
Dua hari kemudian.
"Bu, ini tadi ada paket. Katanya hadiah untuk Ibu dan Bapak,"
Security membawa paket yang cukup besar.
"Dari siapa, Pak?" tanya Rania.
"Tadi katanya hanya suruhan saja, orangnya kendaraannya mogok sehingga meminta bantuan pria yang mengantar tadi,"
"Oh, ya sudah tolong taruh di dalam saja," pinta Rania.
"Baik, Bu,"
Security menaruh paket tersebut di dekat tangga ke lantai dua seperti perintah Rania.
"Dari siapa ya kok tidak ada identitas pengirimnya? Apa mungkin Mas Rangga ingin memberi kejutan?"
Rania bertanya-tanya. Ia sangat penasaran, namun takut membukanya sendirian karena menurut info security tadi itu adalah hadiah untuknya dan Rangga.
"Biarlah di sini dulu, tunggu Mas Rangga datang saja membukanya,"
Rania sibuk kembali menemani Naya.
☆☆☆
"Rangga, maafkan kejadian tempo hari ya. Aku tidak menyangka Michelle akan senekad itu," ucap Jeremy.
"Aku juga tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu, aku kira dia sudah melupakan aku dan menemukan pria lain selama ini," balas Rangga.
"Aku kira juga begitu. Kami juga tidak pernah bertemu sebelumnya, karena dia menghilang begitu saja. Baru sebulanan ini dia menghubungi ku dan menanyakan tentang diri mu. Dia mengajak kita untuk mengucapkan selamat atas pernikahan dan juga kelahiran putra mu,"
"Jadi semua ini idenya?"
"Iya, tadinya kita tidak ada yang tahu tentang kabar mu. Dia yang bercerita semua dan mengajak kami ke rumah mu,"
"Ya sudah lupakan saja. Jangan pernah ajak dia lagi jika kalian ingin main ke rumah ya,"
"Ok Rangga, baiklah,"
Panggilan selesai.
Rangga tidak menyangka bahwa semua ini adalah ide Michelle. Berarti selama ini wanita itu mencari tahu tentang kehidupannya. Lalu apa maksudnya datang ke dalam hidupnya lagi setelah sekian lama tidak ada kabar?
"Apa sih maunya? Dia tetap saja memaksakan kehendak seperti dulu,"
Rangga masih menerka-nerka apa yang sebenarnya di inginkan Michelle. Jika dia memang masih mencintainya kenapa justru hadir lagi di saat ia sudah menikah, kenapa tidak sebelumnya?
☆☆☆
Di rumah orang tua Laila kembali terjadi keributan. Setelah beberapa hari tenang, ternyata mantan mertua Laila kembali datang dengan membawa lebih banyak orang. Mereka mengintimidasi orang tua Laila. Bahkan tetangga yang membantu juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka mengancam akan melaporkan ke polisi jika ikut campur. Warga yang buta hukum menjadi takut dan tidak berdaya. Mereka hanya bisa menonton.
__ADS_1
"Jangan bawa cucu ku, aku mohon jangan bawa Akila," pinta bu Asih.
"Nenek, nenek... aku tidak mau ikut, huaaa... huaaa,"
Akila menangis namun orang tua ayahnya tetap membawanya masuk ke dalam mobil. Mereka membawa Akila pergi dari sana.
Bu Asih terus menangis tersedu-sedu. Ia membesarkan Akila sejak ayahnya meninggal dunia, ia menyayangi cucunya lebih dari menyayangi Laila. Hatinya sangat sedih kehilangan Akila. Suami serta beberapa warga berusaha menenangkannya.
"Pak, cepat telepon Laila. Aku tidak rela Akila tinggal bersama mereka," ucap bu Asih di sela tangisnya.
"Iya, Bu,"
Pak Guntur segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi Laila. Ternyata Laila dengan cepat menjawab teleponnya.
Pak Guntur lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi sembari sesekali menyeka air mata yang turun dari sudut matanya yang sudah keriput di makan usia.
"Ya Allah, kenapa mereka tega sekali begitu. Aku akan segera mencari bantuan Pak, tolong sampaikan pada ibu aku akan membawa Akila kembali,"
Laila segera mengakhiri panggilan. Ia segera pamit keluar rumah kepada mertuanya. Ia tidak peduli lagi dengan ocehan mertuanya. Ada yang lebih penting yang harus dia lakukan.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Bu, ada bu Laila di ruang tamu," ucap si mbak.
"Laila? Ya sudah Mbak, tolong jaga Naya dulu ya takutnya terbangun,"
"Hei Laila, kok tumben sendirian?"
Laila bangkit menghampirinya, lalu memeluknya. Wanita itu menangis dalam pelukan Rania. Rania bingung, namun ia mengusap punggung wanita itu agar lebih tenang.
"Tenang dulu ya Laila, ceritakan pelan-pelan. Kamu kenapa?"
Setelah merasa tenang mereka duduk di sofa. Lalu mengalirlah cerita Laila tentang Akila yang baru saja di bawa dengan paksa oleh mantan mertuanya.
"Selama ini mereka tidak pernah peduli terhadapnya, aku yang memberinya nafkah Mbak. Tapi tiba-tiba mereka mengambilnya begitu saja. Sebenarnya aku ingin membawanya tinggal bersama ku, tapi Mbak tahu kan bagaimana sikap ibunya mas Alif. Aku tidak ingin dia di hina seperti ku, makanya aku membiarkannya tinggal bersama orang tua ku sampai saat ini,"
"Jadi ibunya Mas Alif juga menghina mu?" tanya Rania.
Laila mengangguk.
"Maaf ya Mbak, aku tidak bermaksud mengadu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Akila,"
Laila kembali menangis, Rania merasa prihatin dengannya.
"Mas Rangga pasti membantu kalian, sebentar aku telepon dia dulu ya,"
"Terima kasih ya Mbak, maaf aku sudah merepotkan,"
"Tidak apa-apa Laila, kita senang jika bisa menolong orang lain,"
__ADS_1
Rania kemudian menelepon suaminya, ia menceritakan tentang permasalahan Laila. Setelah mengobrol lumayan lama Rania kembali berbicara dengan Laila.
"Mas Rangga akan datang bersama beberapa orang anak buahnya sebentar lagi. Tempat tinggal mantan mertua mu masih tetap kan? Kamu masih ingat?"
"Ingat kok Mbak. Sekali lagi terima kasih sekali ya Mbak sudah bersedia membantu ku,"
Laila memegang tangan Rania.
"Iya sama-sama. Kamu tenang saja, Mas Rangga bilang kamu pasti menang. Kamu pasti belum makan ya, ayo kita makan dulu temani aku. Aku sering lapar karena menyusui Naya,"
Rania berusaha mengalihkan perhatian Laila agar tidak lagi sedih. Mereka terlihat akrab sekali makan bersama. Ini baru pukul 09.30 tapi Rania sudah makan dua kali. Menyusui membuat dirinya sering lapar. Setelah makan mereka bermaksud menuju lantai dua, namun langkah Laila terhenti melihat paket yang tadi security bawa.
"Mbak, ini apa kok besar sekali?"
Laila menunjuk ke arah paket.
"Oh itu paket, katanya hadiah untuk aku dan Mas Rangga. Ayo bantu aku buka, penasaran juga apa isinya,"
Rania mengambil gunting di laci.
"Tapi Mbak, aku tidak enak takutnya isinya privasi. Ini kan kado untuk kalian," ucap Laila.
"Tidak apa-apa, kita kan sudah sama-sama menikah. Hal apa lagi memangnya yang kita belum tahu,"
Keduanya tertawa. Mereka mulai membuka paket itu. Ternyata isinya berlapis-lapis sehingga membuat mereka agak sulit sampai kepada isinya.
"Aduh, niat sekali yang ngirimin ini Mbak. Sampai capek yang buka, hehe.."
"Iya nih Laila, makin penasaran dengan isinya,"
Oek... oek... oek...
Terdengar suara tangisan Naya yang sangat nyaring.
"Laila kamu buka saja ya, kalau capek istirahat dulu. Aku mau melihat Baya dulu ya sebentar," ucap Rania.
"Benar tidak apa-apa aku yang buka, Mbak?" tanya Laila ragu.
"Iya, tidak apa-apa Laila. Santai saja, aku tinggal dulu,"
Rania naik ke atas. Ternyata Naya bangun karena haus.
"Den Naya sepertinya haus, Bu," ucap si mbak.
"Iya Mbak, biar aku susui dulu. Mbak tolong temani Laila di bawah ya, kasihan dia sendirian,"
"Baik, Bu,"
Rania segera menyusui putranya yang sudah tidak sabar. Di lahapnya dengan ratus saat Rania memberikan buah dadanya.
"Aaakkkhhh..."
__ADS_1
Terdengar teriakan panjang dari lantai bawah yang membuat Rania terkejut.