Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 105 Bayar Hutang Kalian


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Laila memutuskan untuk memberi kesempatan suaminya sekali lagi. Demi janji suci yang telah mereka ikrarkan di depan penghulu. Ia memutuskan menerimanya setelah berpikir beberapa hari. Ia sadar jika Alif tidak menuruti dirinya untuk pindah saat itu demi menjaga kehamilannya, walaupun yang terjadi justru sebaliknya.


Mereka memulai lembaran baru dalam hidup mereka. Kehadiran Akila di tengah-tengah mereka berhasil mengobati rasa kehilangan dan kesedihan keduanya.


"Ayah, ayo cepat nanti aku telat ke sekolah," ucap Akila.


"Iya Akila, sabar ya," Alif mempercepat laju motornya.


Tidak berapa lama mereka sampai di sekolah Akila.


"Apa ibu sudah memberi mu uang jajan?" tanya Alif.


"Sudah kok Yah, aku masuk dulu ya,"


Laila mencium tangan Alif, lalu bergegas masuk ke dalam sekolah.


"Alisa dan Bintang di rawat dengan baik oleh pak Rangga, aku juga akan berbuat hal yang sama terhadap Akila," ucap Alif sebelum meninggalkan sekolah putri tirinya.


Ini adalah rutinitas yang ia lakukan beberapa hari ini. Jika ia libur atau masuk malam, maka ia akan mengantar dan menjemput Akila sekolah. Usianya sudah 6 tahun, jadi gadis itu sudah mulai masuk TK.


"Mas, ayo sarapan dulu. Aku sudah membuatkan masakan kesukaan mu," ucap Laila.


"Terima kasih sekali ya, Istri ku Sayang," Alif memakan masakan istrinya dengan lahap.


Kehidupan mereka terlihat harmonis sekali. Tanpa mereka sadari cobaan akan menimpa hidup mereka sebentar lagi.


☆☆☆


"Rangga, aku ingin bicara dengan mu," ucap Anto.


"Serius sekali sih, tinggal bicara saja padahal," seloroh Rangga.


"Ayo lah, aku sedang serius ini,"


Anto memasang muka seriusnya.


"Astaga, iya, iya. Silahkan bicara Pak Anto,"


Rangga duduk persis di depan temannya itu dan bersikap formal sembari menahan tawa.


"Sepertinya aku mulai menyukai dia," ujar Anto.


"Dia? Dia siapa?" Rangga terlihat bingung, ia tidak mengerti apa yang Anto maksud.


"Tapi janji kamu jangan tertawa, dan jangan mengolok ku ya,"


"Teman jatuh cinta masa iya aku akan mengolok, aku justru senang duren (duda keren) ini akhirnya bisa punya pasangan," Rangga menepuk bahu Anto.

__ADS_1


"Aku mulai menyukai Michelle," ucap Anto pada akhirnya.


"Apa?"


Rangga terkejut, sejenak waktu seakan berhenti berputar.


"Kamu serius? Bagaimana mungkin, kalian kan tidak kenal dan baru beberapa kali bertemu?" tanya Rangga bingung.


"Selama ini aku diam-diam menjenguknya di rumah sakit jiwa, dan perasaan itu tumbuh begitu saja. Tadinya aku merasa iba karena cintanya yang tidak berbalas pada mu sehingga ia depresi begitu,"


Anto menjelaskan secara gamblang, sementara Rangga terperangah tidak percaya. Bukannya ingin menghina Michelle atau bagaimana, hanya saja ia merasa Anto pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada dia. Takutnya akan banyak pertentangan jika mereka memaksa bersatu, terutama dari pihak Anto yang notabene keluarganya dari jajaran angkatan darat yang mayoritas orang terhormat.


"Apa yang membuat mu menyukainya? Apa jangan-jangan kamu hanya kasihan sehingga terbawa perasaan?" tanya Rangga masih belum yakin.


"Sepertinya tidak, tapi entahlah. Kita lihat saja nanti," jawab Anto.


Mereka terus saja mengobrol sampai akhirnya Rangga harus pergi karena ada meeting dengan klien penting.


☆☆☆


"Bu, jangan lupa ya untuk membuatkan aku adik perempuan. Ibu dan papa sudah berjanji kepada kami, untuk memberikan adik laki-laki dan perempuan," ucap Alisa ketika pulang sekolah.


"Sayang, Naya saja masih bayi masa Alisa sudah mau minta adik lagi. Kasihan nanti adiknya tidak terurus dengan maksimal," jelas Rania.


Alisa mengerti namun wajahnya terlihat sedih.


Alisa menatap ibunya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu namun merasa ragu.


"Itu Bu... Tadi teman sekolah ku pulang di jemput ibu dan adik perempuannya. Mereka terlihat akrab sekali, apa yang mereka kenakan sama jadi terlihat kompak," jawab Alisa.


"Jepit rambutnya, tasnya, sepatu dan lain-lainnya juga sama," imbuhnya.


Rania tersenyum mendengar penuturan putrinya. Alasannya menurutnya sangat menggelitik namun sangat dalam maknanya.


"Walaupun punya adik lagi, tidak mungkin langsung bisa kamu dandani. Alisa berdoa saja ya, insyaallah ibu mau kok punya adik bayi tapi tunggu adik Naya agak besar dulu ya,"


Rania mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Alisa tersenyum mendengar ucapan ibunya.


☆☆☆


Sore harinya.


Karena Alif masuk kerja malam jadi dirinya bisa menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya. Mereka menonton tv di ruang keluarga. Kadang terdengar suara tawa dari mereka.


"Yah, kapan kita jalan-jalan bersama kak Alisa dan juga Bintang?" tanya Akila.


"Nanti ya Sayang, kita harus mencocokkan waktu dengan mereka. Ayah janji akan mengajak kalian semua main di time zone," jawab Alif.


"Hore... Akila senang banyak saudaranya sekarang,"

__ADS_1


Akila duduk di antara orang tuanya, ia bahagia sekali mendengar jawaban ayahnya.


"Assalamualaikum," seseorang memberi salam.


"Waalaikum salam," keduanya beranjak menyambut tamu mereka.


Laila terkejut, ia masih marah kepada ibu mertuanya. Enggan rasanya untuk menyalaminya, jadi dia hanya diam saja ketika suaminya menyalami ibunya itu.


"Ibu kok tidak bilang mau ke sini, Alif kan bisa jemput. Mari masuk,"


Alif masih sopan kepadanya walaupun dia sudah mengecewakannya berulang kali. Wanita itu tidak langsung duduk melainkan berkeliling melihat seluruh ruangan.


"Kamu kok betah tinggal di sini, sudah rumahnya kecil, perabotan ala kadarnya," ucap Bu Nani dengan sinis.


"Aku nyaman kok Bu tinggal di sini. Ada mereka yang selalu membuat bahagia," jawab Alif.


Ibunya menyingkap tudung saji di meja makan, lalu tersenyum meledek.


"Apa kalian makan begini setiap hari? Memangnya uang mu kemana, Lif?"


Bu Nani terlihat sangat angkuh dan sombong. Jika Laila tidak ingat wanita itu adalah mertuanya sudah ingin ia tampar mulutnya.


"Jika Ibu datang ke sini hanya untuk menghina kami, sebaiknya ibu pergi saja," usir Laila tanpa basa basi lagi.


"Sudah berani kamu ya sekarang," bu Nani melotot ke arahnya.


"Kenapa harus takut? Jika aku tega, aku bisa melaporkan ibu kepada polisi dengan tuduhan sengaja membunuh bayi ku,"


Laila balas menatap tajam ke arah mertuanya.


"Sombong! Aku ke sini hanya ingin kalian melunasi hutang kalian," teriak bu Nani.


"Hutang apa, Bu?"


Alif merasa bingung karena merasa tidak berhutang kepada ibunya.


"Kamu lupa untuk acara pernikahan kemarin suami ku yang mengeluarkan uang. Lalu untuk biaya operasi istri mu kemarin. Kalian harus bayar totalnya 10 juta rupiah,"


Bu Nani menengadahkan tangannya.


Laila dan Alif saling berpandangan. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Astaga Bu, ayah dengan suka rela memberinya karena aku tidak punya uang sebanyak itu. Kenapa Ibu tega menganggapnya hutang,"


Alif tidak menyangka ternyata ibunya mata duitan.


"Enak saja. Kamu sudah lebih memilih wanita ini daripada keluarga mu, jadi kamu harus membayarnya segera. Ingat itu!"


Bu Nani melenggang pergi, meninggalkan mereka yang masih terpana.

__ADS_1


__ADS_2