
Tepat pukul 12 malam mereka sampai di rumah orang tua Rania. Angin dingin menyeruak menembus kulit saat pintu mobil di buka. Suasana desa yang jauh dari hiruk pikuk dan polusi udara terasa begitu segar dan memanjakan pernapasan mereka. Rumah sederhana itu masih kokoh walau jauh dari kata bagus.
"Sepertinya orang tua mu sudah tidur karena ini sudah tengah malam," ucap Rangga.
"Iya, biar aku ketuk,"
Mereka memasuki teras rumah.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Ternyata ayah Rania langsung menjawab salamnya.
"Rania, kalian sudah sampai, ayo masuk," ajak ayahnya.
Mereka segera menyalaminya, di susul ibu Rania yang juga terbangun.
"Sudah makan belum, kalau belum ibu siapkan makanan dulu?" tanyanya.
"Sudah tadi di jalan Bu, kita mau istirahat saja," jawab Rania.
Rania segera menyuruh Rangga tidur, menyetir jarak jauh membuat pria itu pasti sangat lelah. Karena rumah ini hanya ada 2 kamar, Rania membiarkan pria itu tidur di kamar sedangakan anak-anak tidur di kamar neneknya. Ayahnya selalu mengalah dengan tidur di sofa yang sedikit usang di makan usia.
Namun seperti biasa setiap kedatangannya ia dan ibunya tidak akan langsung tidur melainkan bercerita tentang kejadian selama mereka tidak bertemu. Rania bercerita tentang perceraiannya dengan Alif, usahanya yang sukses serta kedekatannya dengan Rangga.
"Bu, rumah ini sudah sangat tua jadi harus di renovasi supaya lebih layak. Alhamdulillah karena usaha ku sekarang sukses maka nanti aku beri uang untuk merenovasinya lagi ya. Nanti kita tambah dua kamar lagi agar jika semua anak ibu berkunjung bisa tidur di kamar semua," ucap Rania.
"Tapi Nak, itu pasti butuh biaya yang banyak. Lebih baik uangnya kamu tabung untuk pendidikan anak-anak mu," tolak ibunya.
"Tenang saja Bu, untuk mereka sudah ada sendiri jadi ibu tidak perlu kuatir. Aku bisa sukses seperti ini juga pasti karena doa Ibu dan bapak," ucap Rania.
"Lalu bagaimana hubungan mu dengan pria itu? Sepertinya dia orang kaya ya?"
"Biar nanti ibu dengar sendiri dari dia. Namanya Rangga, dia itu mantan kekasihnya saat sekolah yang dulu pernah aku ceritakan Bu. Pekerjaannya seorang pengacara, tapi dia masih belum pernah menikah,"
__ADS_1
"Tapi apa dia tidak keberatan dengan status mu yang janda dengan dua anak?"
Rania menggeleng dan tersenyum kepada ibunya.
"Dia tidak keberatan sama sekali, dia juga sangat menyayangi anak-anak. Coba Ibu nilai sendiri nanti saat mereka berinteraksi,"
"Syukurlah kalau begitu, kalau ibu setuju saja dengan siapapun kamu menjalin hubungan. Asal kalian bahagia dan saling mencintai,"
Banyak hal lagi yang mereka bicarakan, Rania memang mempunyai sifat yang mirip sang ibu. Baik, ramah, perhatian dan sifat yang lainnya. Karena terlalu asyik mereka sampai lupa waktu. Mereka baru tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
☆☆☆
Seperti biasa rutinitas seorang wanita akan di mulai sejak subuh menjelang. Kedua orang tua Rania sudah shalat terlebih dahulu di susul oleh Rania. Sedangkan Rangga sepertinya sangat mengantuk sehingga tidak mendengar suara adzan yang berkumandang.
"Bangunkan saja Nia, mengingatkan hal baik itu wajib. Apalagi kalian berniat untuk membina keluarga, wajib saling mengingatkan," ucap ayahnya.
"Iya, Pak,"
Rania segera mengetuk pintu kamar Rangga.
Tok... tok... tok...
"Iya, Nia,"
Pria itu membuka pintu sambil masih mengucek matanya.
"Maaf ya, aku mengantuk sampai tidak dengar adzan," ucap Rangga.
"Tidak apa-apa, kamu shalat dulu nanti baru tidur lagi ya,"
Rangga tersenyum penuh arti ke arah gadis itu. Sementara Rangga shalat, Rania dan ibunya sudah berkutat dengan pekerjaan rumah. Bersih-bersih dan memasak serta yang lainnya.
"Loh kok malah mandi, apa tidak dingin?"
Rania melihat Rangga yang baru selesai mandi, ia merasa heran karena tadi pria itu masih terlihat mengantuk sekali.
"Kalau sudah bangun, aku susah untuk tidur lagi. Aku mau liat-liat sekeliling dulu ya,"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan bikinkan minum,"
Rangga tampak berbicara dengan ayah Rania di teras. Ia segera membuatkan mereka minum. Tidak berapa lama kemudian makanan sudah siap, Rania segera menatanya di bawah. Rumah ini tidak memiliki meja makan jadi mereka menggelar tikar dan makan lesehan di bawah.
"Nak Rangga, ayo sarapan dulu sekalian dengan bapak. Maaf ya makanannya sederhana,"
"Justru makanan rumah itu sangat nikmat Bu, seperti masakan Rania," puji Rangga.
Kaum pria makan lebih dulu, Rania sibuk memandikan putranya lalu menyuapinya.
Selepas sarapan, semua duduk di ruang tamu karena Rangga ingin bicara serius dengan kedua orang tuanya.
"Begini Pak, Bu, sebenarnya kedatangan saya kesini selain ingin bersilaturahmi juga bermaksud untuk meminta restu. Jujur saya mencintai Rania sudah sejak sekolah, namun kita terpisah karena keadaan. Sampai saat ini saya juga masih mencintainya, jadi saya ingin mengikat Rania dalam tali pernikahan. Saya sadar saya bukan pria yang sempurna tapi insyaallah saya akan selalu berusaha membahagiakan Rania dan anak-anak,"
Kata-kata pria itu mungkin sudah umum terdengar di telinga, namun mampu membuat mata Rania dan kedua orang tuanya berkaca-kaca karena terharu. Di usianya yang tidak lagi muda, seorang pria melamarnya dengan tulus. Mungkin ini yang sering orang bilang bahwa kebahagiaan pasti akan datang cepat atau lambat.
"Kalau bapak menyerahkan semua kepada Rania karena dia yang menjalaninya. Selama seagama, punya pekerjaan dan saling mencintai maka bapak akan merestui," balas ayah Rania.
"Alhamdulillah, kalau ibu bagaimana?" tanya Rangga.
"Ibu sama Nak, selama memang punya rasa yang sama kenapa tidak di halalkan segera agar tidak timbul fitnah. Yang penting Nak Rangga bisa menerima Rania apa adanya dengan status dan kondisinya sekarang," jawab ibu Rania.
"Insyaallah saya bisa terima dengan ikhlas. Jika memang tidak ada halangan rencananya saya akan membawa orang tua saya kesini untuk melamar Rania secara resmi. Setelah itu mungkin bisa membicarakan tentang pernikahan kami," balas Rangga.
"Coba bapak ingin dengar jawaban Rania bagaimana?"
Rania tertunduk, tersipu malu di todong pertanyaan begitu oleh ayahnya.
"Aku bersedia pak, aku juga mencintai Rangga," jawab Rania.
"Alhamdulillah jika keduanya punya perasaan yang sama. Sebaiknya mulai sekarang biasakan jangan memanggil calon suami mu nama saja, harus ada embel-embelnya agar terdengar lebih enak di telinga dan juga lebih sopan," ucap ayah Rania.
"Iya Pak, Rania emang tidak romantis sama sekali," ledek Rangga.
Rania segera melotot ke arah pria itu, membuat semuanya tertawa.
"Harusnya Nak Rangga juga jangan panggil nama agar lebih mesra, seperti ibu dan bapak ini sudah tua begini masih mesra," seloroh ayah Rania.
__ADS_1
Sontak istrinya mencubit pria paruh baya yang suka bercanda itu, membuat semuanya tertawa kembali.