
Seminggu kemudian.
Rania dan Rangga sudah mulai melakukan rutinitasnya seperti biasa. Mereka telah resmi tinggal di rumah megah Rangga. Alisa juga sudah pindah di sekolah elit di dekat rumah mereka. Namun begitu sifat Alisa yang sederhana tidak pernah berubah. Walaupun papanya telah membelikan semua perlengkapan sekolah baru, ia belum memakainya. Ia beralasan akan memakainya saat kenaikan kelas saja.
"Hei lihat, anak baru itu kampungan sekali ya. Pasti anak orang tidak mampu, bisa skolah di sini mungkin karena beasiswa saja," ledek seorang siswi.
"Ya pastilah, dia beda dengan kita-kita yang anak orang kaya," sahut siswi lainnya.
"Sudah jangan di bully lagi kasihan, nanti dia kencing di roknya," ucap yang lainnya.
"Hahaha..." semua menertawakan Alisa.
Ketiga gadis itu adalah Vina, Carlota dan Denise. Ketiganya memang siswa yang terkenal suka menghina orang lain karena orang tuanya memiliki kekuasan yang cukup besar di daerah itu. Mereka menamakan kelompoknya dengan Trio star. Vina dan Carlota orang tuanya bekerja dalam bidang politik sedangkan orang tua Denise adalah seorang pengusaha sukses.
"Sabar..." guman Alisa.
Beberapa hari ini, tepatnya sejak ia mulai sekolah di SD Taruna Negara dirinya sering di rundung oleh mereka bertiga. Namun Alisa tidak pernah menceritakan hal ini kepada kedua orang tuanya. Setiap Rangga dan Rania bertanya tentang sekolahnya, ia pasti akan menjawab jika sekolahnya menyenangkan karena tidak ingin membuat mereka kuatir.
"Sayang, hari ini papa yang antar ke sekolah ya. Sekalian papa ada urusan di dekat sana," ucap Rangga.
"Iya Pa, aku ambil tas dulu,"
Alisa segera mengambil tasnya, lalu menyusul Rangga yang telah menunggu di dalam mobil. Setelah berpamitan kepada Rania, mereka segera berangkat.
"Pa, nanti aku turunnya jangan di depan sekolah ya. Turun di toko dekat sekolah saja, ada yang mau aku beli," ucap Alisa.
"Ok Sayang, nanti papa tunggu. Papa harus memastikan kamu sampai sekolah dengan selamat,"
Alisa tidak bisa beralasan lagi sekarang, ayahnya bukan sopir yang bisa dengan gampang ia bujuk. Sebenarnya ia hanya tidak ingin di cemooh lagi oleh trio star, karena mereka pasti tidak akan percaya jika orang tuanya juga berasal dari kalangan atas. Ia malas untuk beradu argumen dan lebih memilih diam.
"Aku tidak jadi beli Pa, langsung ke sekolah saja," ucap Alisa.
"Baiklah, Sayang,"
Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai di depan sekolah. Alisa memandang sekeliling sebelum akhirnya turun.
__ADS_1
"Belajar yang rajin ya Sayang, ini untuk kamu,"
Rangga mengusap lembut pucuk kepala putrinya lalu memberikannya uang.
"Tadi sudah di beri ibu kok Pa," Alisa menolak dengan halus.
"Tidak apa-apa Sayang, ini kan dari papa. Ya sudah sana masuk,"
Rangga memasukkan uang itu ke saku putrinya, ia baru pergi setelah memastikan Alisa masuk ke dalam sekolah.
"Wah si dekil sudah datang tuh," ledek Carlota.
"Wah Denise tas kamu baru ya, inikan mahal sekali tas edisi terbaru,"
Carlota dan Vina menghampiri temannya yang datang hampir bersamaan dengan Alisa. Alisa terkejut karena ternyata tas yang dipakai Denise sama dengan tas yang di belikan ayahnya, hanya berbeda warna saja.
"Ya jelaslah ini mahal, orang tua ku tidak mungkin membelikan ku barang murah. Tidak seperti itu tuh,"
Semua menoleh ke arah Alisa dan tertawa lebar mengejeknya. Sementara Alisa hanya tersenyum penuh arti. Kelakuan Alisa yang tidak melawan namun juga tidak menangis saat mereka bully membuat mereka makin geram.
"Kok ada sih orang seperti Alisa itu ya, dia cuek sekali walaupun sudah kita hina setiap hari," ucap Vina.
☆☆☆
Di tempat lain, Alif masih hidup dengan seribu penyesalan. Kasus perceraiannya sedikit terkendala karena Desi tidak mau ia ceraikan. Namun ia sudah mantap tak ingin berurusan dengan wanita itu lagi. Wanto yang kasihan ingin mengenalkan temannya itu kepada sepupunya yang seorang janda beranak satu.
"Aku tidak memaksa mu untuk memperistri Laila, aku hanya ingin kalian berkenalan. Dia sudah menjadi seorang janda selama 2 tahun, suaminya meninggal saat tugas di luar kota. Anaknya baru satu. Dia wanita yang baik seperti Rania mantan istri mu. Tidak ada salahnya kita mencoba, siapa tahu jodoh,"
Wanto menjelaskan panjang lebar tentang sepupunya itu. Ia berharap keduanya berjodoh dan bisa hidup dengan bahagia.
"Baiklah, aku mau berkenalan dengannya. Tapi tolong jangan berharap banyak, karena hati ku masih sakit," balas Alif.
"Nah gitu dong, ya sudah ayo kita ke rumahnya. sore begini dia pasti sudah pulang bekerja,"
Alif menuruti ucapan temannya, ia melajukan motornya di belakang Wanto. Setelah di khianati Desy dan Rania menikah kembali, ia mulai kehilangan semangatnya lagi. Setiap hari yang ia lakukan hanya bekerja dan mengurung diri di dalam kamar.
__ADS_1
Sekitar 30 menit dari tempat mereka bekerja waktu yang di butuhkan untuk sampai di rumah Laila. Ternyata di rumahnya sedang ada tamu, namun sepertinya sudah akan pulang.
"Assalamualaikum,"
Wanto memberi salam.
"Waalaikum salam. Eh Mas Wanto, ayo masuk Mas,"
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Laila gadis yang manis, penampilannya sederhana di balut hijab membuat Alif mengingat Rania saat bersamanya dulu.
"Siapa tamu tadi, dik?" tanya Wanto.
Wajah Laila yang tadinya ceria berubah murung.
"Itu orang yang maksa untuk menikahi ku Mas. Aku sudah menolak berulangkali tapi dia terus saja memaksa ku untuk menerimanya," jawab Laila.
"Yang mana? Yang pakai banyak cincin di jarinya atau yang mana?" tanya Wanto penasaran.
"Iya Mas, itu Mas Jatmiko namanya. Ketiga pria yang tadi itu anak buahnya. Dia itu sudah punya dua istri, mana mau aku jadi yang ketiga. Memang jadi janda tidak mudah, tapi masih lebih baik dari pada jadi madu,"
Laila menjelaskan dengan sedih. Rasa iba mulai menyelimuti perasaan Alif.
"Wah ya jangan mau kalau seperti itu, Dik. Masih banyak yang single kok buat apa jadi istri playboy seperti itu," sahut Wanto.
"Iya makanya itu selalu aku tolak Mas, aku tidak mau di bilang pelakor nantinya,"
Laila melirik Alif yang dari tadi hanya diam menyimak. Ia baru sadar jika ada orang asing di antara mereka, ia pun jadi tertunduk malu telah menceritakan hidupnya.
"Tapi suami mu sudah lama pergi, kasihan anak mu masih butuh kasih sayang seorang ayah. Apa kamu memang tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" tanya Wanto.
Laila menghela napas dengan kasar, senyumnya berubah masam.
"Mana ada pria single yang mau dengan janda satu anak, Mas. Yang sering melamar ku hanya pria-pria iseng, aku tidak ingin hidup kami lebih sengsara jika aku salah memilih,"
Wanto dan Alif bisa memahami perasaan wanita itu.
__ADS_1
"Jangan patah semangat. Aku sudah gagal dua kali dalam pernikahan yang membuat ku juga trauma. Tapi benar kata Wanto, kita tidak boleh menyerah. Kalau kamu tidak keberatan bolehkah aku mengenal mu lebih dekat?"
Alif berkata dengan terus terang, ia menatap lekat kedua manik Laila yang indah.