Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 88 Masuk RSJ


__ADS_3

Rangga berlari untuk menyelamatkan istri dan bayinya. Ia berhasil memegang tangan Dona yang hampir menusukkan pisau ke perut istrinya.


"Mas..."


Rania terjatuh di sofa, ia memegangi perutnya yang sedikit sakit karena terhempas agak keras. Ia begitu kuatir melihat tangan suaminya mengeluarkan darah cukup banyak karena memegang pisau yang di gunakan Dona untuk menikamnya tadi.


"Lepaskan Dona, kamu jangan nekad!"


"Tidak mau, aku harus menghabisi wanita itu dan bayinya,"


Dona berteriak dan meronta, kekuatannya tidak seperti wanita pada umumnya. Ia kuat sekali hingga membuat Rangga kesulitan melumpuhkannya. Rangga tidak peduli dengan tangannya yang berdarah ia terus berusaha menjatuhkan pisau dari tangan Dona.


Plakkk...


Rangga menamparnya setelah berhasil membuang pisau yang ia pegang.


"Kamu jangan bertindak keterlaluan seperti ini. Kamu pikir kamu itu siapa? Aku membantu mu karena saudara mu juga sering membantu ku, jika tidak aku tidak akan sudi membantu wanita yang tidak tahu berterima kasih seperti diri mu," ucap Rangga yang sudah terlanjur kesal.


Rangga menghempaskan Dona ke sofa, ia segera melihat keadaan istrinya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"


Rangga memeriksa seluruh tubuh istrinya.


"Aku tidak apa-apa, justru Mas Rangga yang terluka,"


Rania menangis melihat darah suaminya sudah mengotori baju dan celana kerjanya. Ia menyeka dengan ujung jilbabnya, luka suaminya cukup dalam makanya darah yang keluar cukup banyak.


Sementara Dona hatinya semakin pedih melihat kemesraan Rangga bersama istrinya. Rasa cinta sudah membutakan mata hatinya hingga tidak bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya. Ia bertindak lebih gila dengan memecahkan vas bunga di depannya lalu pecahan kacanya ia gunakan untuk mengancam Rangga.


"Jika aku tidak bisa bersama Mas Rangga, lebih baik aku mati saja," ancam Dona.


Ia mengarahkan pecahan vas tadi ke nadinya.


Rangga dan Rania kembali panik, mereka tidak menyangka jika Dona sudah benar-benar kehilangan akal.


"Tenang Dona, kamu jangan gegabah. Apa kamu tidak kasihan melihat ibu mu yang sangat menyayangi mu? Jangan hanya karena aku kamu jadi seperti ini,"

__ADS_1


Rangga berusaha membuat hati Dona melunak dengan mengingatkannya kepada orang tuanya. Sepertinya pengaruhnya sedikit berhasil, ia terlihat sedih.


Anto datang bersama satpam serta petugas medis. Mereka memberi kode Rangga dan Rania agar tetap tenang. Dona tidak mengetahui kedatangan mereka karena posisinya membelakangi pintu saat ini.


"Kenapa Mas Rangga tidak bisa mencintai ku? Aku rela jadi yang kedua asal bisa terus bersama mu, Mas,"


Wajah Dona tidak menakutkan seperti tadi. Sekarang sorot matanya terlihat sedih. Ia meminta belas kasihan.


"Maafkan aku Dona, aku tidak bermaksud untuk melukai perasaan mu. Tapi aku hanya mencintai istri ku yang saat ini telah mengandung buah cinta kami. Aku yakin kamu juga pasti akan bahagia walau tidak bersama diri ku, yang penting kamu sembuh dulu,"


"Aku tidak sakit, jangan terus bicara seolah aku gila. Aku baik-baik saja," bentaknya.


"Hahaha... Lebih baik aku mati di depan kalian, agar kalian menanggung rasa bersalah seumur hidup kalian. Hahaha..."


Dona kehilangan kontrol atas dirinya. Mentalnya benar-benar tidak stabil. Kadang ia tertawa, terkadang marah dan menangis.


"Akh... lepaskan aku! Siapa kalian? Aku ingin di sini dengan Mas Rangga,"


Lambat laun kesadaran Dona semakin menghilang, petugas rumah sakit sudah menyuntikkannya obat penenang. Mereka segera membawa wanita itu ke dalam ambulan.


"Rangga, Rania, aku mohon maaf atas nama Dona. Jika saja aku tidak meminta bantuan mu mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, maafkan aku ya,"


"Tidak apa-apa, ini kan juga bukan keinginan mu. Sebaiknya dia di bawa ke Rumah Sakit Jiwa, dia lebih aman di sana. Aku yakin pihak rumah sakit akan melakukan yang terbaik," ucap Rangga.


"Iya, aku juga berpikiran sama. Makanya aku tadi langsung memanggil mereka untuk ikut. Biar nanti aku yang akan menjelaskan kepada keluarganya. Oh iya, itu tangan mu terluka sebaiknya kamu bawa ke rumah sakit,"


"Tenang saja ini tidak parah kok, sebentar lagi akan aku hubungi dokter pribadi ku. Kamu temani Dona saja,"


Setelah berterima kasih, Anto segera berpamitan. Ia ikut mengantarkan Dona ke rumah sakit jiwa.


"Mas..." Rania menghambur ke dalam pelukan suaminya, air matanya luruh melihat wajah suami yang ia cintai.


"Sayang, maafkan aku yang sudah tidak jujur kepada mu ya. Aku janji tidak akan membohongi diri mu untuk hal apapun lagi. Tindakan bodoh ku hampir saja membuat diri mu dan anak kita terluka,"


Rangga mencium kening istrinya dengan penuh perasaan. Ia merasa sangat bersalah. Ia baru sadar jika dalam pernikahan saling jujur dan mengerti merupakan hal terpenting. Kita harus terbuka tentang apapun terhadap pasangan kita. Tidak ada kata berbohong demi kebaikan, kebohongan tetaplah kebohongan dan tidak dapat di benarkan.


Pasangan adalah partner kita dalam menjalani hidup. Suka duka kita lalui bersama. Sudah sepantasnya kita saling meminta pendapat jika ada suatu masalah atau apapun yang berhubungan dengan kedua belah pihak. Rangga belajar banyak hal dari peristiwa ini.

__ADS_1


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Mas, tangan mu pasti masih sakit. Sebaiknya kamu jangan ke kantor dulu," ucap Rania.


"Iya Sayang, aku libur kok. Anto meminta kita datang menemui Dona untuk terakhir kali, apakah kamu keberatan?" tanya Rangga.


"Tidak Mas. Kita ke sana kapan?"


"Sebentar lagi. Terima kasih ya, susah selalu menemani ku dan mengerti aku,"


Rangga memeluk istrinya lalu mencium perutnya dengan lembut.


"Hentikan Mas, aku akan segera bersiap-siap,"


Rania menghentikan tangan suaminya yang mulai bergerilya kemana-mana. Ternyata walau tangannya masih terasa sakit ia tidak dapat berhenti menyentuh istrinya yang sudah seperti candu untuknya.


"Iya, iya. Aku tunggu di depan ya,"


☆☆☆


"Jadi dia kembali seperti awal? Tidak bicara dan tatapannya kosong, begitu?"


Mereka melewati koridor rumah sakit, di mana tampak para pasien dengan berbagai ekspresi. Rangga memeluk istrinya dengan erat, ia takut sesuatu menimpanya mengingat ini adalah RSJ.


"Iya, jadi dokter harus mulai dari awal lagi. Ia tidak mau bicara, dia hanya diam. Aku hanya berharap dia segera sembuh, karena ia harta terakhir ibunya,"


Rangga dan Rania merasa prihatin, namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan Dona.


"Itu dia..."


Mereka memandangi Dona dari balik jendela. Ia di kurung di dalam ruangan karena kejiwaannya tidak stabil. Pertama datang ia sempat melukai beberapa petugas, namun setelah di beri obat wanita itu lebih bisa bekerja sama.


"Kasihan ya Mas, jadi seperti ini dia saat pertama kamu ingin membantunya?" tanya Rania.


"Iya Sayang, makanya waktu itu aku tidak tega,"

__ADS_1


Keduanya menatap Dona dengan rasa iba. Seandainya tidak ada peristiwa pelecehan itu, mungkin wanita itu akan menjadi wanita yang periang. Tidak berwajah murung seperti saat ini.


__ADS_2