
Mereka masuk ke dalam kamar yang telah di pesan Alif. Kata-kata Wanto yang menyuruhnya untuk agresif sepertinya tidak berlaku kepada Desi, wanita ini sangat agresif tanpa harus di dahului.
Desi benar-benar mendominasi, baru saja menutup pintu kamar dia langsung memeluk Alif dari belakang. Tidak puas dengan itu ia segera mendorong Alif ke kasur. Ia membuka pakaiannya sendiri tepat di depan Alif. Alif menelan saliva di suguhkan pemandangan yang erotis seperti itu.
Selesai dengan pakaiannya, ia mulai melucuti pakaian Alif. Pria itu merasa malu sesaat, namun detik kemudian begitu menikmati setiap rangsangan dan sentuhan wanita itu di tubuhnya. Desi benar-benar b*n*l, ia sama sekali tidak boleh bergerak dan hanya bisa pasrah menikmati. Wanita itu begitu lihai dalam urusan ranjang.
"Bagaimana Mas, apa kamu puas?" tanya Desi setelah mereka selesai melakukan penyatuan.
"Iya, terima kasih ya. Kamu hebat sekali," jawab Alif masih dengan napas terengah-engah.
"Aku akan selalu membuat mu senang Mas, kapan kita akan menikah?" tanya Desi.
Alif diam dan menatap wanita itu begitu dalam. Desi memang pandai dalam urusan ranjang, namun ia belum mengetahui tentang hal lainnya secara mendalam. Tadinya ia berpikir tidak akan sampai melakukan sejauh ini, namun Desi menggodanya begitu rupa sehingga dia tak bisa menahannya.
"Des, tolong beri aku waktu 2 bulan. Kamu tahu kan aku baru saja bercerai dengan mantan istri ku, jadi ku mohon kamu bisa mengerti," jawab Alif.
"Tidak masalah Mas, aku akan sabar menunggu. Yang penting sudah ada kepastian dari mu," ucap Desi.
Alif merenung, ia tidak menyangka jika dirinya tidak bisa menjaga diri seperti ini. Bisa-bisanya ia melakukan hal yang di anggap tabu tanpa adanya pernikahan terlebih dahulu. Ia merasa begitu berdosa namun detik kemudian ia terbuai lagi dalam kenikmatan yang wanita itu rasakan.
"Akh..." hanya itu yang mampu ia lontarkan tatkala Desi kembali asyik dengan barang pusakanya.
'Wanita ini benar-benar haus belaian laki-laki, baru beberapa menit bermain sudah minta lagi,' batin Alif.
"Bagaimana Mas, kamu suka?" tanya Desi dengan gerakan menggoda.
Alif hanya mengangguk sembari matanya sesekali terpejam menikmati apa yang wanita itu lakukan. Setelah beberapa saat mereka kembali melakukan pelepasannya yang kedua.
"Des, harusnya kamu jangan menahan ku untuk mengeluarkannya di luar. Bagaimana jika kamu sampai hamil?" tanya Alif.
__ADS_1
"Tenang saja Mas, aku selalu minum pil kok. Jadi tidak akan hamil," jawab Desi.
'Hah, selalu minum pil? Bukankah dia janda, untuk apa selalu minum pil? Apa jangan-jangan dia...' batin Alif di penuhi tanda tanya.
"Maaf Des, untuk apa kamu selalu minum pil? Apa kamu sering melakukannya dengan pria lain juga?"
Alif bertanya terus terang karena tidak dapat menahan rasa penasarannya. Ia tidak ingin menduga-duga jadi sebaiknya langsung bertanya saja.
"Ya tentu tidak Mas. Sebenarnya aku sudah mencintai mu saat awal kita pergi bersama, jujur melihat Mas membuat aku ingin berhubungan. Aku tidak tahan lagi, makanya aku siap-siap jika terjadi hal seperti ini aku tidak akan kuatir hamil," jawab Desi.
"Apa benar kamu mencintai ku?"
"Tentu saja Mas, aku tidak mungkin menyerahkan diri ku jika tidak mencintai mu,"
Desi kini merajuk, ia kesal Alif mempertanyakan rasa cintanya setelah apa yang terjadi. Alif yang merasa bersalah segera memeluk Desi ke dalam dadanya. Mereka benar-benar lupa tentang dosa hanya karena kenikmatan satu malam saja.
☆☆☆
Kehidupan Rania sangat tenang setelah resmi bercerai. Alif dan keluarganya sudah tidak pernah mengusik hidupnya lagi. Hanya saja terkadang ia merasa sepi saat kedua anaknya tertidur. Ada ruang kosong cinta di hatinya yang kini belum terisi.
Ucapan Rangga waktu itu selalu terngiang di telinganya. Namun entah mengapa ia merasa tidak layak untuk pria itu. Walaupun orang tuanya juga sudah memberi lampu hijau terhadap hubungan mereka, ada ketakutan di hatinya yang sampai saat ini ia tidak mengerti itu apa.
"Bu, lusa ada acara di sekolah. Orang tua siswa harus hadir semua, karena nanti kita akan tampil. Apa ibu bisa mengajak ayah datang bersama ke sekolah?" tanya Alisa.
Rania menatap anaknya, hal seperti ini yang kadang membuatnya tidak yakin untuk berpisah kala itu. Ia tidak ingin hidup anaknya jadi berbeda setelah perceraian itu.
"Baik Nak, ibu akan coba telepon ayah. Tapi jika ayah tidak bisa, Alisa jangan kecewa ya?"
"Iya, Bu. Tidak masalah jika memang ayah tidak bisa,"
__ADS_1
Rania bisa melihat sorot mata kesedihan putrinya walaupun berusaha ia tutupi. Ia lantas mengambil ponselnya untuk menghubungi mantan suaminya.
"Halo, assalamualaikum Mas,"
"Waalaikum salam, Nia. Ada apa tumben sekali menelepon ku?" tanya Alif.
"Lusa ini di sekolah Alisa ada acara dan mengundang orang tua siswa, apa Mas bisa datang bersama ku kesana?" tanya Rania.
"Ehm... lusa ya? Sepertinya tidak bisa, karena aku masuk pagi lusa itu. Maaf ya, mau bagaimana lagi aku harus kerja," jawab Alif.
"Tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu, terima kasih Mas,"
Rania menghela napas, sepertinya dia harus pergi sendiri demi tidak mengecewakan putrinya. Sekarang ia adalah single parent, maka ia harus siap menghadapi semuanya sendiri.
"Kenapa Bu? Ayah tidak bisa datang ya?" tanya Alisa.
"Maaf ya Sayang, ayah harus bekerja jadi tidak bisa datang. Tapi kamu jangan sedih ya, ibu pasti hadir untuk menyaksikan penampilan putri ku tersayang,"
Walaupun Alisa tersenyum, ia tahu jika dirinya kecewa. Rania berusaha menghiburnya dengan membesarkan hati putrinya.
"Sayang, kita harus senantiasa bersyukur. Banyak yang hidupnya lebih susah dan lebih banyak masalah dari kita. Jangan biarkan persoalan membuat kita mengeluh dengan apa yang Tuhan takdirkan," ucap Rania.
"Aku tahu Bu, hanya saja semua teman ku datang bersama kedua orang tua mereka. Karena nanti akan ada lomba juga untuk para orang tua," balas Alisa.
Rania terhenyak, saat ini dia tidak punya solusi. Hanya saja ia berharap Alisa bisa mengerti dan memahami jika orang tuanya sudah berpisah, jadi mungkin keinginannya tidak bisa selalu terwujud. Mantan suaminya juga pasti sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri, tidak bisa selalu perduli terhadap kedua anaknya lagi seperti dulu.
"Bu, tidak bisakah kita meminta bantuan Om Rangga untuk hadir ke sekolah menemani ibu? Maaf ya Ibu jangan marah, jika memang tidak bisa ya tidak apa-apa,"
Alisa langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring menghadap tembok, Rania tahu putrinya sedang menyembunyikan kesedihannya. Walau lirih ia bisa mendengar sayup-sayup suara tangisan putrinya yang terasa menyayat hatinya.
__ADS_1
"Apakah aku memang harus minta bantuan Rangga ya?"