Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 56 Berhasil Kabur


__ADS_3

"Iya benar, nanti saja ceritanya ya. Kita masih dalam bahaya," ucap pak Tohir.


Mereka berjalan menyusuri hutan di bawah bantuan sinar rembulan dan cahaya senter yang kadang di nyalakan. Mereka sangat memperhitungkan semuanya, ketiganya juga tampak sudah hapal dengan jalanan yang tengah mereka lalui.


Setelah sekitar setengah jam mereka berhasil sampai di jalan raya. Ternyata mereka menyembunyikan motor mereka di balik semak-semak. Mereka membawa tiga motor sehingga bisa membonceng masing-masing. Ternyata hutan tadi tidak terlalu jauh dari rumah pak Tohir yang dulu pernah mereka mampir. Namun jalannya sepertinya lewat jalan pintas karena Rangga merasa asing.


Setelah sampai, mereka sangat lega dan berterima kasih kepada ketiganya. Pak Tohir yang pengertian segera menyuruh mereka mandi dan beristirahat terlebih dahulu.


"Maaf ya karena tadi kita sibuk menyusun rencana jadi tidak sempat membelikan baju, jadi tidak apa-apa pakai seadanya saja ya,"


Pak Tohir menyerahkan beberapa helai pakaian untuk mereka semua.


"Terima kasih sekali ya Pak sudah menyelamatkan kami semua, kita berhutang budi kepada bapak semuanya," ucap Rangga.


Selesai membersihkan diri, Rania menemani kedua anaknya di kamar untuk beristirahat. Rasa lelah dan ketakutan membuat mereka cepat terlelap. Karena belum mengantuk, dia bangkit untuk bergabung dengan bu Sari dan pak Tohir yang sedang mengobrol bersama Rangga dan kedua orang pria yang turut membantu mereka tadi.


"Oh jadi pak Tohir tahu keberadaan kami karena melihat mobil yang jatuh itu ya?" tanya Rangga.


"Iya, kami segera melihat ke dalam mobil namun tidak ada siapa-siapa. Jadi kami menyusuri hutan, tapi kemudian kaget karena di depan rumah di dalam hutan ada dua orang pria yang menakutkan. Akhirnya kami intai, ternyata kalian sekeluarga sedang di sekap di sana" jawab pak Tohir.


"Iya Pak, ternyata mereka suruhan orang yang kasusnya sedang saya tangani. Besok adalah sidangnya, jika sampai saya tidak bisa hadir di sidang maka orang tersebut akan di untungkan," ucap Rangga.


"Wah ternyata motifnya itu ya, saya kira mereka itu mau merampok," balas pak Tohir.


"Oh iya Pak, apa boleh saya pinjam ponsel. Karena semua barang saya ada di dalam mobil, entah mereka ambil atau tidak saya juga belum tahu. Saya harus segera menghubungi polisi,"


"Pakai ponsel saya saja Pak, ini baru saya isi pulsa," seorang pria yang turut membantu mereka menyodorkan ponselnya.


Rangga mengucapkan terima kasih dan mulai menghubungi polisi. Ia segera melaporkan kejadian tadi yang menimpanya. Rangga juga menghubungi orang tuanya, untuk meminta mereka mengantarkannya besok pagi. Ia tidak bisa bercerita banyak di telepon dan memutuskan menjelaskannya besok.


"Terima kasih sekali ya Pak, besok akan saya ganti," ucap Rangga.


"Aduh tidak perlu Pak, hanya pulsa saja," balas pria itu.


"Bapak-bapak sekalian sudah berjasa terhadap hidup kami, kami wajib membalasnya,"

__ADS_1


"Kita tulus pak Rangga, tidak mengharapkan balasan apa-apa,"


Pak Tohir dan semuanya memang tulus membantu, tadinya mereka akan pergi ke desa tetangga untuk membantu hajatan saudara mereka dengan melewati jalan pintas. Karena melihat mobil kecelakaan dan merasa kenal mereka turun untuk melihat dan terjadilah yang tadi mereka telah ceritakan.


"Kita sebaiknya istirahat dulu, agar besok pagi badan terasa segar. Pak Rangga dan bu Rania pasti sangat lelah setelah apa yang terjadi," ucap pak Tohir.


"Terima kasih Pak, besok pagi orang tua saya akan menjemput kami. Saya harus datang di sidang besok, agar penjahat itu mendapat hukuman yang setimpal," balas Rangga.


Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing, sementara dua orang lainnya pulang ke rumah mereka.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali orang tua Rangga telah datang, mereka membawa baju untuk semuanya. Mereka juga membawa berbagai macam makanan, kue dan buah-buahan. Polisi juga sudah mengabari ke ponsel orang tuanya yang semalam ia berikan kepada pak polisi, mereka telah berhasil membekuk kedua penjahat yang sempat menyekap mereka.


"Terima kasih ya Pak, sudah menyelamatkan mereka. Kami tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada kalian," ucap ayah Rangga.


"Itu juga sudah takdir Pak, sepertinya Tuhan yang menggerakkan hati kami lewat sana, padahal sebelumnya jarang sekali lewat jalan itu," balas Pak Tohir.


Ayah Rangga menyodorkan amplop yang begitu tebal, pak Tohir dan bu Sari tidak mau menerima namun orang tua Rangga sangat memaksa. Akhirnya mereka pun menerimanya.


Karena berburu dengan waktu, mereka segera pamit karena harus mengantar Rangga ke rumahnya untuk mengambil berkas baru ke tempat sidang.


☆☆☆


"Pak, kenapa di terima lagi pemberian mereka. Kita kan tulus membantu, harusnya Bapak tolak," ucap bu Sari.


"Bapak sudah menolak Bu, tapi orang tuanya pak Rangga sangat memaksa jadi terpaksa di terima," balas Pak Tohir.


"Sepertinya itu banyak sekali lo Pak, mereka itu sangat kaya ya. Coba di buka, Pak,"


Mereka sangat terkejut melihat isinya, uang itu sangat banyak sekali hingga mereka bingung menghitungnya. Seumur hidup belum pernah mereka melihat dan memegang uang sebanyak itu.


"Astagfirullah, banyak sekali ini Bu," ucap Pak Tohir.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam, cepat buka Bu. Sepertinya itu suara Bejo, suruh masuk saja,"


Bu Sari segera membuka pintu, ternyata benar Bejo dan Sarimin yang datang. Bu Sari langsung menyuruh mereka masuk.


"Pak Rangga sudah pulang ya, Bu?" tanya Bejo.


"Iya, baru saja di jemput orang tuanya. Mereka terburu-buru karena ada sidang penting sebentar lagi. Kalian cepat masuk ke kamar, bapak sudah menunggu," jawab bu Sari.


"Lah kok ke kamar, kenapa tidak di sini saja?"


"Sudah sana masuk, kalian pasti senang,"


Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar di susul oleh bu Sari.


"Astaga Mas, uangnya kok banyak sekali. Itu dapat darimana?" tanya Sarimin.


"Sini duduk, kita bagi tiga sama rata. Ini rejeki dari Allah," jawab pak Tohir.


Pak Tohir membagi tiga uang yang ada. Namun mereka berdua masih belum juga mengerti.


"Kami memang butuh uang Mas, tapi kami tidak mau kalau di suruh berbuat kejahatan ya," ucap Bejo.


"Enak saja, aku juga mana mau Bejo. Ini pemberian dari orang tuanya pak Rangga, aku sudah menolak tapi beliau memaksa jadi terpaksa aku terima. Aku tidak menyangka jika sebanyak ini,"


"Apa? Kok banyak sekali ya? Mereka ternyata orang kaya,"


Mereka lanjut membagi uangnya. Masing-masing mendapat 10 bendel uang nominal 10 juta.


"Astaga, ini 100 juta. Berarti mereka memberi total 300 juta untuk kita,"


Mereka sangat bersyukur sekali. Ketika dalam keputusasaan dalam ekonomi mereka mendapat bantuan dari jalan yang tidak pernah mereka sangka. Berbuat baiklah dengan tulus niscaya kebaikan itu akan berbalik kepada mu.

__ADS_1


__ADS_2