
Beberapa hari kemudian.
Rangga dan Rania tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Rania sedang sibuk mengembangkan bisnis skincare nya.
"Bu Rania selamat ya, omsetnya sehari bisa tembus sampai 100 juta rupiah. Mungkin kami akan lebih sering mengundang ibu untuk acara seminar seperti ini, karena ibu adalah contoh wanita yang mandiri dan sukses," ucap seorang panitia acara.
"Terima kasih, ini semua berkat doa tulus semua orang yang mencintai saya. Insyallah saya bersedia di undang kapanpun asal sedang tidak ada acara. Saya ikut senang jika wanita lain bisa sukses seperti yang saya alami sekarang," balas Rania.
Kesuksesan bisa datang kapan saja, bahkan di saat umur kita tidak lagi muda. Di usia menginjak 37 tahun Rania sukses meniti karir sebagai pengusaha. Toko sembakonya semakin maju, kini ia juga sudah membeli ruko tepat di sebelah rukonya untuk menampung barang dagangannya yang semakin banyak.
Untuk bisnis makanan telah ia percayakan kepada temannya dengan sistem bagi hasil. Sebenarnya ia ingin membeli rumah dari hasil bisnisnya itu, namun Rangga melarangnya. Karena sebentar lagi mereka berencana menikah jadi lebih baik uangnya di gunakan untuk bisnis saja, toh sebentar lagi dirinya akan tinggal bersama Rangga di rumahnya.
☆☆☆
Kehidupan Alif makin sengsara, ia telah membuang berlian untuk sebuah batu kali. Jika di ibaratkan antara Rania dan Desi begitulah menurutnya. Semakin hari semakin banyak sifat buruk Desi yang ia ketahui. Namun pria itu mencoba tetap bertahan karena pernikahan mereka belum juga seumur jagung tidak mungkin rasanya jika dirinya harus menduda untuk kedua kalinya.
"Mas, aku minta uang lagi. Uang yang kamu kasih sudah habis,"
Desi menengadahkan tangan kepada suaminya yang baru saja pulang dari bekerja.
"Kamu keterlaluan sekali sih Des, suami baru datang bukannya di suguhi minum dan di tawari makan justru kamu palak. Aku sudah memberi mu 2 juta selama sebulan ini, masa masih kurang. Aku sampai tidak memikirkan diri ku sendiri agar bisa memberi mu lebih," ucap Alif.
"Mantan suami ku biasanya memberi 3 juta rupiah setiap bulan, Mas memberi 2 juta saja sudah berkata begitu," sungut Desi.
"Kamu mau bandingkan aku dengan mantan suami mu itu? Kamu tahu tidak aku memberi Rania uang di bawah 1 juta setiap bulan, tapi dia tidak pernah mengeluh. Makanan selalu tersedia setiap hari, rumah bersih, anak terawat, tidak seperti diri mu yang selalu menuntut tapi tidak pernah mengerti. Hanya wajah saja yang selalu kamu poles tapi pekerjaan rumah dan suami terbengkalai," teriak Alif.
Kali ini kesabarannya telah habis, ia tidak terima di banding-bandingkan dengan mantan suami Desi. Walaupun sebenarnya dia mempunyai banyak keluhan terhadap istrinya itu, selama ini ia hanya membatin dalam hati. Tidak pernah membandingkannya dengan Rania yang jelas lebih segalanya dari Desi.
"Kamu mau kemana, Mas? Kenapa bawa baju segala?" tanya Desi.
"Aku akan menginap di rumah ibu, aku tidak suka dengan sikap mu itu. Aku akan kembali jika kamu sudah sadar dengan kesalahan mu," jawab Alif.
__ADS_1
"Apa kamu tega meninggalkan aku Mas? Aku minta maaf kalau aku keterlaluan, aku janji akan berubah,"
Desi memohon kepada Alif, ia memegang tangan suaminya namun di tepis oleh Alif.
"Aku ingin kamu sadar dengan tugas mu sebagai istri, aku sangat lelah menghadapi tingkah mu yang kekanakan,"
Alif melangkah keluar kamar, namun kakinya di pegang oleh istrinya. Wanita itu menangis dan berlutut di kakinya. Sebenarnya Alif tidak tega, tapi ia ingin Desi sadar dengan kesalahannya. Mungkin Rania dulu berada di posisinya sekarang, sepertinya ini karma untuknya.
"Maaf Des aku harus pergi. Aku akan kemari jika diri mu telah berubah,"
Alif melangkah dengan pasti, tidak mengacuhkan istrinya yang mengiba menangis meraung-raung memintanya tetap tinggal.
☆☆☆
Di kediaman orang tua Alif.
"Wah sering-sering ya Nelly bawa makanan enak-enak seperti ini," ucap bu Nani.
"Ya semoga saja kerjaan ku lancar Bu, jadi bisa seperti ini setiap hari," balas Nelly.
Bu Nani terus saja makan sembari menginterogasi putrinya itu.
"Aku kan SPG mobil Bu, jadi lumayan dapatnya.
"Assalamualaikum,"
Alif datang dengan wajah cemberut.
"Waalaikum salam, loh Alif kok bawa tas besar?" tanya bu Nani.
"Aku lelah dengan sifat Desi bu, aku mau tinggal di sini sementara," jawab Alif.
__ADS_1
"Jadi Mas minggat?" tanya Nelly.
"Ya begitulah," jawab Alif.
"Memang ada masalah apa kok sampai minggat? Kalian baru sebulan menikah sudah ribut begini, setahu ibu Desi itu anak yang baik,"
Ibunya masih saja membela Desi.
"Aku tidak suka dia membandingkan aku dengan mantan suaminya. Katanya biasanya dia di beri uang 3 juta, sedangkan aku cuma memberi 2 juta. Aku sudah mati-matian bekerja sampai tidak memperdulikan kepentingan ku sendiri, tapi dia tetap tidak puas dan selalu meminta lebih," jelas Alif.
Ibu dan adiknya terdiam. Selalu saja ekonomi menjadi penyebab pertengkaran untuk masyarakat menengah ke bawah.
"Aku sudah memperingatkan Mas dari sebelum menikah. Aku yakin tidak ada wanita sebaik mbak Rania untuk hidup Mas Alif. Sekarang terbukti kan, kejadiannya seperti ini," sahut Nelly.
Kini Alif benar-benar merasa menyesal telah menyia-nyiakan mantan istrinya yang begitu baik. Seandainya dulu dia bisa lebih bersikap bertanggung jawab dengan keluarganya pasti saat ini masih bersama wanita itu serta kedua anaknya.
"Nanti biar ibu nasehati Desi, dia pasti bisa berubah,"
Ibunya masih sangat membela istrinya walaupun sudah tahu cerita sebenarnya. Kadang Alif merasa bingung mengapa kepada Rania ia tidak bisa sebaik itu, padahal wanita itu tidak pernah berbuat buruk terhadapnya. Bahkan ia selalu mengalah walau selalu di rundung oleh ibunya.
"Aku lapar Bu, mau makan lalu istirahat. Suami pulang kerja bukannya di sambut baik malah di minta uang terus," ucap Alif.
"Ini Mas makan saja, tadi aku beli banyak memang,"
Nelly memberikan sebungkus nasi padang kesukaan keluarga mereka, nasi ini lebih mahal dari pada umumnya karena memang sudah ternama dan terkenal lezat.
"Wah kebetulan, terima kasih ya Nel. Kerjaan mu sepertinya enak ya,"
Alif segera menyantap nasi itu dengan lahap, ia sangat lapar sekali. Ibu dan adiknya sampai menelan saliva melihatnya makan.
"Assalamualaikum. Mana Alif itu, beraninya ia meninggalkan anak ku tanpa di beri uang,"
__ADS_1
Alif melihat ayah mertuanya sudah masuk ke dalam rumah. Sepertinya Desi telah mengadu kepada ayahnya itu.
"Tunggu dulu, jangan marah-marah. Sepertinya ini hanya salah paham," bu Nani mencoba menenangkan.