Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 110 Permintaan Michelle


__ADS_3

Keesokan harinya.


Laila melakukan rutinitasnya setiap pagi seperti biasa. Hari ini suaminya masuk pagi, jadi dirinya yang mengantarkan Akila ke sekolah. Walaupun sedikit menggerutu karena kecewa ayahnya masuk pagi namun gadis kecil itu tetap berusaha menerima.


"Hari ini aku mau ke tempat mbak Rania, aku harus segera mengembalikan uang itu," ucap Laila.


Laila segera mengantar barang dagangannya ke kantin pabrik. Setelah itu ia segera melajukan motornya menuju rumah Rania. Ia membelikan kue di jalan untuknya.


☆☆☆


Di rumah orang tua Alif.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Bu Nani menyuruh suaminya membuka pintu. Pak Agus menurut saja, ia memang lebih banyak mengalah kepada istrinya itu.


"Loh Nelly, kamu dengan siapa Nak? Mana suami mu?"


Pak Agus mengedarkan pandangannya, ia tak melihat menantunya di mana pun. Putrinya datang hanya sendiri saja.


"Ayah..."


Nelly menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Ia mulai terisak membuat ayahnya bingung.


"Tenang dulu Nak, ayo kita masuk,"


Pak Agus mengajak putrinya duduk di ruang keluarga. Bu Nani yang penasaran mendengar suara orang menangis segera menghampiri mereka.


"Nelly? Kamu ke sini dengan siapa? Kenapa kamu menangis?"


Bu Nani ikut bergabung bersama keduanya.


"Menangislah Nak, keluarkan semua beban di hati mu. Jika sudah tenang, ceritakanlah kepada orang tua mu ini apa yang terjadi," ucap pak Agus.


Nelly terus menumpahkan air matanya. Kedua orang tuanya ikut sedih melihat putrinya menangis tersedu-sedu seperti itu. Setelah merasa tenang, Nelly mulai berbicara.


"Bolehkah aku tinggal di sini lagi?" tanya Nelly.


"Sampai kapan pun rumah ini akan menjadi rumah mu, Nak. Tapi kamu kan sudah bersuami, tidak pantas kamu tinggal di sini tanpa suami mu," jawab ayahnya.


"Iya Nelly, sudah beruntung dapat suami kaya. Untuk apa lagi kamu datang ke sini lagi?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Ibu kok bicara begitu sih. Nelly itu kan anak kita, ya wajar kalau pulang ke sini," sahut pak Agus.


"Bukan begitu, dia kan hidupnya pasti sudah bahagia dapat suami kaya, kenapa malah pulang ke sini? Aku yakin mereka pasti sedang bertengkar," jawab bu Nani.


"Aku kecewa dengannya, ia selalu membela orang tuanya walaupun salah. Orang tuanya tidak pernah menyukai ku," Nelly tertunduk sedih.


"Bukannya Fery sangat mencintai mu, kenapa dia begitu? Lagi pula kenapa mertua mu tidak suka pada mu, kamu kan bukan dari keluarga miskin?"


Bu Nani heran mengapa mertua Nelly tidak menyukai putrinya itu, karena setahu dirinya Nelly bukan wanita pemalas. Ia juga berasal dari keluarga yang cukup mampu. Apalagi sebelumnya yang ia ketahui anaknya memiliki bisnis yang cukup bagus perkembangannya. Harusnya tidak ada hal yang membuat mertuanya tidak bisa menerima kehadirannya.


"Mereka ingin cucu Bu, dan sampai sekarang aku belum hamil. Awalnya mereka sangat baik, namun sudah sebulan ini mereka memperlakukan ku dengan buruk,"


Air matanya kembali luruh mengingat perlakuan mertuanya. Bahkan mereka tega mengatai dirinya wanita mandul. Dan ketika ia meminta perlindungan suaminya, ia lebih mendengarkan ucapan orang tuanya.


Setiap suaminya dinas, ia selalu di perlakukan tidak baik. Walaupun di rumah mertuanya sudah ada ART, dia masih di suruh-suruh layaknya pembantu. Bahkan perlakuan mereka lebih baik kepada ART daripada kepadanya. Berbagai ucapan hinaan dan makian telah menjadi santapannya sebulan belakangan. Itu membuatnya tidak tahan dan memilih pergi meninggalkan rumah itu.


"Kurang ajar sekali mereka, berani berkata sekasar itu! Jangan-jangan putra mereka yang mandul, Mas mu saja sudah punya tiga orang anak. Itu berarti bibit kita bagus, minta di sumpal memang mulut mereka!"


Bu Nani bangkit dari duduknya, ia berkacak pinggang meluapkan emosinya. Ia tidak terima Nelly di perlakukan dengan kasar begitu.


"Sudahlah Bu, jangan membuat suasana semakin panas," tegur pak Agus.


"Tapi mereka itu sangat keterlaluan, Pak. Mana mungkin Nelly tidak subur, besok aku akan mengantarnya cek kesuburan di rumah sakit," protes bu Nani.


"Sudahlah Nak, kamu pasti lelah. Kamu istirahat saja dulu, nanti kita akan membicarakannya kembali,"


Nelly yang memang lelah jiwa dan raga mengikuti saran ayahnya, ia segera masuk ke dalam kamarnya.


☆☆☆


Tiap hari, setiap pagi Anto selalu menyempatkan untuk mengunjungi Michelle di rumah sakit. Itu sudah menjadi rutinitasnya akhir-akhir ini. Apalagi saat tahu wanita itu mulai bersikap baik dan mulai menyukainya. Hatinya senang bukan kepalang.


Seperti pagi ini, ia membawakan sebuah kue tart dan setangkai mawar merah untuk wanita pujaannya itu. Dengan perasaan bahagia ia melangkah ke ruangannya, setelah meminta izin dokter Hendro sebelumnya.


"Selamat pagi," sapanya dengan senyum termanisnya.


Michelle hanya sedikit tersenyum, ia tetap membaca buku kegemarannya.


"Kamu bawa apa lagi kali ini?" tanya Michelle.


Anto memberikan kue dan bunga yang ia bawa.


"Enak, terima kasih ya. Kamu makanlah juga,"


Michelle menyuapi Anto, pria itu merasa senang sekali.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bosan ke sini tiap hari? Kamu kan banyak pekerjaan?" tanya Michelle.


"Tidak akan pernah bosan jika bertemu orang yang kita sukai, apalagi orangnya cantik seperti diri mu," jawab Anto.


Pipi Michelle merona mendengarnya, namun detik kemudian wajahnya berubah murung.


"Tapi aku bosan," ucap Michelle.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka aku datang ke sini?" tanya Anto.


"Bukan itu. Maksudnya aku bosan terkurung di sini, setiap hari yang di kerjakan hanya itu-itu saja. Aku rindu rumah, rindu ibu dan semuanya," jawab Michelle.


"Sabar ya, jika kamu sudah pulih benar pasti akan segera keluar dari sini," hibur Anto.


"Apa menurut mu aku masih gila?"


Anto bingung harus menjawab apa, menurutnya ia memang sudah terlihat membaik. Namun menurut dokter Hendro ia masih butuh waktu lagi.


"Aku pikir kamu sudah sehat, tapi dokter Hendro belum memperbolehkan mu keluar. Menurutnya tunggu beberapa minggu lagi," jawab Anto jujur.


Michelle terlihat kecewa mendengar jawabannya. Wanita itu hanya diam membisu.


"Apa kamu marah?"


Anto merasa bersalah. Michelle menggeleng pelan.


"Mungkin aku memang gila, hanya saja aku yang tidak sadar,"


Michelle mengalihkan pandangannya dari Anto, matanya mulai berkaca-kaca.


"Hush... Kamu bicara apa sih, kamu tidak gila. Kamu hanya sedikit depresi dan sekarang sudah membaik," ucap Anto.


"Tidak perlu menghibur ku. Jika aku tidak gila, aku pasti sudah keluar dari rumah sakit jiwa ini,"


Michelle mulai terisak, hati Anto pedih melihat wanita yang di cintainya menangis seperti itu.


"Jangan menangis seperti itu, aku tidak tega melihat mu bersedih,"


Anto menyeka air mata wanita itu dengan lembut dan menatap kedua matanya dengan lekat.


"Tolong keluarkan aku dari sini secepatnya, aku tidak tahan terkurung di sini terus-menerus,"


Pandangannya mengiba membuat hati Anto merasa kasihan.


"Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengan dokter Hendro,"

__ADS_1


Seketika senyum Michelle mengembang.


__ADS_2