
Keesokan harinya.
Rania mencoba bersikap biasa saja. Ia melayani anak serta suaminya di meja makan. Padahal dadanya bergemuruh, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Suaminya tampan, baik dan kaya semua wanita pasti menginginkan dirinya. Kadang dia merasa insecure, walaupun pada akhirnya Rangga bisa mematahkan itu semua.
"Sayang, belajar yang rajin ya,"
Rania mengantar Alisa hingga masuk ke dalam mobil. Setelah mobil berangkat ia kembali masuk ke dalam untuk berbicara kepada suaminya. Ia tidak ingin berprasangka, lebih baik bertanya langsung saja.
"Kamu pulang jam berapa semalam, Mas?" tanya Rania.
"Sekitar jam 1 malam, maaf ya Sayang," jawab Rangga.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu?"
Rania bertanya dengan sedikit ragu.
"Kenapa harus bertanya dulu Sayang, katakan saja jika ada yang membuat mu tidak nyaman,"
Rangga menghentikan aktivitasnya lalu beralih memandang wajah istri yang sangat di cintainya itu.
"Tapi kamu jangan marah ya, bukan aku tidak percaya dengan mu. Hanya saja aku tidak ingin rasa ini mengganggu ku,"
Rangga menggenggam tangan Rania lalu menciumnya dengan lembut.
"Aku tidak akan marah, kamu ingin bertanya apa?"
Rania memandang manik suaminya, mencari kebohongan di sana namun yang ia lihat hanya sinaran cinta untuknya.
"Semalam saat kamu menelepon, aku mendengar suara seorang wanita bersama mu. Apa memang ada wanita di tim mu?"
Hahaha...
Rangga tertawa dengan nyaring, padahal menurutnya tidak ada yang lucu dari ucapannya. Ia bangkit karena merasa suaminya mengoloknya. Dengan cepat Rangga merengkuh pinggang istrinya, memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di antara rambut dan leher istrinya yang wangi. Rania berusaha meronta namun pria itu memperlihatkan kekuatannya.
"Jadi Sayang ku ini sedang cemburu ya, hehe..." Rangga masih terus menggoda istrinya.
"Aku tidak cemburu, hanya saja..."
Rangga ******* bibir istrinya agar tidak terus berbicara. Hanya sebentar saja karena dia sadar jika berada di ruang makan saat ini.
"Aku senang kamu cemburu Sayang, itu berarti kamu sangat mencintai ku. Itu berarti kamu tidak ingin kehilangan ku," bisik Rangga di dekat telinga istrinya.
__ADS_1
"Maksud mu apa Mas? Apa kamu sengaja ingin membuat ku cemburu?" tanya Rania membulatkan matanya.
Rangga hanya terkekeh karena berhasil membuat Rania semakin kesal.
"Tentu saja tidak, dia itu staf aku namanya Anita. Sudah bekerja pada ku selama 3 tahun dan sudah menikah, hanya saja memang gaya bicaranya sedikit genit begitu, dengan semua orang," jelas Rangga.
Karena tidak melihat kebohongan dari ucapan suaminya maka Rania percaya begitu saja.
"Oh begitu, pantas saja suaranya seperti itu semalam,"
Rangga hanya tersenyum menanggapinya.
"Oh ya, saat ini aku sedang menangani kasus pedofilia yang menjerat salah satu pengusaha. Ini bukan kasus biasa karena menyangkut orang yang berkuasa, aku harap kamu bisa menjaga diri dan anak-anak saat aku tidak ada. Sungguh aku tidak ingin kejadian dulu sampai menimpa kalian lagi," ucap Rangga serius.
"Iya Mas, aku akan menjaga diri dan anak-anak. Tapi kamu juga janji harus lebih waspada, aku juga tidak ingin suaminya dalam bahaya,"
Setelah selesai bercerita dan tidak ada kesalah pahaman lagi, Rangga segera berangkat ke kantor. Sementara Rania hari ini ada jadwal mengisi seminar.
"Mbak, aku titip Bintang sebentar ya. Aku mau mengisi seminar sebentar,"
"Iya Bu, jangan kuatir. Den Bintang tidak pernah rewel kok,"
Setelah mempercayakan Bintang kepada ART, Rania segera pergi di antar sopir yang tadi juga mengantar Alisa ke sekolah. Baru beberapa ratus meter Rania merasa ada yang membuntutinya.
Rania menoleh ke belakang untuk memastikan dugaannya. Mobil itu masih terus berada di belakang mereka.
"Iya Bu, saya juga berpikir seperti itu," jawab sopirnya.
"Ya sudah Pak, kita jangan sampai lewat di tempat yang sepi. Lewat jalan yang ramai tidak apa-apa walau lebih lama,"
Sopirnya menurut, mereka memilih jalur padat kendaraan. Benar saja beberapa saat kemudian, mobil tadi tidak lagi terlihat. Rania merasa lebih tenang.
"Pak, tolong jika mengantar siapa pun pilih jalan yang ramai saja ya mulai sekarang," pinta Rania.
"Baik, Bu,"
Rania segera masuk ke ruang seminar. Sebelum mulai ia menyempatkan mengirim pesan kepada suaminya dan menceritakan kejadian yang menimpanya tadi.
☆☆☆
"Alisa, kamu tahu tidak kabar yang sedang viral sekarang? Katanya ayah Denise mau masuk penjara loh,"
__ADS_1
Velicia, teman Alisa mulai bergosip. Gadis itu adalah teman baik Alisa di sekolah, walaupun orang tuanya kaya ia tidak seperti trio star yang sombong dan suka menghina. Velicia anak yang baik dan dermawan. Ia sering berbagi makanan dan uang kepada Alisa, karena mengganggap gadis itu kurang mampu.
Alisa membiarkannya karena dia tidak ingin pamer, apalagi ibunya juga selalu mengajarkannya untuk hidup sederhana. Uang jajan dari ayah dan ibunya selalu ia tabung, ia hanya membelanjakannya sebagian kecil saja untuk jajan.
"Memangnya kenapa kok mau di penjara?" tanya Alisa.
"Tidak tahu juga sih, tapi orang yang di penjara biasanya kan orang jahat. Jadi kemungkinan ayah Denise seperti itu," jawab Velicia.
"Kasihan ya Denise kalau sampai ayahnya di penjara,"
"Apa aku tidak salah dengar? Dia itu selalu menghina mu kenapa kamu justru kasihan padanya?"
Velicia tak habis pikir dengan temannya itu.
"Selama dia tidak main fisik aku tidak masalah dia mau berkata apa juga. Kita berdoa saja semoga dia dan temannya bisa sadar,"
"Heh, apa yang kalian bicarakan? Kenapa aku tadi mendengar kamu menyebut nama ku?" tiba-tiba Denise dan gengnya datang.
"Tidak perlu sok kamu, ayah mu kan..."
"Sudah Vel, kita harus segera mengerjakan tugas,"
Sebelum selesai berbicara, Alisa segera menyela dan menarik tangan Velicia masuk ke dalam kelas.
"Kamu kenapa sih Alisa? Harusnya kamu biarkan aku membuka rahasia ayah Denise yang penjahat itu, biar dia tidak sok di sekolah ini," Velicia berkata dengan kesal.
"Kata ibu jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Apa bedanya kita dengan mereka jika kita suka mengumbar aib orang lain,"
Velicia merasa tertampar mendengar ucapan temannya itu. Orang yang selama ini selalu di rundung justru berlapang dada menyembunyikan aib perundungnya.
"Maaf ya Alisa, terima kasih sudah menyadarkan diri ku,"
Mereka saling berpelukan.
Sementara tanpa mereka sadari sepasang mata telah mengawasi mereka sejak tadi. Mata cantik nan lentik itu mulai basah oleh cairan bening yang menggenang di sudut matanya.
"Hei Denise, kamu ngapain di sini. Ayo kita masuk, sebentar lagi waktu istirahat habis,"
Carlota menepuk pundaknya membuat Denise sangat terkejut. Ia segera menyeka air matanya agar mereka tidak tahu.
"Wah itu si dekil sedang mengerjakan tugas sepertinya, ayo kita ganggu," ucap Vina.
__ADS_1
"Jangan," cegah Denise.
Kedua temannya memandangnya dengan tatapan aneh.