
Malam harinya.
Rania baru saja selesai menjalankan shalat isyak saat ponselnya berdering. Ia teruskan melipat sajadah dan mukenanya sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. Ternyata Rangga yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, Rangga,"
"Waalaikum salam, apa aku mengganggu mu?"
"Tidak, aku baru saja selesai shalat. Memangnya kenapa?"
"Sebentar lagi aku akan ke tempat mu, polisi sudah berhasil menanggkap pembobol toko kamu. Mereka sekarang sudah ada di kantor polisi,"
Rania begitu senang mendengarnya, ternyata pihak kepolisian memang bergerak cepat. Belum 24 jam dari saat dirinya melapor namun kawanan itu sudah berhasil di bekuk. Salut terhadap kerja sama mereka.
"Alhamdulillah, padahal baru saja aku berdoa untuk meminta keikhlasan jika memang masih belum rejeki ku. Ternyata Tuhan masih percaya pada ku untuk menjaganya. Tapi Rangga, kamu pasti capek jadi biarlah aku kesana sendiri," balas Rania.
"Tidak boleh begitu, aku akan menemani mu jadi tunggu aku. Setengah jam lagi aku sampai," ucap Rangga.
"Tapi aku kasihan dengan mu, aku takut kamu..."
"Rania, terima kasih sudah mengkuatirkan diri ku. Tapi aku baik-baik saja. Ya sudah aku berangkat, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan Rangga. Padahal ia tahu pekerjaannya sangat banyak, pria itu sedang menangani sebuah kasus besar. Tadi pagi ia sudah membantunya dan malam ini ia akan merepotkan pria itu lagi.
"Sayang, ibu mau ke kantor polisi sebentar lagi. Ibu tidak tahu akan memakan waktu berapa lama di sana, kalian ikut ya," pinta Rania.
"Baik Bu, aku ganti baju dulu ya,"
Entah sejak kapan Rania lupa, yang jelas setiap pergi keluar sekarang Alisa selalu memakai baju panjang dan berhijab. Rania tidak pernah memaksanya, namun memang keinginan Alisa sendiri untuk mulai menutup auratnya.
Setengah jam berlalu, deru mesin mobil Rangga sudah terdengar. Mereka semua sudah siap di depan pintu.
"Astaga, jadi aku tidak boleh masuk dulu ya?" sindir Rangga saat melihat mereka sudah memblokade pintu masuk.
"Hahaha... Bukan begitu Rangga. Aku takut terlalu menyita banyak waktu mu yang sangat berharga itu, jadi makanya kita menunggu di sini,"
Mendengar tawa renyah wanita pujaan hatinya membuat rasa lelah di tubuh pria itu seketika menghilang.
__ADS_1
"Aku akan tahan semua rasa lelah untuk kalian, asalkan kalian bahagia,"
Walaupun terkesan gombal, namun Rania senang mendengarnya. Pria seperti Rangga kemungkinan besar akan selalu membuat orang yang ia sayangi selalu bahagia.
"Meleleh aku mendengarnya," seloroh Rania.
Mereka pun segera menuju kantor polisi. Ternyata benar dugaan Rania, dua orang karyawannya yang telah melakukan pencurian di tokonya. Mereka bekerja sama dengan 5 orang lainnya untuk membawa semua barang di toko saat tengah malam. Niat mereka tidak di curigai karena karyawannya berdalih bahwa ruko akan di kontrakan sehingga semua barang harus segera di pindahkan.
"Kenapa kalian tega mencuri, padahal aku selalu memberi kalian bonus setiap hari dari hasil penjualan walaupun kalian hanya karyawan baru?" tanya Rania.
"Maafkan kami Bu, kami khilaf. Kami terlilit hutang rentenir sehingga nekad mencuri. Sumpah kami tidak ada niat sebelumnya, tapi karena sudah tidak ada jalan lain kami memilih mencuri. Maaf ya Bu..."
Bu Yani menangis tersedu-sedu memohon maaf kepada Rania. Rania yang bisa memaklumi sikap mereka pun memaafkannya, namun untuk urusan hukum akan tetap berjalan agar ada efek jera dari para kriminal itu. Ia memang memaafkannya Namun bukan berarti ia setuju dengan jalan yang mereka pilih.
"Saya maafkan Bu, saya juga tidak menaruh dendam. Tapi maaf, saya tidak bisa menarik laporan yang sudah berjalan sesuai ketentuan hukum," ucap Rania.
Barang bukti yang masih ada telah di sita polisi. Dari jumlah yang di laporkan Rania, telah ada 10 juta rupiah barang yang berhasil kawanan pencuri itu jual. Rania tidak masalah, anggap saja itu adalah sedekahnya. Walaupun selama ini dia tidak pernah melupakan hak orang lain di dalam hartanya, namun tidak masalah bersedekah lebih banyak lagi.
"Rangga, aku harus memberi berapa kepada polisi yang sudah membantu ini?" tanya Rania lirih.
"Sudah, itu biar jadi urusan ku," jawab Rania.
"Rangga... Kamu sudah terlalu banyak membantu, biarkan aku menanggungnya sendiri kali ini. Atau aku tidak akan pernah meminta bantuan mu lagi untuk hal apa pun,"
"Syukurlah, aku sudah bawa," ucap Rania.
Mereka mengucapkan terima kasih dan memberikan amplop yang telah Rania siapkan. Setelah urusan mereka selesai, mereka segera berpamitan.
"Lalu rencana mu bagaimana kedepannya?" tanya Rangga saat perjalanan pulang.
"Sepertinya akan aku tutup dulu toko itu, sampai mendapat karyawan baru yang bisa aku percaya," jawab Rania.
"Sebaiknya memang begitu, tapi kalau bisa jangan terlalu lama. Karena ada beberapa dari barang dagangan mu yang tidak bisa bertahan terlalu lama," ucap Rangga.
"Kamu benar, aku harus segera mencari pengganti mereka," balas Rania.
☆☆☆
Keesokan harinya.
__ADS_1
Rania tengah sibuk mencari karyawan baru untuk menjaga dan mengelola tokonya. Ia meminta bantuan saudara serta teman-temannya melalui ponsel. Semua pekerjaan rumah sudah beres ia kerjakan, jadi dia menemani Bintang bermain sembari membalas order yang masuk.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Rania bergegas membukakan pintu untuk tamunya.
"Eh Mas Alif, ayo masuk,"
Rania mempersilahkan mantan suaminya masuk dan duduk di ruang tamunya. Tidak ada dendam di hatinya, ia sudah bisa melupakan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Alif.
"Ayah..."
Bintang memanggil ayahnya, namun justru duduk di samping ibunya.
"Halo Sayang, apa kabar?" tanya Alif.
"Baik. Aku kira ayah tidak mau kesini lagi," jawab Bintang.
Alif merasa malu mendapat sindiran dari putranya.
"Maaf ya Sayang, ayah sedang sibuk jadi belum sempat main kesini," ucap Alif.
"Tapi ayah bisa jalan sama orang lain di mall,"
Alif kaget darimana anaknya tahu, kebohongannya membuat dirinya semakin malu.
"Maafkan ucapan Bintang ya Mas. Waktu itu kita sempat melihat Mas jalan di mall, ya Mas tahulah anak-anak pasti sedikit kecewa. Tapi tenang saja, nanti mereka juga akan terbiasa," ucap Rania.
"Maafkan aku ya Nia. Bukan maksud ku untuk melupakan kalian, hanya saja..."
"Tidak masalah Mas, aku mengerti kok. Aku ikut senang jika kamu bisa memulai hidup baru. Aku harap kamu bisa bahagia, walau tak bersama kami," ujar Rania, tulus.
"Terima kasih sekali atas pengertian mu, Nia. Aku janji akan lebih sering mengunjungi mereka,"
"Tidak perlu berjanji Mas, takutnya tidak bisa menepati. Kalau ada waktu langsung main saja kesini, tapi hubungi dulu ya takutnya kita juga sedang di luar,"
__ADS_1
Alif tampak mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya. Sepertinya sebuah undangan.
"Sebenarnya aku kesini ingin memberikan ini untuk mu. Aku akan menikah seminggu lagi, datanglah jika sempat ya,"