Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 77 Rahasia Alisa


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Laila sedikit menjauh dari Alif. Walaupun ia sebenarnya mulai menyukai pria itu, namun sindiran ibunya tempo hari telah membuat hatinya terluka. Ia takut wanita itu akan menjadi duri dalam daging jika kelak mereka menikah. Ia tidak ingin memberi kesulitan kepada Alif jika seandainya hal itu terjadi, makanya ia memilih menghindar. Ia ingin tahu sebesar apa keseriusan Alif kepadanya.


"Tumben kamu tidak keluyuran sama wanita baru mu itu," sindir bu Nani.


"Bu, dia itu punya nama. Namanya Laila. Kata-kata ibu tempo hari sudah membuatnya menjauh dari ku. Apa ibu memang suka ya jika aku menderita?" tanya Alif dengan tegas.


"Mana ada ibu yang tega membuat anaknya menderita, ada-ada saja kamu," jawab bu Nani.


"Lalu untuk apa ibu bicara seperti itu kemarin lusa jika tidak ingin merusak kebahagiaan ku? Aku baru saja merasa lebih baik, Desi sudah benar-benar membuat ku kesal. Jika memang ibu tidak ingin aku bahagia, sekalian saja ibu bunuh aku,"


Alif bangkit menantang ibunya. Ia sudah lelah dengan sikapnya. Selama ini dia selalu saja diam saat ibunya membuat keributan karena tidak ingin di anggap durhaka. Namun sepertinya ucapan Rania benar, jika bukan orang terdekatnya yang mengingatkan lalu siapa lagi?


"Ah sudahlah, terserah kamu jika begitu. Ibu tidak mau ikut campur lagi urusan mu,"


Bu Nani pergi meninggalkan putranya dengan kesal. Sekarang Alif sudah berani membantahnya, sepertinya pengaruh Laila semakin dominan terhadapnya.


"Aku harap ibu menepati kata-katanya,"


Alif lalu pergi. Ia ingin menemui Laila karena sudah 2 hari ini wanita itu mendiamkannya.


☆☆☆


Rangga begitu sibuk belakangan ini, kasus yang ia tangani sudah mulai bergulir di meja hijau. Ia baru tahu jika ternyata tersangkanya adalah salah seorang dari orang tua siswa di tempat anaknya belajar.


"Sayang, hari ini papa antar ya. Sekalian papa ingin menemui kepala sekolah mu," ucap Rangga.


"Ehm... memangnya ada apa, Pa? Aku tidak membuat keributan di sekolah kok," balas Alisa.


Rangga tersenyum dan menatap kedua mata indah putrinya.


"Papa ada urusan dengan kepala sekolah, bukan karena kamu nakal Sayang," jawab Rangga.


Alisa sedikit kuatir, ia takut ayahnya tahu jika beberapa temannya melakukan bullying terhadap dirinya. Namun ia tidak mungkin mencegah ayahnya untuk datang ke sekolahnya.


"Baiklah, Pa,"


Rangga melihat kegelisahan di wajah putrinya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggunya namun tampaknya Alisa memilih merahasiakannya.

__ADS_1


"Mas, memangnya ada masalah apa di sekolah? Apa aku perlu ikut juga?" tanya Rania saat Alisa sedang mengambil tasnya di kamarnya.


"Ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang aku tangani. Gadis yang menjadi korban pedofilia itu dulunya bersekolah di tempat yang sama dengan Alisa. Dan ternyata putri dari tersangkanya juga saat ini bersekolah di sana," jelas Rangga.


"Benarkah Mas, aku jadi kuatir dengan Alisa. Apa kita pindahkan saja sekolahnya? Bagaimana jika masih ada kaki tangannya di sekolah itu?"


Sebagai seorang ibu berita ini membuat Rania cemas. Sekolah elit seperti itu masih bisa kecolongan sampai terjadi tindak pelecehan terhadap salah satu muridnya. Sepertinya sekolah biasa akan lebih aman, karena di sekolah Alisa dulu tidak pernah ada kejadian seperti itu.


"Tenang Sayang, aku pastikan putri kita baik-baik saya. Mulai hari ini aku akan selalu memantaunya, justru karena hal ini juga aku ingin menemui kepala sekolah," jawab Rangga.


"Baiklah, aku percaya pada mu Mas,"


Alisa datang menghampiri mereka, Rania mengantar anak dan suaminya sampai mobil.


☆☆☆


Rangga memarkirkan mobilnya, Alisa turun perlahan sembari melihat sekelilingnya. Mobil yang ayahnya pakai tergolong mobil mewah, sontak saja menjadi sorotan warga sekolah yang sudah datang.


"Mau papa antar ke kelas?" tanya Rangga.


"Tidak perlu Pa, aku sendiri saja," jawab Alisa.


"Baiklah. Dari kepala sekolah papa langsung bekerja ya. Dah Sayang,"


"Alisa, kamu di antar siapa? Jangan bilang itu ayah mu?" tanya Velicia.


Sebenarnya Alisa tidak ingin semua orang tahu tentang dirinya, menurutnya lebih nyaman seperti ini. Dia jadi tahu siapa yang tulus berteman dengannya tanpa memandang statusnya.


"Iya, dia papa ku. Dia ingin bertemu kepala sekolah, makanya datang kemari," jawab Alisa jujur.


"Astaga, jadi kamu anak orang kaya ya? Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita?"


Mata Velicia membulat sempurna, ia tidak dapat menutupi keterkejutannya.


"Buat apa Vel, tidak ada gunanya juga kan,"


"Kamu salah. Jika Semua orang tahu kamu anak orang kaya, mereka tidak akan pernah menghina kamu,"


"Hah, masa sih dia anak orang kaya? Rasanya aku mau pingsan,"

__ADS_1


"Mungkin dia cuma numpang di antar ke sekolah, tidak mungkin dia orang kaya. Lihat penampilannya dekil begitu,"


Terdengar Carlota dan Vina membicarakan Alisa, namun Denise hanya diam menyimak. Gadis itu tidak pernah menghina Alisa lagi sekarang.


"Kamu dengar kan Vel, tidak semua orang akan percaya. Aku tidak pernah berkata jika aku orang miskin atau kaya, mereka sendiri yang menilai. Hanya karena penampilan ku biasa mereka jadi semena-mena. Hanya kamu yang mau tulus berteman dengan diri ku," ucap Alisa.


"Iya kamu benar. Kamu memang tidak pernah berbohong, hanya saja tidak pernah bercerita. Maaf ya, aku juga mengira kamu orang miskin karena melihat penampilan mu,"


"Sudah, jangan merasa bersalah begitu. Kamu baik dan sering berbagi untuk ku. Hari ini biar aku yang traktir ya, kamu bisa jajan apa saja di kantin saat istirahat,"


"Wah benarkah, terima kasih Alisa,"


Mereka pun saling berpelukan.


☆☆☆


Sementara Rangga tengah menunggu kepala sekolah yang belum datang. Sembari menunggu ia sibuk dengan gadgetnya.


"Selamat pagi Pak Rangga, maaf sudah membuat anda menunggu,"


Kepala sekolah baru saja tiba, ia menyalami Rangga penuh hormat. Ia tahu pria ini orang penting, apalagi kedua orang tuanya adalah salah satu konglomerat ternama. Rangga juga sudah menjadi salah satu donatur tetap di sekolah ini semenjak putrinya sekolah di sana.


Rangga segera menjelaskan maksud kedatangannya. Ternyata kepala sekolah mau bekerja sama. Ia memberikan informasi yang ia tahu seputar kasur pedofilia yang pernah menimpa salah satu mantan muridnya. Ternyata pelecehan itu terjadi di luar jam sekolah sehingga pihak keluarga tidak bisa menggugat sekolah.


"Sebenarnya saya juga prihatin dengan kasus itu, karena saya juga seorang ayah. Tapi saya juga kuatir dengan nama baik sekolah ini jika sampai kasus tersebut naik ke permukaan. Makanya kebanyakan guru tidak ada yang mau yang membicarakan masalah itu lagi. Tapi Bapak telah membuka mata saja, saya bersedia di mintai keterangan saat sidang jika memang di perlukan,"


Rangga lega bukan main, ia keluar dari ruangan dengan hati gembira.


"Aku ingin melihat Alisa sebentar,"


Rangga segera menuju ke kelas Alisa, ia berpapasan dengan guru anaknya itu.


"Bu Selly apa kabar?"


"Wah alhamdulillah baik,"


Mereka terlihat berbincang sebentar lalu masuk ke kelas Alisa bersama-sama. Alisa terkejut ayahnya datang bersama gurunya, ia dan Velicia saling pandang.


"Papa, sedang apa di sini ya?" gumam Alisa.

__ADS_1


"Anak-anak, hari ini kita kedatangan Pak Rangga. Beliau adalah pengacara besar di kota ini, beliau juga salah satu donatur tetap di sekolah ini semenjak putrinya Alisa bersekolah di sini. Dan hari ini beliau akan mentraktir seluruh murid di kelas ini saat jajan di kantin nanti,"


Teriakan kegembiraan segera memenuhi ruangan. Trio star hanya terdiam dengan mulut ternganga lebar, mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


__ADS_2