenalkan ini istri ku Laila,"
Mereka berdua menyalami istri barunya Alif. Alif segera memeluk kedua anaknya dari Rania.
"Ini udah masuk bulannya mau lahiran," jawab Rania sembari tersenyum.
"Pantas saja sudah besar sekali, semoga lancar persalinannya ya,"
Doa tulus Laila sampaikan untuk Rania.
"Terima kasih sekali ya, semoga kalian cepat menyusul," Rania juga berdoa untuk Laila.
"Amin,"
Mereka terlihat akrab sekali, seperti tidak pernah ada masalah sebelumnya. Menurut Rania, Laila adalah wanita yang baik. Ia terlihat sederhana dan tulus orangnya, tidak seperti mantan istri Alif sebelumnya.
"Aduh, Mas..."
Rania memegang perutnya yang tiba-tiba sakit. Tangan satunya mencengkeram lengan suaminya dengan erat.
"Mbak kenapa? Apa mau lahiran?"
Laila refleks mengusap perut Rania.
"Sepertinya iya, Laila," jawab Rania.
"Kita ke rumah sakit saja, Sayang,"
Rangga segera membopong istrinya yang sedang merintih kesakitan.
__ADS_1
"Mas, kita ikut ke rumah sakit yuk," ajak Laila.
Mereka akhirnya mengikuti Rangga ke rumah sakit.
"Tahan ya Sayang, sebentar lagi sampai rumah sakit,"
Rangga berusaha menenangkan istrinya. Alisa mengelap keringat yang mulai membasahi wajah ibunya.
"Aku mau punya adik ya, Kak?" tanya Bintang.
"Iya, Bintang. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang kakak," jawab Alisa.
☆☆☆
"Tunggu di luar dulu ya, Pak,"
Rangga menunggu dengan panik, ia memeluk kedua anaknya.
"Bagaimana keadaan Mbak Rania?" tanya Laila.
"Dia sedang di tangani dokter. Kalian kok ada di sini?" tanya Rangga.
"Laila ingin ikut ke sini," jawab Alif.
"Iya, saya ingin tahu keadaan Mbak Rania," tidak ingin terjadi salah paham, Laila ikut menjelaskan.
"Terima kasih sudah peduli dengan istri saya,"
"Pak Rangga," dokter tiba-tiba keluar untuk memanggilnya.
"Iya Dok, ada apa?" tanya Rangga.
"Bu Rania tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, tapi yang bersangkutan kukuh tidak mau operasi. Kami ingin meminta pendapat Bapak, silahkan masuk,"
Rangga segera masuk ke ruangan, sementara Alisa dan Bintang menunggu bersama ayahnya di luar.
"Sayang, menurutlah apa kata dokter. Aku ingin istri dan anak ku selamat," rayu Rangga.
"Tapi aku ingin lahir normal, Mas. Akh..."
Rangga semakin tidak tahan mendengar kesakitan istrinya.
"Ayolah Sayang, aku tidak tahan melihat mu kesakitan," pinta Rangga.
"Kalau operasi pasti sembuhnya lama," ucap Rania.
Rania lupa jika dia tidak miskin lagi. Ia bisa membeli obat yang mahal agar cepat pulih. Dulu ia selalu ingin lahir normal karena biayanya lebih sedikit dan lebih cepat pulih.
"Apa benar begitu, Dok?" tanya Rangga.
"Secara logika memang begitu, hanya saja jika obatnya bagus dan penanganannya tepat pasti bu Rania cepat pulih," jawab dokter itu.
"Berikan dia obat dan penanganan yang terbaik, yang penting anak dan istri saya selamat dan sehat," putus Rangga.
"Maaf Sayang, aku tidak tega membiarkan mu kesakitan begini. Aku janji akan merawat kalian berdua dengan tangan ku sendiri," ucap Rangga.
Rania terharu, air matanya menetes tanpa ia sadari.
__ADS_1
Dokter bersiap untuk melakukan operasi.