Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 109 Michelle Menyukai Anto?


__ADS_3

Michelle terpaku mendengar pernyataan Anto. Rasanya tidak mungkin seorang komisaris polisi mempunyai perasaan terhadap dirinya yang notabene hanya seorang wanita berpenyakit mental.


"Jangan bercanda, mana mungkin anda menyukai wanita seperti ku," Ucap Michelle dengan senyuman meledek.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Anto.


"Aku hanya wanita dengan penyakit mental, tidak akan ada pria yang menyukai ku. Bahkan di saat aku sehat saja, Rangga menolak ku,"


Michelle melangkah duduk kembali, ia membuang muka dari pria itu.


"Cinta itu memang misteri, kita tidak tahu kapan ia akan datang. Rangga menolak mu karena dia memang tidak punya perasaan dengan mu, sedangkan aku berbeda,"


Anto kembali mendekati Michelle, ia berdiri tepat di depan wanita itu.


"Anda hanya kasihan dengan kondisi ku, tidak mungkin ada perasaan lain. Jangan memberi harapan palsu,"


Tatapan wanita itu masih mencemooh, masih menganggap pria di depannya sedang mempermainkan perasaannya.


"Michelle, aku serius!" ucap Anto tegas.


"Sudahlah pak komisaris, sebaiknya anda segera pergi dari sini," usir Michelle.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu tentang perasaan mu terhadap ku,"


Anto menatap kedua manik wanita itu, namun Michelle justru memandang ke arah lain.


"Michelle..."


Kini Anto duduk di depannya, dengan lembut menatap wanita yang mulai di cintainya itu.


"Apa buktinya jika anda tidak sedang mempermainkan ku?" tanya Michelle, menatap Anto begitu dalam.


"Aku pasti akan membuktikan keseriusan ku. Aku harap kita mempunyai rasa yang sama,"


Michelle menepis tangan Anto saat menggenggam tangannya.


"Buktikan dulu, baru aku bisa mengatakannya," tantang Michelle.


"Pak Anto, kita harus pergi sekarang,"


Dokter Hendro tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Oh baik, Dok," Anto menoleh ke arahnya.


"Aku pergi dulu, aku pasti akan membuktikannya," Anto mencoba meyakinkannya.


"Anda bisa secepatnya mengeluarkan aku dari tempat ini, jika memang serius," bisik Michelle di telinga Anto.


Anto segera pergi karena dokter Hendro kembali memanggilnya.


☆☆☆


"Bu, kenapa ayah masuk pagi? Siapa yang akan mengantar ku?" tanya Akila.


"Astaga Sayang, kan ada ibu di sini. Ibu yang akan mengantarkan mu ke sekolah hari ini,"


Laila menghentikan aktivitasnya dan fokus menatap putrinya. Keberadaan Alif sekarang sangat berarti bagi gadis kecilnya itu. Kesibukannya di dapur karena harus menyiapkan makanan untuk di jual telah mengurangi intensitasnya untuk menemani Akila. Kini gadis itu justru lebih dekat dengan ayah sambungnya.


"Sebenarnya aku lebih suka jika ayah yang mengantar, kita akan bernyanyi sepanjang perjalanan,"


Akila terlihat kecewa, itu tergambar jelas dalam sorot matanya.


"Bernyanyi apa? Ibu juga bisa menyanyikannya untuk mu, Sayang,"

__ADS_1


Laila berusaha menghibur putrinya itu.


"Ibu tidak akan bisa. Aku akan bersiap-siap,"


Akila masuk ke dalam kamarnya. Detik kemudian ia telah siap dengan tas di punggungnya.


"Ayo Bu, nanti aku telat," ajak Akila.


"Iya Sayang, tunggu di depan saja,"


Laila segera membereskan masakan yang sudah matang lalu bergegas keluar dan mengunci pintu.


"Ayah..."


Akila melonjak kegirangan tatkala melihat Alif datang.


"Loh Mas, kenapa kembali lagi?" tanya Laila.


"Hei Sayang," Alif memeluk Akila yang begitu senang melihatnya datang.


"Wanto yang menggantikan aku, hari ini aku ingin libur. Badan ku rasanya capek sekali. Dari pada nanti sakit, lebih baik aku tukar libur dengan Wanto," jawab Alif.


"Oh, ya sudah Mas istirahat saja di dalam,"


Laila kembali membuka pintu rumahnya.


"Ayah kan tidak kerja, berarti ayah yang akan mengantar ku ke sekolah kan?"


Gadis itu menatap ayahnya dengan penuh harap.


"Ayah capek Sayang, di antar ibu kan sama saja," sahut Laila.


Wajah Akila berubah cemberut, terlihat sekali jika ia sedang merajuk.


"Hore..." sorak Akila, sangat senang.


"Tapi, Mas..."


"Sudah tidak masalah, toh di dekat sini saja. Aku masih kuat kok,"


Akila menggandeng ayahnya sampai di dekat motor. Ia sampai lupa menyalami ibunya karena terlalu gembira.


"Sayang, cium tangan ibu dulu," titah Alif.


"Oh iya, lupa Yah,"


Mereka kemudian berangkat. Sementara Laila segera melanjutkan pekerjaannya mengemas masakan yang telah matang.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Anto berhenti di sebuah toko bunga. Hari ini dia ingin mengunjungi wanita pujaannya lagi. Sepertinya dia benar-benar sedang jatuh cinta. Bayang-bayang wajah Michelle selalu menghantui dirinya.


"Mau yang mana, Pak?" tanya karyawan toko bunga itu.


"Sepertinya yang mawar putih itu saja, Mbak,"


Anto memilih bunga mawar putih yang cantik dan wangi.


"Michelle pasti menyukainya," gumam Anto menatap bunga itu dengan puas.


Ia segera melajukan mobilnya ke rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Wah Pak Anto, rajin sekali datang kemari," sapa dokter Hendro.


Anto salah tingkah, ia malu sekali. Sepertinya dokter Hendro tahu jika dirinya menyukai Michelle.


"Apa tidak boleh ya, Dok?" tanya Anto.


"Boleh, justru dengan intens berkomunikasi dengan pria lain kemungkinan besar bisa mempercepat kesembuhannya,"


"Benar begitu, Dok?"


Pria itu mengangguk sembari tersenyum dengan ramah.


"Dia sedang duduk di taman, Anda bisa menemuinya di sana,"


"Terima kasih, Dok,"


Anto melangkah dengan senang. Hatinya mulai berdegup kencang kala melihat wanita yang ia sukai dari kejauhan. Senyumnya mengembang dengan sendirinya.


"Astaga, kenapa jantung ku seperti mau lompat," ucap Anto sembari memegangi dadanya.


Langkah demi langkah terasa sangat lama untuknya. Ingin rasanya ia terbang dan langsung duduk di dekat wanita itu.


"Hai..." Sapanya saat tepat berada di depan Michelle.


Wanita yang sedang membaca buku itu beralih memandangnya.


"Ini untuk mu,"


Anto menyerahkan bunga dan coklat yang telah ia siapkan.


"Terima kasih. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot,"


Michelle menerima pemberiannya. Ia mencium bunga itu sembari memejamkan matanya. Sepertinya ia menyukai pemberiannya.


"Tidak repot kok, tadi kebetulan lewat toko bunga saat akan kemari," ucap Anto.


"Oh, jadi hanya kebetulan,"


Anto jadi serba salah, ia kena mental ucapannya sendiri.


"Sebenarnya memang sengaja sih ingin membawa bunga saat kemari," ucap Anto malu-malu.


Michelle menatap pria di sampingnya dengan lekat, membuat Anto salah tingkah.


"Kenapa kamu menatap ku begitu?" tanya Anto.


"Aku baru sadar, ternyata anda sangat tampan," puji Michelle dengan senyum penuh arti.


Pujiannya telah melambungkan perasaan Anto. Pria itu sangat senang sekali, karena ucapan itu berasal dari wanita yang di sukainya.


"Panggil aku Anto saja biar lebih akrab," ucapnya.


"Apa tidak menginginkan lebih dari itu?" tanya Michelle.


"Maksudnya bagaimana?"


Entah karena terlalu polos atau kata-kata Michelle yang ambigu sehingga membuatnya bingung.


Michelle tersenyum, ia mengalihkan pandangannya nun jauh di sana.


"Sepertinya aku mulai menyukai Anda," ucap Michelle lirih.


"Apa?" Anto merasa tidak percaya dengan pendengarannya.

__ADS_1


__ADS_2