Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 92 Selamat Datang Abhinaya


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa lama operasinya selesai. Semua berjalan dengan lancar. Bayi dan ibunya selamat dan sehat.


"Kita senang mendengar Nia sudah melahirkan. Kita pulang dulu ya karena sudah malam, besok kami akan menjenguk. Selamat jadi ayah,"


Alif menjabat tangan Rangga dan merangkulnya.


"Terima kasih untuk perhatian kalian,"


Alif mencium kedua anaknya dan berpamitan pulang bersama Laila.


"Papa, adik ku perempuan kan?" tanya Alisa.


"Tidak Kak, adik ku pasti laki-laki,"


Rangga tersenyum dan memeluk keduanya.


"Sayang, papa juga belum tahu karena suster tadi hanya menyampaikan jika operasinya lancar. Apapun jenis kelaminnya kita doakan ibu dan adik sehat,"


Rania memang sudah beberapa kali USG, namun mereka meminta dokter tidak mengatakan jenis kelaminnya. Mereka ingin semua menjadi kejutan saat dirinya melahirkan.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Mas, ayo kita jenguk mbak Rania," ajak Laila.


Biasanya istri baru dan mantan istri dalam sinetron atau pun di kenyataan tidak pernah akur. Namun tidak dengan Laila, ia tidak menganggap Rania adalah rival sehingga pantas untuk di musuhi. Ia tahu Rania wanita yang baik, makanya ia senang mengenalnya.


"Iya sebentar, kamu kok tidak sabar sih bertemu Rania," ucap Alif.


"Iya Mas, aku ingin lihat bayinya. Aku jadi tidak sabar ingin punya keturunan dari kamu," Laila mengelus perutnya yang masih rata.


Laila sedikit kuatir, karena sudah beberapa bulan menikah ia belum juga kunjung hamil. Sempat ia tidak mengalami menstruasi di bulan pertama menikah namun setelah di tes hasilnya negatif, ia merasa kecewa sekali. Sebenarnya ia juga sudah 2 bulan ini belum menstruasi lagi, tapi karena takut kecewa ia tidak mau melakukan tes lagi.


Ia tidak terlihat seperti wanita hamil, ia tidak mengalami mual dan pusing seperti saat mengandung Akila dulu, jadi ia menganggap hal itu wajar. Karena selama ini memang jadwal menstruasinya terkadang tidak teratur.


"Ya sudah, nanti kita semakin gencar bikinnya ya. Biar cepat jadi," goda Alif.


Laila hanya tersenyum dan mencubit lengan suaminya itu. Mereka segera berangkat menuju rumah sakit.


☆☆☆


"Sayang, kenapa kalian tidak sekolah?" tanya Rania.


"Kita ingin menemani ibu dan adik bayi,"


Keduanya langsung memeluk ibunya.


"Biarkan saja Sayang, toh mereka juga tidak pernah bolos,"


Rania mencium kening istrinya itu. Bayi mereka sedang di mandikan oleh suster.


Rania melahirkan seorang bayi laki-laki yang menggemaskan. Beratnya 3,6 kilo gram dengan panjang 52 cm. Mereka memberinya nama Abhinaya Atha Hartawan yang kelahirannya di harapkan bisa memberi semangat kepada siapapun. Tidak lupa nama belakang Rangga juga di sematkan di akhir namanya.


"Assalamualaikum,"


Alif dan Laila serempak memberi salam.


"Waalaikum salam. Astaga, kalian pagi sekali datang. Terima kasih ya Laila, Mas Alif,"


Mereka membawakan kado untuk bayi Rania. Walaupun mereka tahu jika kado mereka pasti Rania bisa membelinya ribuan kali lipat, tapi ini bentuk perhatian mereka.

__ADS_1


"Pak Alif dan istri repot-repot sekali sampai membawa kado, terima kasih ya,"


Rangga mengambil pemberian mereka dan menaruhnya di meja.


"Nelly juga titip salam. Ia minta maaf belum bisa menjenguk, karena suaminya langsung memboyongnya ke luar kota untuk tugas," ucap Alif.


"Iya Mas, tidak apa-apa. Semoga dia segera di beri keturunan juga, kalian juga ya semoga cepat menyusul," balas Rania.


"Amin,"


"Sayang, aku suapin dulu ya kamu waktunya makan agar bisa minum obat,"


Rangga membuka makanan dari rumah sakit. Menunya ikan sehingga baunya sedikit menyengat.


"Huek... huek..."


Tiba-tiba Laila merasa mual mencium bau makanan itu.


"Laila kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Alif yang terlihat kuatir.


"Mbak pinjam kamar mandinya ya,"


"Iya pakai saja, Laila,"


Laila segera ke kamar mandi di susul suaminya. Tidak ada yang keluar, tapi perutnya masih terasa mual. Bahkan sekarang kepalanya sedikit pusing. Alif memeganginya ketika keluar dari kamar mandi. Ia mendudukkannya di sofa.


"Mas, lebih baik panggilkan dokter untuk Laila,"


"Iya, Sayang,"


Rangga segera memanggil dokter, sementara Alif sibuk memijat istrinya.


"Kamu kenapa Laila? Apa sedang hamil?" tanya Rania.


"Oh, aku kira hamil. Karena ciri-cirinya hampir sama,"


"Apa jangan-jangan yang di katakan Nia benar, mungkin kamu hamil Laila,"


Alif terlihat bahagia, namun Laila masih ragu. Ia tidak ingin berharap, karena takut kecewa lagi.


"Selamat pagi, mana yang sakit?" tanya dokter yang di bawa Rangga.


"Istri saja mual-mual tapi tidak muntah, Dok," jawab Alif.


"Kita ke sebelah saja, biar saya periksa,"


Mereka mengikuti langkah dokter itu.


"Keluhannya apa saja, Bu?" tanya dokter.


"Tadi saya mual saat mencium bau ikan yang di masak. Kepala juga tiba-tiba pusing," jawab Laila.


"Apa bulan ini sudah menstruasi?" tanya dokter itu lagi.


Laila pun menjelaskan jika dirinya memang sering mengalami telat datang bulan. Dia juga pernah tes kehamilan namun negatif. Dokter mulai memeriksanya sembari mendengarkan ceritanya.


"Jadi istri saya kenapa, Dok?" tanya Alif tidak sabar.


Dokter hanya tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk kembali.


"Istrinya tidak sakit kok Pak, dia sedang hamil. Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua,"

__ADS_1


Keduanya saling berpandangan, seakan tidak percaya dengan penjelasan dokter.


"Dokter serius?" tanya Laila.


"Iya Bu, kandungannya sudah 10 minggu. Jika Ibu dan Bapak kurang yakin bisa melakukan usg,"


"Tidak perlu Dok, kami percaya kok,"


Mana mungkin mereka tidak percaya kepada ahlinya.


"Baiklah, ini saya beri vitamin dan obat sekalian ya. Silahkan tebus di ruang farmasi,"


"Kira-kira total semua biayanya berapa ya, Dok?"


Alif takut uangnya tidak cukup, karena ia belum gajian. Rumah sakit tempat Rania melahirkan merupakan rumah sakit besar dan terkenal mahal. Otomatis biaya setiap perawatannya pasti cukup merogoh kocek yang cukup dalam.


"Semua sudah jadi satu dengan bu Rania, tadi pak Rangga sudah berpesan kok,"


Alif dan Laila saling berpandangan, begitu baiknya Rangga kepada mereka.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya Dok,"


Mereka keluar dari ruangan itu.


"Laila aku sangat senang sekali akan mendapatkan anak dari mu, jaga dia baik-baik ya," Alif mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Ya Mas, aku juga sangat senang sekali. Kita tebus obat dulu baru ke ruangan Mbak Rania lagi ya,"


Setelah sekitar 30 menit, mereka kembali ke ruangan Rania. Di sana sudah ada beberapa tamu yang tampak mengunjunginya.


"Eh Laila, bagaimana keadaan mu? Apa kata dokter tadi?" tanya Laila.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Mbak, boleh aku gendong anaknya tidak?"


Laila gemas sekali melihat bayi yang montok itu, ia tak sabar untuk segera menimang bayi juga.


"Boleh kok, ini,"


Rania memberikan putranya untuk Laila gendong.


"Tampan sekali kamu, Sayang. Namanya siapa, Mbak?"


"Namanya Abhinaya Atha Hartawan, panggilannya Naya,"


"Bagus namanya, sesuai dengan orangnya,"


Laila mencium bayi itu dengan lembut.


"Kamu sudah pas sekali menggendong bayi, jadi tidak sabar ingin anak kita segera lahir," ucap Alif.


"Jadi Laila hamil?" tanya Rania.


"Iya Mbak alhamdulillah. Kata dokter sudah 10 minggu," jawab Laila.


"Alhamdulillah, selamat ya kalian akan segera menyusul. Semoga lancar sampai persalinan, amin,"


Rania mendoakan dengan tulus.


"Amin," Laila dan Alif menjawab serempak.


"Oh ya, Pak Rangga dan Rania terima kasih ya sudah membayarkan biaya periksa Laila tadi," ucap Alif.

__ADS_1


"Ah santai saja pak Alif, saya ikut senang kalian akan segera menyusul punya bayi. Selamat ya," balas Rangga.


__ADS_2