Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 57 Di Rumah Rangga


__ADS_3

"Pa, kita antarkan mereka pulang dulu saja ya. Mereka pasti lelah," pinta Rangga saat perjalanan.


"Tidak perlu Rangga, kita bisa naik taksi saja nanti," sahut Rania.


"Tidak Nia, Peterson itu orang yang jahat dan cerdik. Dia bisa saja menyuruh orang di jalan untuk menyandera kalian lagi agar bisa menekan ku. Aku tidak mau kalian dalam bahaya lagi," ucap Rangga.


"Begini saja, karena kita juga di buru waktu. Bagaimana jika kalian istirahat saja di rumah Rangga, di sana aman dan penjagaannya ketat. Biar nanti Rangga yang akan mengantar kalian jika urusannya selesai,"


Ayah Rangga mencoba memberi pendapat. Sepertinya pendapatnya adalah solusi terbaik.


"Ya baiklah Om, sepertinya itu memang yang terbaik,"


Rania setuju, karena dia masih merasa takut akan kejadian yang menimpa mereka. Sepertinya lawan Rangga sangat kuat dan bisa berbuat apa saja untuk mencapai keinginannya.


Setelah mengantarkan Rania dan mengambil berkas untuk keperluan sidang mereka menuju ke kantor pengadilan.


"Rangga, Rania, kita nanti langsung pulang setelah mengantar Rangga ke pengadilan ya. Barusan di telepon saudara katanya nenek Rangga masuk ke UGD, penyakit jantungnya kambuh," ucap ibu Rangga.


"Kalau begitu aku naik taksi saja Ma, sepertinya lebih aman daripada bawa mobil sendiri," balas Rangga.


"Jangan, kami juga kuatir dengan mu. Setelah memastikan kamu sampai pengadilan dengan aman, kami akan segera pulang," sahut ayahnya.


Mereka pun segera berangkat menuju ke pengadilan, butuh sekitar 30 menit menuju ke tempat itu.


☆☆☆


"Bu Rania, mari saya antar ke kamar. Den Rangga menyuruh bibi mengantar ke kamarnya," ucap ART itu.


"Memangnya tidak ada kamar lain di rumah ini, Bi?" tanya Rania.


"Ada beberapa kok Bu, tapi kata Den Rangga suruh istirahat di kamarnya saja. Ini kamarnya, silahkan beristirahat. Jika butuh sesuatu tinggal panggil saya saja ya, Bu,"


Setelah mengucapkan terima kasih, mereka masuk ke dalam kamar pria itu. Kamarnya luas dan bersih serta tertata rapi, mungkin karena ada pembantu yang membantu.


"Bu, kamar Om Rangga bagus sekali ya. Bersih dan wangi, semuanya juga lengkap. Ada kamar mandi, kok ada kulkas juga ya Bu, padahal di bawah tadi juga ada,"


Alisa mengomentari apa yang tampak oleh matanya. Memang walaupun sekarang Rania memiliki banyak uang tapi dia masih belum membeli perabotan baru, menurutnya lebih baik nanti saja sekalian saat membeli rumah.


"Namanya juga orang kaya Nak, jadi di rumahnya pasti lengkap," jawab Rania.


"Bu, lihat ini ada foto," tunjuk Alisa.

__ADS_1


"Sayang walaupun kita diizinkan tinggal di kamar ini, tapi kita tidak boleh lancang menyentuh barang Om Rangga sembarangan ya," larang Rania.


"Iya Bu aku tahu, tapi foto ini kok mirip ibu ya, hanya saja wanita ini masih pakai baju sekolah dan masih muda," ucap Alisa.


Rania mendekat, ia melihat foto yang putrinya maksud karena penasaran.


'Oh astaga, ternyata Rangga masih menyimpan foto ini' batin Rania.


"Ini foto Om Rangga bersama ibu saat kelulusan sekolah. Kita dulu berteman baik,"


Ingatan Rania kembali ke masa itu, foto itu di ambil saat kelulusan sekolah mereka. Hari di mana ternyata merupakan hari terakhir mereka bertemu.


"Oh jadi Ibu dan Om Rangga sudah kenal lama ya? Lalu kenapa menikah sama ayah bukannya sama Om Rangga saja waktu itu?"


Rania tertawa mendengar pertanyaan lugu putrinya.


"Itu namanya takdir Sayang, kita tidak dapat mengubah apa yang menjadi kehendak Tuhan. Jika ibu tidak menikah dengan ayah kalian, mana mungkin kalian bisa lahir ke dunia ini," jawab Rania.


"Benar juga ya Bu. ayo kita tidur Bu, aku mengantuk sekali," ajak Alisa.


Merekapun beristirahat di kasur Rangga yang sangat nyaman.


☆☆☆


"Bi, apa Rangga jarang pulang ke rumah ya?" tanya Rania.


"Den Rangga selalu pulang kok Bu, setiap pulang kerja selalu langsung pulang. Baru-baru ini saja kadang pulang malam atau tidak pulang, katanya jalan-jalan sama ibu dan anak-anak," jawab bibi itu.


Sembari membantu bibi memasak menu untuk makan malam, banyak yang Rania tanyakan kepada pembantu Rangga itu. Ternyata bibi itu sudah bekerja di rumah ini sejak 5 tahun terakhir jadi paham betul dengan kebiasaan majikannya.


Tin... tin...


"Wah itu Den Rangga sudah pulang Bu, sepertinya pulang lebih awal karena ada ibu di sini," ucap bibi itu.


"Biar saja saja yang bukakan pintunya Bi,"


Rania melangkah ke depan untuk membukakan pintu untuk pria itu.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"

__ADS_1


Rangga tersenyum, senang rasanya saat pulang ke rumah ada wanita yang di cintainya menyambutnya seperti ini.


"Kamu pasti lelah, aku sudah menyuruh bibi membuatkan minuman saat tahu kamu datang," ucap Rania.


"Senangnya saat pulang ke rumah di sambut senyuman manis orang yang kita cintai, seandainya bisa setiap hari begini ya," goda Rangga.


Rania hanya tersenyum, mereka berjalan beriringan.


"Anak-anak kemana?" tanya Rangga.


"Mereka nonton tv di kamar mu. Apa kamu mau makan sekarang?"


"Aku mau mandi dulu sambil melihat anak-anak, nanti habis shalat magrib saja sekalian makannya,"


"Ya sudah, aku bantuin bibi lagi kalau gitu,"


Rangga bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Beberapa saat kemudian adzan magrib berkumandang, Rania shalat menggunakan mukenah bibi. Lalu mereka menyiapkan makanan yang mereka masak di meja makan. Rania tidak mau ke atas karena takut terjadi fitnah.


"Wah Alisa baunya wangi sekali ya, membuat perut lapar," ucap Rangga yang sudah berada di lantai satu bersama anak-anak.


"Iya Om, aku juga lapar," sahut Alisa.


Mereka akhirnya makan bersama dengan lahap.


"Rangga, bagaimana tadi sidangnya? Apa semuanya lancar?" tanya Rania.


"Alhamdulillah lancar, polisi menghadirkan penjahat yang menangkap kita sebagai saksi. Banding Peterson atas kasus obat-obatan terlarang di tolak. Ia juga di dakwa atas kasus kejahatan terhadap kita," jawab Rangga.


"Alhamdulillah, semoga kamu selalu di jalan yang benar ya Rangga. Aku harap juga kamu selalu di lindungi Tuhan dalam mencari keadilan,"


"Amin, terima kasih ya atas doa tulus mu. Kamu ingin pulang atau tetap di rumah ku saja?"


"Kita harus pulang Rangga, hari ini Alisa sudah bolos sekolah dan mengaji," jawab Rania.


"Setelah kita menikah, Alisa akan pindah sekolah dan mengaji di dekat sini. Kamu juga bisa menggunakan rumah sebelah sebagai tempat usaha mu nanti," ucap Rangga.


'Apa tidak salah? Sejauh itukah Rangga berpikir tentang masa depan mereka nanti' batin Rania.


"Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusan mu kelak Rangga,"

__ADS_1


"Jika kita mencari yang sempurna takkan pernah ada, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kita di ciptakan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing, hanya itu yang aku harapkan dari mu, Nia," ucap Rangga.


__ADS_2