
Keesokan harinya.
"Kenapa Ibu dan Bapak cepat-cepat kembali? Di sini saja dulu barang seminggu, Rania dan anak-anak pasti senang sekali," ucap Rangga.
"Bukannya tidak mau, hanya saja ada ternak di rumah tidak enak kalau minta tolong saudara merawat terlalu lama, Nak," balas Pak Sujatmiko.
"Ya sudah, semoga Bapak dan Ibu tidak kapok kemari lagi. Saya pamit dulu ya, maaf tidak bisa menunggu sampai pulang ya,"
Rangga menyalami kedua mertuanya, ia memberikan amplop kepada ibu mertuanya.
"Apa ini, Nak?"
"Untuk Ibu dan Bapak, di terima ya," ucap Rangga.
"Ambil saja Bu, Mas Rangga ikhlas kok," sahut Rania.
"Terima kasih ya Nak, semoga rejeki kalian seluas samudera,"
"Amin,"
Rania mengantar suaminya seperti biasanya. Orang tuanya senang melihat keharmonisan mereka, Rangga terlihat sangat mencintai putri mereka. Bu Arum terkejut melihat uang yang di berikan menantunya.
"Pak, uangnya 5 juta. Banyak sekali suami Rania memberi kita," ucap bu Arum.
"Mungkin salah Bu, coba nanti tanyakan Rania dulu," balas suaminya.
"Aku bantu berkemas ya Bu, barang kalian jadi banyak soalnya,"
Rania datang menghampiri mereka.
"Nia, sini dulu. Ini suami mu memberi ibu uang 5 juta, banyak sekali apa tidak salah?" tanya ibunya.
"Tidak kok Bu, itu memang untuk kalian," jawab Rania.
Ibunya pasti terkejut kalau tahu Rangga memberinya kartu unlimited untuk kebutuhannya, belum lagi uang belanja dan tabungan khusus anak-anak. Di tambah lagi hasil dari bisnisnya sendiri. Mereka benar-benar sukses dalam segi materi, semoga saja rumah tangga mereka juga demikian.
"Ini juga untuk kalian,"
Rania memberikan amplop kepada orang tuanya.
"Apalagi ini Nia? Tadi kan suami mu sudah memberikan kita uang,"
ayahnya tidak mau menerima.
"Itu kan dari Mas Rangga Pak, ini dari ku. Kalian juga berhak mendapatkan hasil jerih payah ku,"
__ADS_1
"Perasaan kamu tidak pernah bekerja, selama kita di sini kamu tidak pernah keluar rumah. Lalu hasil jerih payah apa, Nak?"
Kedua orang tuanya terlihat bingung. Ia hanya tersenyum simpul menanggapi kepolosan keduanya.
"Aku punya bisnis sendiri sejak sebelum menikah dengan Mas Rangga. Tapi semua di kelola orang, aku hanya mengawasi dari rumah karena Mas Rangga tidak memperbolehkan sering keluar rumah,"
Kedua orang tuanya terlihat menyimak.
"Insyaallah aku juga mau memberangkatkan Bapak dan Ibu ke tanah suci, nanti setelah aku lahiran," ucap Rania.
"Subhanallah, terima kasih sekali ya. Semoga harta kalian barokah, rejeki kalian mengalir deras seperti air," balas pak Sujatmiko.
"Amin,"
Setelah membantu mereka berkemas, sopir segera membawa barang-barang orang tuanya ke mobil.
"Hati-hati di jalan ya,"
Rania dan Bintang mengantar mereka sampai mobil berangkat.
☆☆☆
Dua hari kemudian.
"Anto bagaimana ini, aku tidak bisa melanjutkan ini semua. Aku harus terang terang kepada Dona," ucap Rangga.
"Tapi tidak bisa seperti ini, niat ku hanya ingin membantunya tidak lebih. Sekarang dia salah paham dengan kehadiran ku. Jika istri ku sampai tahu, dia pasti terluka,"
Rangga terlihat sedih, ia merasa bersalah terhadap Rania. Ia menyembunyikan masalah ini demi tidak menyakiti hati istrinya itu. Ia tidak menyangka niat baiknya menjadi boomerang bagi dirinya sekarang.
"Aku akan katakan yang sebenarnya kepada Rania, agar dia tidak salah paham. Aku mohon bertahanlah sebentar lagi ya,"
Rangga terpaksa menjaga rahasia ini. Ia akan bertahan untuk beberapa waktu lagi. Entah apa istrinya mau menerima penjelasannya nanti jika ia bercerita.
"Mas Rangga..."
Wanita itu bergelayut manja di lengan Rangga. Mata keduanya membulat sempurna, Anto dan Rangga tidak menyangka jika Dona bisa sampai di kantor Rangga.
"Kok kamu bisa ada di sini, Dona?" tanya Anto.
"Tadi aku ke kantor Mas Anto, kata anak buah mu Mas ada di sini. Ya sudah aku langsung kesini saja,"
Dona berkata penuh keceriaan, tidak terlihat sama sekali jika dia adalah korban pelecehan yang mengalami depresi.
Beberapa orang yang bekerja di sana tampak melihat mereka, pasti mereka akan salah paham. Mereka jelas tahu jika Rangga sudah mempunyai istri dan sekarang ada seorang wanita yang bersikap mesra padanya di depan umum.
__ADS_1
"Jangan bersikap begini ya,"
Rangga menurunkan tangan Dona perlahan, ia harus tetap bisa menjaga perasaan wanita itu.
"Kenapa Mas? Mas tidak sayang kepada ku lagi ya?"
Dona mulai merajuk, wajahnya mulai sedih dan hampir menangis. Rangga dan Anto saling pandang karena bingung.
"Kamu jangan seperti ini. Rangga adalah bos di sini, ia harus bisa menjaga wibawanya di depan semua anak buahnya. Kamu harus menghargai itu,"
Mendengar penjelasan Anto, Dona merasa lega. Wajahnya kembali ceria.
"Ayo aku antar kamu pulang, sekalian aku mau kembali ke kantor," ajak Anto.
"Tidak mau, aku maunya di antar Mas Rangga saja," tolak Dona.
Kedua pria itu menghela napas dengan kasar, Anto merasa sangat bersalah kepada Rangga. Tapi ini ia lakukan untuk kesembuhan Dona. Ia juga tidak menyangka Dona akan secepat ini membaik, namun kesembuhannya justru membuat orang lain repot.
"Dia itu sedang sibuk, banyak orang seperti diri mu yang harus dia bantu. Berhentilah bersikap kekanakan, pria tidak suka dengan wanita yang seperti anak kecil," sindir Anto.
"Iya baiklah, aku ikut Mas Anto,"
Dona menuruti ucapan Anto walaupun wajahnya terlihat cemberut. Namun ia tidak lupa melempar senyum kepada Rangga saat akan pergi, ia melambaikan tangan kepadanya saat mobil mulai melaju. Rangga hanya tersenyum menanggapinya.
"Ya Allah, bagaimana ini. Aku tidak menyangka akan terlibat sejauh ini. Padahal aku tidak pernah mengatakan apapun kepada wanita itu, kenapa jadi salah paham begini. Maafkan aku Rania Sayang, sungguh aku tidak senang wanita lain menyentuh ku selain diri mu,"
Rangga merasa sedih. Ia juga tidak akan pernah rela jika istrinya di sentuh pria lain apapun alasannya.
☆☆☆
Siang harinya.
Rangga memutuskan pulang lebih awal. Ia tidak fokus sama sekali dengan pekerjaannya sepanjang hari. Pikirannya melayang kepada istrinya di rumah.
"Tolong handle semua pekerjaan ku hati ini ya. Jadwalkan ulang semua schedule ku hari ini. Aku akan pulang ke rumah," ucap Rangga.
Ia segera melajukan mobilnya ke arah pulang. Ia mampir ke toko bunga dan toko kue, ia ingin memberi kejutan kepada istrinya. Di pegangnya keduanya di tangannya, ia tersenyum membayangkan wajah Rania yang pasti sangat senang dengan kedatangannya.
"Assalamualaikum,"
Rangga kecewa karena ART yang membukakan pintu untuknya.
"Kemana Rania ya,"
Ia naik menuju kamarnya, istrinya tidak ada di sana. Ia lanjut menuju kamar kedua anaknya.
__ADS_1
"Astaga, kalian di sini rupanya,"
Rangga mencium Bintang dan Rania yang terlelap dengan penuh kasih sayang. Ia ikut membenamkan diri dalam delapan istrinya. Merasakan kehangatan dari orang yang sangat ia cintai.