Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 79 Keadilan


__ADS_3

"Bagaimana kondisi istri saja, Dok? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?"


Rangga terlihat kuatir sekali melihat istrinya sempat pingsan.


"Mungkin karena terlalu lemas, karena makanan yang di muntahkan bu Rania sangat banyak. Tapi tidak masalah kok, obat dan vitamin dari dokter sebelumnya sudah bagus, jadi bisa di lanjutkan,"


Dokter Dilla mengajak Rangga keluar kamar.


"Pak Rangga di usia hampir 40 tahun melahirkan bayi memang cukup rawan untuk sebagian wanita. Saya harap Bapak benar-benar menjaganya ya,"


Sebelum pulang dokter Dila memberikan pesan kepada Rangga. Pria itu menjadi sedikit kuatir, ia rela tidak punya keturunan asal istrinya sehat. Namun menurut dokter kondisinya masih terbilang wajar jadi Rangga menjadi tenang.


"Mbak, tolong jaga istri ku ya. Kabari kalau ada yang mengkuatirkan,"


Rangga berpesan kepada ART di rumahnya. Hari ini dia ada sidang kasus pedofilia yang sedang ia tangani. Ia harus hadir dan tidak boleh absen. Semua berkas yang di perlukan sudah ia simpan rapi di dalam tasnya. Setelah berpamitan kepada istri dan kedua anaknya ia segera berangkat ke kantor.


☆☆☆


"Bu, aku tidak usah sekolah ya? Aku kuatir dengan keadaan ibu, aku ingin menemani ibu saja di sini,"


Alisa memeluk ibunya yang tengah berbaring.


"Ibu tidak apa-apa kok, hanya tadi memang lemas sekali. Tapi sekarang sudah baikan, jadi Alisa sekolah saja ya. Sebentar lagi semesteran jadi jangan bolos sekolah agar tidak tertinggal,"


Rania mengelus rambut putrinya dengan lembut.


"Ya sudah, tapi ibu harus istirahat ya. Aku berangkat dulu, assalamualaikum,"


Alisa segera turun dan berangkat ke sekolah.


☆☆☆


"Hai Alisa, kok ayah mu tidak mengantar mu lagi?"


Seorang temannya menyapanya saat ia baru turun dari mobil.


"Papa sedang sibuk,"


"Oh... Tidak menyangka ya ternyata kamu anak orang kaya, kamu mau kan berteman dengan ku,"


Alisa menatap temannya itu.


"Aku selalu mau berteman dengan siapa saja, justru kalian yang selama ini tidak ingin berteman dengan ku karena penampilan ku yang biasa saja,"


Alisa segera berlalu dan meninggalkan gadis itu yang kena mental oleh ucapannya. Di kelas ia sudah di sambut oleh sahabatnya Velicia.

__ADS_1


"Tahu tidak, semua teman sekelas sedang membicarakan mu. Sekarang mereka semua justru ingin berteman dengan mu," ucap Velicia.


"Biarkan saja Vel, bagi ku cuma kamu yang tulus berteman dengan aku,"


Bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk ke dalam kelas. Bu guru datang dan memulai mengabsen.


"Denise kemana? Apa ada yang tahu?" tanya bu Guru.


Semua murid saling pandang, tidak ada yang tahu kenapa hari ini dia tidak bersekolah.


"Vina, Carlota kalian adalah teman baiknya, apa kalian juga tidak tahu?"


Keduanya menggeleng, mereka memang tidak mendapat kabar apa-apa tentang Denise.


Semenjak semua orang tahu tentang orang tua Alisa, mereka berlomba-lomba mendekatinya. Bukannya senang gadis itu justru risih sekali. Ia tidak suka punya banyak teman tapi tidak tulus.


☆☆☆


Tiga bulan kemudian.


"Terima kasih sekali, Bapak sudah memberi keadilan terhadap anak kami. Semoga Tuhan selalu melindungi anda dan juga keluarga,"


Wanita tua itu memeluk Rangga, ia menangis karena terharu dan rasa lega di dalam hatinya. Putrinya Aldira Oktavia yang mengalami pelecehan seksual oleh orang tua temannya sendiri kini telah memperoleh keadilan.


Rangga berhasil membuat ayah Denise di penjara selama 13 tahun dengan denda sebesar setengah milyar. Rangga tidak mendapatkan bayaran sepeserpun dari kasus ini, ia tulus ingin membantu karena melihat psikis korban saat pertama kali bertemu. Wajah polosnya mengingatkan dirinya kepada putri tercintanya, Alisa. Ia mencurahkan semua waktunya untuk kasus ini.


Ia melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia sangat rindu kepada keluarga kecilnya. Selama beberapa bulan sering meninggalkan istrinya yang tengah hamil, membuatnya merasa sangat bersalah.


"Sayang, aku pulang..."


Rangga segera mencium bibir istrinya yang masih terkejut dengan kedatangannya.


"Mas Rangga, tumben sudah pulang?" tanya Rania.


"Semua sudah selesai, gadis itu sudah mendapat keadilan. Semoga tidak ada korban seperti dia lagi di masa mendatang," jawab Rangga.


"Amin... Alhamdulillah, Aku ikut senang Mas. Ini kasus pedofilia itu kan?"


Rangga menangguk.


"Dia itu siswi di sekolah Alisa yang masuk karena beasiswa. Orang tuanya hanya seorang kuli bangunan, tapi cita-citanya begitu tinggi hingga berhasil masuk di sana,"


Rangga menghela napas sebentar.


"Pelakunya orang yang berkuasa sehingga mereka kesulitan untuk menuntut. Ada seorang teman sejawat yang bercerita. Miris sekali keadaannya saat pertama kali melihatnya. Aku teringat akan Alisa, hati ku tergerak untuk membantunya. Aku tidak peduli mereka tidak bisa membayar, karena aku tulus ingin mencari keadilan untuk gadis itu,"

__ADS_1


Cerita Rangga membuat hati Rania trenyuh, tanpa bisa di bendung air matanya luruh seakan ikut merasakan penderitaan orang tua gadis itu. Ia sangat bangga bisa mendampingi orang sebaik suaminya itu.


"Semoga gadis itu bisa segera pulih dan melanjutkan hidupnya kembali. Aku bangga pada mu, Mas,"


Rania memeluk suaminya erat, sebuah ciuman ia layangkan di bibir suaminya itu.


"Besok aku libur, kita jalan-jalan sepulang Alisa sekolah ya. Maaf sudah sering meninggalkan diri mu selama beberapa bulan ini,"


"Tidak apa-apa Mas, aku tahu kamu sibuk. Kita mau pergi kemana?"


"Terserah kalian. Sekarang kamu kan sudah tidak muntah lagi, jadi kita bisa liburan tipis-tipis,"


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Tidak menyangka ya, Ayah Denise seorang penjahat," ucap Velicia.


"Bukannya sebelumnya kamu memang sudah bercerita begitu," balas Alisa.


"Iya, tapi aku baru tahu kalau dia sudah memperkosa Dira. Pantas saja gadis itu sudah lama tidak masuk sekolah, perasaannya pasti hancur. Aku senang ayah Denise sekarang di penjara,"


"Apa Dita itu juga siswi di sini?"


"Dulunya, tapi sebelum kamu masuk ke sini dia sudah beberapa minggu tidak sekolah. Aku yakin pasti Denise itu terlibat dengan kejahatan ayahnya, dia kan sangat jahat,"


"Veli, tidak boleh menuduh tanpa bukti nanti jatuhnya fitnah jika tidak benar. Doakan saja yang terbaik untuk semua,"


"Iya, iya, Alisa,"


Mereka kemudian melangkah menuju kelas bersama.


"Aku tidak menyangka sama sekali ayah Denise itu penjahat, beruntung bukan kita yang menjadi korban,"


"Iya benar, aku yakin Denise juga terlibat secara tidak langsung. Kita kan pernah melihat dia membawa Dira di dalam mobilnya"


"Tuh kan benar Alisa, kamu dengar kan temannya saja bicara begitu," bisik Velicia.


"Sudahlah, lebih baik kita masuk saja,"


Alisa menarik tangan temannya untuk masuk kelas. Seketika obrolan Vina dan Carlota terhenti begitu saja.


"Hei Alisa, kamu mau berteman dengan kami kan? Kamu bisa bergabung dengan kami, menggantikan posisi Denise di trio star,"


Kedua gadis tadi menghampiri Alisa. Alisa menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


"Maaf, aku berteman hanya dengan orang yang bisa mendampingi diri ku di dalam suka dan duka. Bukan orang yang hanya mau berteman di saat senang saja," ucap Alisa.


__ADS_2