
Keesokan harinya.
Rania mengemas semua barang yang di perlukan untuk persiapan pernikahannya sejak pagi. Sopir Rangga akan mengantarnya menuju rumah orang tuanya. Sebenarnya ia sudah menolaknya dan memilih memesan travel, namun menurut calon suaminya itu akan lebih aman dan nyaman menggunakan kendaraan pribadi.
"Sayang, jangan bawa terlalu banyak baju ya. Setelah pernikahan besoknya kita akan kembali kemari untuk melakukan pesta lagi di tempat Om Rangga," ucap Rania.
"Iya Bu, aku hanya bawa beberapa saja kok. Aku senang sekali bisa melihat pernikahan ibu, semoga ibu selalu bahagia dengan Om Rangga," balas Alisa.
"Amin,"
Beberapa saat kemudian, sopir Rangga datang menjemput mereka. Setelah memasukkan semua barang ke dalam mobil mereka pun segera berangkat. Separuh perjalanan mereka habiskan dengan mengobrol sedangkan sisanya mereka tertidur.
"Nenek..."
Alisa menghambur memeluk neneknya yang tengah mengambil jemuran.
"Wah cucu ku sudah datang, ayo masuk dulu. Nenek mau ambil jemuran sebentar,"
Rania segera menyalami ibunya. Lalu masuk ke dalam rumah bersamanya.
"Bagaimana kabar kalian Nak?" tanya ibunya.
"Alhamdulillah semua baik, ibu dan bapak juga sehat kan?"
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat sekarang,"
"Cepat sekali Bu selesainya rumah ini, sekarang kelihatan bagus,"
Rania memandang sekeliling rumah yang terlihat berbeda, jauh lebih bagus dari sebelumnya.
"Iya Nak, soalnya kamu akan menikah jadi harus di percepat. Yang membantu banyak sekali selain pekerjanya sendiri, makanya cepat selesai,"
"Tapi ibu membayar mereka juga kan?"
Ibunya menggeleng.
"Mereka tidak mau walaupun bapak dan ibu memaksa, jadi saat rumah selesai semua kita ke rumah mereka untuk membawa sembako,"
Hidup di kampung memang rasa gotong royongnya sangat tinggi. Kekeluargaan mereka sangat rekat. Jadi tidak heran jika terjadi hal seperti itu.
"Kamu tidur di sini saja, kamar ini untuk kalian,"
Rania melihat kamar yang baru di bangun itu, bersih dan lebih besar dari dua kamar sebelumnya. Perabotannya juga tampak baru.
"Bu, kenapa semua barangnya baru? Apa uangnya cukup?" tanya Rania.
__ADS_1
"Masih lebih malah Nak, makanya ibu tidak mau kamu beri lagi untuk persiapan pernikahan karena sisanya masih ada,"
Mereka pun terus saja mengobrol, tentang rumah, persiapan pernikahan dan lainnya. Rania memberi ibunya 50 juta lagi untuk keperluan pernikahan dan pegangan ibunya.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Hari ini di lakukan pengajian di rumah Rania, sebagai tanda syukur atas selesainya renovasi rumah orang tuanya serta doa untuk menyambut pernikahannya. Banyak orang yang hadir, mereka ikut senang dengan kebahagian Rania. Banyak doa baik yang mereka sampaikan kepadanya. Rania tidak berhenti bersyukur atas nikmat yang Tuhan beri kepadanya.
"Bagaimana untuk pelaminannya, Pak?" tanya Rania saat selesai acara.
"Semua sudah beres kok Nak, nanti malam tenda akan mulai di pasang,"
"Alhamdulillah, terima kasih kalian sudah melakukan semua untuk ku,"
Rania memeluk kedua orang tuanya dengan perasaan haru.
Beberapa saat kemudian, satu persatu saudara kandungnya mulai berdatangan. Tiara dan keluarganya yang pertama datang, kemudian di susul oleh Bagas dan keluarganya. Beruntung rumah sudah selesai di renovasi sehingga semuanya bisa tidur di dalam kamar.
Hari ini rumah orang tuanya penuh sesak dengan orang-orang yang membantu. Kaum ibu terlihat sibuk membuat kue, sedangkan makanan sudah memakai katering jadi tidak perlu lagi memasak.
☆☆☆
Keesokan harinya.
"Ya Allah aku tidak menyangka aku akan menikah lagi. Semoga ini menjadi yang terakhir sampai akhir hayat ku,"
Rania menitikkan air mata melihat kebahagiaan semua orang. Dia sangat bahagia sekali, sebentar lagi dia tidak akan merasa kesepian, kedua anaknya akan memiliki sosok ayah yang akan selalu melindungi mereka.
Beberapa saat kemudian.
Rangga dan keluarganya sudah datang. Setelah menikmati jamuan yang telah di sediakan, mereka segera bersiap untuk acara akad nikah. Rania dan Rangga segera memakai pakaian untuk akad yang sudah mereka pesan. Keduanya nampak serasi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Rangga Hartawan Bin Irfan Putra Hadi Ningrat dengan anak saya yang bernama Rania Salsabila dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, uang tunai senilai sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah, satu set perhiasan emas total seberat 50 gram dan sebuah rumah dibayar tunai,"
Dengan suara sedikit bergetar karena terharu ayah Rania mulai menjabat tangan calon menantunya untuk memulai ijab kabul.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rania Salsabila binti Sujatmiko dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai,"
Tidak sia-sia Rangga menghapalkannya setiap hari, ia bisa menyelesaikannya hanya dalam satu kali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah,"
__ADS_1
Semua menjawab serentak. Air mata kebahagian memenuhi ruangan itu. Orang tua mereka sangat bahagia sampai tidak berhenti menitikkan air mata.
"Aku sangat bahagia Pa, akhirnya putra kita menikah juga,"
Orang tua Rangga saling berpelukan. Mereka sangat bahagia putranya telah resmi menikah di usianya yang telah matang.
"Alhamdulillah Pak, Rania sudah resmi di persunting orang. Semoga ini menjadi pernikahannya yang terakhir dan mereka selalu bahagia,"
Orang tua Rania juga tidak kalah bahagia.
Sesudah acara selesai, keluarga Rangga di perkenankan istirahat terlebih dulu sembari menunggu acara resepsi di adakan.
"Kalian makan saja dulu, hari ini akan sangat melelahkan untuk kalian,"
Rania dan Rangga menuruti saran ibunya. Alisa dan Bintang tampak sangat bahagia, selain karena pernikahan ibu mereka, mereka juga jadi bisa bertemu dengan semua saudara mereka yang berasal dari jauh.
☆☆☆
Acara resepsi yang di adakan secara sederhana ternyata sangat meriah. Acara ini mungkin sederhana bagi orang kalangan atas namun sudah tergolong mewah di desa Rania. Banyak pedagang kaki lima berderet berjualan di dekat rumahnya.
"Pa, itu kenapa banyak orang jualan di depan rumah?" tanya ibu Rangga.
"Aku juga tidak tahu, Ma," jawab suaminya.
Ibu Rania yang mendengar pun menjelaskan.
"Memang begitu kalau di desa Bu, maklum di sini jarang ada hiburan. Jadi jika ada yang hajatan pasti banyak yang melihat, itu menjadi rejeki untuk para pedagang itu,"
Kedua orang tua Rangga terpana mendengar penjelasan dari besannya.
'Ya ampun sesepi itukah di desa ini? Kasihan sekali mereka' batin orang tua Rangga.
Setelah resepsi selesai keluarga Rangga berpamitan untuk pulang.
"Kita pamit dulu ya Pak, Bu. Maaf sekali tidak bisa menginap karena harus mempersiapkan untuk acara yang di sana,"
Seluruh keluarga mengantarkan kepergian mereka hingga di depan rumah.
"Kalian tidur saja sana, sudah malam pasti capek," ucap ayah Rania.
"Iya, Pak," jawab Rangga dan Rania serempak.
"Kamarnya di sana Mas, aku mau menemui ibu dulu,"
Rangga segera masuk ke kamar yang di tunjuk Rania. Betapa terkejutnya ia melihat ada yang tertidur di atas kasur.
__ADS_1
"Sepertinya harus sabar menunggu malam pertama,"
Rangga tersenyum sembari mencium kedua malaikat kecilnya itu.