Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 99 Ternyata Dia Pelakunya


__ADS_3

Malam harinya.


"Laila, kenapa kening mu itu?" tanya Alif.


"Ehm... tidak apa-apa Mas, hanya terantuk meja tadi," jawab Laila.


"Hati-hati Laila, kamu sedang mengandung kasihan anak kita," Alif mengelus perut istrinya.


"Iya Mas, maafkan aku. Oh iya Mas, tadi Akila berhasil di rebut mantan mertua ku. Tapi aku sudah berhasil mengambilnya kembali," ucap Laila.


"Memang keterlaluan mereka itu. Tapi bagaimana cara kamu membawanya kembali? Kenapa kamu tidak menghubungi ku agar aku bisa membantu," balas Alif.


"Maaf Mas, aku takut mengganggu pekerjaan mu. Tadi aku meminta bantuan mbak Rania dan suaminya. Mereka takut karena suami Mbak Rania membawa beberapa orang anak buahnya juga, bahkan sertifikat rumah juga mereka berikan," jelas Laila.


"Harusnya kamu meminta pendapat ku dulu Laila, karena sekarang aku adalah suami mu,"


Alif kecewa karena istrinya bertindak sendiri tanpa meminta pendapatnya, ia merasa tidak di hargai.


"Maafkan aku ya Mas, aku tidak bermaksud melangkahi mu. Hanya saja tadi aku panik dan tidak ingin mengganggu pekerjaan mu,"


Laila merasa bersalah, ia tidak ingin suaminya salah paham.


"Ya sudahlah, toh semua sudah terjadi. Lain kali jangan di ulangi ya," ucap Alif melunak.


"Iya Mas," Laila memeluk suaminya.


"Oh ya Mas, rumah peninggalan ayah Akila kan sudah di kembalikan. Bagaimana jika kita tinggal di sana agar bisa mengajak Akila tinggal bersama kita," imbuh Laila.


Alif tampak berpikir.


"Sementara di sini dulu ya Laila, karena kamu kan sedang hamil. Aku kuatir jika meninggalkan mu sendiri, kalau di sini kan ada orang tua ku," balas Alif.


"Tapi, Mas..."


"Laila, tolong jangan membantah. Ini hanya sementara, demi kebaikan mu dan anak kita,"


Laila terdiam, ia tidak ingin membantah namun ia juga ingin tinggal bersama Akila sesegera mungkin.


"Aku tahu kamu rindu kepada Akila, aku juga tidak akan menghalangi diri mu untuk bertemu dengan dia. Tapi aku mohon untuk sementara biarlah seperti ini dulu ya," ucap Alif lembut.


Kata-kata Alif yang lemah lembut berhasil membuat Laila tersenyum kembali.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Mas, bagaimana perkembangan penyelidikan pelaku pengiriman paket waktu itu?" tanya Rania.


"Masih dalam penyelidikan, Sayang. Memangnya kenapa?" tanya Rangga.


"Tidak apa-apa, aku hanya kuatir saja. Sebelum pelakunya tertangkap kita tidak akan tahu motifnya apa. Bisa saja orang itu menyakiti kita tanpa kita sadari," jawab Rania.


"Kamu benar, Sayang. Nanti ketika sampai di kantor akan aku telepon orang ku," ucap Rangga untuk menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah, jangan keluar dulu untuk sementara waktu," imbuh Rangga.


Rania hanya mengangguk. Terus terang hatinya masih gelisah. Ia kembali ke kamar menemani baby Naya yang sedang tidur.


☆☆☆


Sore harinya.


Karena hari ini banyak pekerjaan yang sedang di tangani, Rangga lupa menghubungi orangnya untuk menanyakan perkembangan penyelidikannya. Ia baru ingat justru ketika orang itu menghubunginya sore hari.


"Halo, Pak Rangga hasilnya sudah saya kirim ke ponsel Bapak," ucap pria suruhannya.


"Oh astaga aku lupa. Jadi kamu sudah berhasil menemukan pelakunya?" tanya Rangga.


"Benar Pak, orang tersebut yang menyerahkan paket kepada pria yang mengantar paket ke rumah pak Rangga. Sekarang terserah Bapak, mau kita cari dan eksekusi sendiri atau di serahkan kepada pihak yang berwajib," jawabnya.


"Ok, terima kasih. Aku akan melihatnya dulu, nanti aku kabari,"


Rangga mematikan panggilan dan segera melihat video yang telah pria itu kirimkan.


Rico adalah peretas profesional, ia selalu menjadi orang andalan Rangga untuk menangani setiap kasus yang masuk di firma hukumnya selama ini. Koneksi Rico sangat luas, dari rakyat biasa, pejabat hingga mafia banyak menjadi pelanggannya. Pria itu sangat sibuk, sehingga terkadang harus antri jika ingin menggunakan jasanya.


"Apa? Aku tidak salah liat bukan?"


Mata Rangga membulat sempurna tatkala tayangan video itu menampilkan seseorang yang sedang menyerahkan paket yang tempo hari mereka terima.


"Jadi semua ini ulah Michelle? Apa maksudnya melakukan semua ini?"


Rangga tidak habis pikir. Ia sama sekali tidak menyangka jika Michelle pelakunya. Rangga segera mengirim video tersebut kepada Siska dan Jeremy. Detik kemudian ia melakukan panggilan terhadap keduanya.


"Hai semua, tumben nih pakai di gabung segala panggilannya?" tanya Jeremy.


"Aku ingin bertanya serius kepada kalian tentang Michelle,"


Kedua temannya terlihat sedikit bingung menatapnya.


"Jadi gini, tempo hari ada paket di kirimkan ke rumah. Kalian tahu isinya apa?"


Kedua temannya menggeleng.


"Apa memang?" tanya Siska penasaran.


"Bangkai hewan yang di sayat-sayat, darahnya masih segar sepertinya baru saja di bunuh. Terus di atasnya ada foto pernikahan ku yang di beri tanda silang dengan darah," jawab Rangga.


"Duh kok ngeri banget sih, tapi apa hubungannya dengan Michelle?" Wajah Siska terlihat ketakutan dan bingung sekaligus.


"Apa kamu punya musuh? Itu sudah sangat keterlaluan sekali," sahut Jeremy.


"Justru itu, makanya aku menghubungi kalian. Pelakunya ternyata Michelle, video saat dia menyuruh orang mengirimkan paket itu sudah aku kirimkan kepada kalian," jelas Rangga.


"Apa?" mata siska membeliak.


"Serius kamu?" Jeremy tak kalah terkejut.

__ADS_1


"Benar! Apa kalian benar-benar tidak tahu? Kalian tidak bersekongkol mengerjai aku kan?" tanya Rangga.


"Ya tidaklah," jawab keduanya.


"Kita cuma tahunya dia masih berambisi mendapatkan mu sampai saat ini," imbuh Jeremy.


"Ya sudah, aku hanya ingin kalian tahu apa yang di lakukannya. Aku harus segera menelepon istri ku,"


"Ok, kita juga akan membantu mencari tahu tentang Michelle,"


Setelah selesai, Rangga menghubungi istrinya.


"Assalamualaikum, Sayang. Maaf ya baru sempat menghubungi," ucap Rangga.


"Waalaikum salam, tidak apa-apa Sayang. Oh iya di sini senang ada tamu loh," balas Rania.


"Nanti dulu Sayang, aku ingin bicara serius. Orang suruhan ku sudah menemukan siapa yang mengirim paket itu,"


Rania senang sekali, sebentar lagi ia akan mengetahui apa motif pelakunya.


"Alhamdulillah, apa kita kenal orangnya?" tanya Rania penasaran.


"Maaf Sayang, ternyata pelakunya adalah teman ku. Michelle yang melakukan semuanya," jawab Rangga merasa bersalah.


"Apa? Mas tidak salah bicara kan?" Rania sangat shock.


"Tidak Sayang, sebentar lagi akan ku kirim kan videonya ke ponsel mu ya,"


"Bukan begitu Mas..." Rania mulai menangis.


"Kenapa kamu justru menangis? Harusnya kamu senang kita sudah tahu pelakunya, aku akan segera melaporkannya kepada pihak yang berwajib," Rangga merasa bingung dengan sikap istrinya.


"Aku harus berbuat apa, Mas? Dia barusan meminta maaf pada ku tentang perbuatannya pada mu kemarin. Dia terlihat tulus jadi aku menerimanya. Dia ada di ruang tamu sekarang, aku sedang di dapur,"


Tubuh Rania bergetar hebat, masih terbayang di ingatannya isi paket yang mengerikan kemarin.


"Apa? Aku akan segera pulang. Kamu jangan panik, menjauhlah dari wanita itu,"


Panggilan terputus. Rania melangkah ke ruang tamu perlahan. Wanita itu menghilang.


"Kemana dia?"


Rania berlari ke lantai atas, pintu kamarnya terbuka.


"Naya, kemana dia?"


Rania panik, tangisannya semakin pecah melihat bayinya juga tidak ada.


"Mbak... Mbak..." Rania berteriak histeris.


Ia berlari ke balkon, namun tidak tampak security satupun.


"Michelle... jangan bawa putra ku," teriaknya.

__ADS_1


Rania melihat wanita itu keluar dari pintu gerbang dengan mudah. Ia berlari keluar mengejarnya tak peduli dirinya tidak memakai alas kaki.


Brukkk...


__ADS_2