
Dua hari kemudian.
Pagi ini Rania telah menyiapkan perlengkapan dirinya dan anak-anak untuk liburan. Kali ini mereka akan menuju banyak tempat wisata yang satu arah perjalanan sehingga tidak memakan banyak waktu.
"Kok tumben bawa barangnya agak banyak, Bu?" tanya Alisa.
"Iya Sayang, nanti kan ke beberapa tempat. Daripada bawa bajunya kurang lebih baik kan lebih," jawab Rania.
"Benar juga ya Bu, apa ini sudah semuanya?" tanya Alisa lagi.
"Sudah semua, tapi makanan dan minuman ada di tempat berbeda,"
"Kenapa tidak beli saja, kenapa ibu masih harus masak kan ibu punya banyak uang sekarang?"
Rania tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya. Ia mendudukkannya sembari memangku Bintang.
"Pertama, karena makanan yang di buat sendiri itu lebih sehat karena kita tahu bahan-bahannya dan cara pembuatannya. Kedua, bukan berarti punya uang lebih lalu kita menghambur-hamburkan uang untuk semua hal. Bukan berarti tidak boleh, tapi belilah sesuai kebutuhan. Makanan dari rumah akan selalu kita rindukan saat kita sudah jarang bisa memakannya nanti. Contohnya ibu yang selalu rindu masakan nenek mu, itu akan menjadi kenangan tersendiri buat kalian nanti,"
Rania menjelaskan dengan sabar, ia kembali mengingat masa kecilnya yang jauh dari cukup. Hidup keluarganya sangat sederhana, apa yang ia makan juga jauh dari kata mewah. Namun ia selalu bersyukur, ibunya mampu mengolah makanan sederhana menjadi masakan yang tiada duanya baginya.
"Ibu benar, masakan ibu memang yang terbaik dan tidak ada duanya," puji Alisa.
"Benarkah seenak itu masakan ibu mu ini?"
"Tentu saja, the best pokoknya,"
Alisa mengacungkan kedua jempol nya membuat Rania tidak berhenti tertawa.
"Oh iya Sayang, sabtu depan kita pergi ke rumah nenek ya. Ibu rindu, sudah lama tidak pulang kampung. Nenek juga jarang bisa di hubungi,"
"Wah mau sekali Bu. Aku rindu suasana di desa nenek, sudah lama sekali tidak kesana. Lebaran kemarin saja kita tidak bisa pulang kesana,"
Alisa mengingat kejadian itu, saat lebaran tahun lalu ia ingin pergi ke rumah neneknya di desa. Namun karena orang tuanya tidak punya cukup uang mereka terpaksa tidak bisa pulang.
Saat mereka terhanyut perasaan, ternyata Rangga telah tiba. Saking asyiknya mengenang masa-masa itu mereka sampai tidak sadar dengan kehadiran pria itu.
"Hayo, kalian sedang memikirkan apa sih sampai tidak tahu aku datang?"
Keduanya tersentak dan segera sadar dari lamunan mereka.
"Loh Rangga, kapan kamu datang?"
"Iya Om, tidak dengar suara mobilnya tahu-tahu sudah ada di sini?"
Keduanya menatap Rangga dengan heran, sementara pria itu hanya nyengir di tatap begitu.
"Kalian terlalu asyik sampai tidak sadar. Pasti sedang gosipin aku ya?"
__ADS_1
"Aduh Om, Om Rangga terlalu baik untuk di gosipkan. Kita itu sedang rindu kepada nenek di kampung, jadi ibu ingin mengajak aku dan Bintang kesana sabtu depan. Begitu ceritanya, Om,"
Rangga mengusap kepala Alisa dan Bintang dengan penuh kasih.
"Om ikut ya, sekalian ingin ada yang di bicarakan dengan nenek kalian," ucap Rangga.
"Mau bicara apa memangnya, Om?" tanya Alisa.
"Rahasia, nanti kalian juga tahu," jawab Rangga.
"Idih pakai rahasia segala, awas saja nanti Alisa juga begitu sama Om. Biar penasaran juga,"
Rania sudah bisa menduga apa yang ingin di bicarakan Rangga kepada orang tuanya. Namun ia tidak ingin terlalu percaya diri, karena waktu bisa mengubah segalanya.
Beberapa saat kemudian, mereka mulai memasukkan semua barang ke dalam mobil.
"Nia, banyak sekali bawaannya. Seperti mau tinggal beberapa hari saja," ucap Rangga setelah memasukkan semuanya.
"Ibu membawa masakan sendiri Om, masakan ibu paling enak dan sehat," sahut Alisa.
Rangga percaya, karena pernah merasakan masakannya.
"Iya Om tahu, masakan ibu mu memang lezatos," ucap Rangga menirukan iklan di tv.
Semua tampak gembira, sepanjang perjalanan. Kali ini mereka banyak melewati hutan karena memang letak tempat wisata itu agak masuk di pedesaan.
"Yang mana? Yang di belakang kita itu?"
"Iya, mobil putih tepat di belakang kita. Aku perhatikan saat kita keluar dari gang rumah ku mereka ke arah yang sama dengan kita terus,"
"Ah mungkin perasaan mu saja, atau memang kebetulan tujuan kita sama,"
"Mungkin juga sih,"
Namun hati Rania merasa tidak nyaman, perasaannya mengatakan jika mobil itu memang membuntuti mereka. Perasaannya sedikit tenang saat mobil itu berhenti dan tidak terlihat lagi di belakang mereka.
"Sepertinya memang hanya perasaan ku saja Rangga, sekarang mobil itu sudah menghilang," ucap Rania.
"Ya sudah, semoga kalian senang dengan liburan kali ini ya,"
Baru saja selesai berbicara, sebuah mobil memotong jalan mereka sehingga Rangga membanting mobil ke sisi jalan agar tidak menabrak mobil itu.
"Awas, pegangan," teriak Rangga.
Namun mobil mereka membentur pohon dan jatuh ke parit yang di penuhi semak belukar yang begitu rimbun.
☆☆☆
__ADS_1
"Apa mereka sudah kamu ikat semua?"
"Sudah Bos, mereka pasti tidak akan bisa lolos,"
"Apa semuanya juga belum sadar?"
"Barusan aku lihat mereka masih pingsan, Bos,"
"Ya sudah, kita tinggal ngopi dulu,"
Sayup-sayup Rania masih bisa mendengar percakapan kedua pria tadi. Saat ini suasananya kembali hening sepertinya mereka sedang pergi. Rania memandang ke sekeliling, dia tak bisa membendung tangisnya ketika melihat kedua anaknya juga di ikat seperti dirinya. Lebih mengenaskan lagi keadaan Rangga, kepala dan tangannya berdarah, ia juga terikat dengan tali.
"Rangga... bangun Rangga, aku mohon bangunlah," panggil Rania lirih.
Tidak ada pergerakan dari pria itu, sepertinya semuanya masih pingsan. Ia menatap anaknya yang berada agak jauh darinya, ia begitu merasa bersalah.
"Ya Allah siapa mereka sebenarnya? Kenapa tega berbuat seperti ini kepada kami," ratap Rania.
Uhuk... uhuk...
Tiba-tiba Rangga terbatuk, Rania senang melihat pria itu sudah sadar.
"Rangga, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Rania kuatir.
"Nia, bagaimana keadaan mu dan anak-anak?"
Rangga melihat wanita itu dan anak-anak juga terikat, dirinya merasa bersalah karena tidak bisa melindungi mereka.
"Aku baik-baik saja, sepertinya anak-anak belum sadar. Kamu mengeluarkan darah, bagaimana keadaan mu?"
"Aku kuat Nia, yang penting keadaan mu dan anak-anak,"
Rania tersentuh, ia tahu pria itu sedang kesakitan namun ia justru mengkuatirkan dirinya dan anak-anaknya.
"Siapa sebenarnya mereka ya? Mengapa tega membuat kita seperti ini?" tanya Rania.
"Aku juga belum tahu, mereka pasti akan ku hajar setelah lepas dari ikatan ini," jawab Rangga kesal.
"Jangan Rangga, sebaiknya kita menurut saja jika mereka meminta uang. Yang penting bagi ku adalah keselamatan kita,"
Krekkk...
"Wah rupanya kalian sudah sadar ya. Bos Wanto mereka sudah sadar ini,"
Seorang pria bertubuh gempal memberitahu bosnya yang bernama wanto. Kemudian masuk seorang pria bertubuh sedikit tambun, ia menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang menguning.
"Siapa kalian dan kenapa menahan kami di sini?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Ini karena kamu terlalu ikut campur urusan Bos kami," jawab pria itu.