Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas

Aku Bisa Bahagia Tanpa Kamu, Mas
Bab 72 Bulan Madu


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Siapa yang mau ikut ibu jalan-jalan?"


Rania menggoda kedua anaknya.


"Jalan-jalan kemana, Bu? Kita mau ikut,"


Rangga ikut duduk bergabung bersama mereka.


"Ibu dan papa mau bulan madu, kalian bisa ikut kami. Nanti kita akan jalan-jalan di sana," jelas Rania.


"Tapi kalau kita ikut nanti mengganggu acara ibu dan papa," balas Alisa.


"Biar mereka ikut kami saja Nia, kalian berangkat saja berdua," sahut bu Rahmi.


"Memang Oma mau kemana?"


Alisa menatap kedatangan Omanya.


"Oma dan Opa harus segera pulang Sayang, kalian ikut kami pulang ya biar kedua orang tua kalian berlibur berdua. Oma akan mengajak kalian jalan-jalan juga nanti,"


Bu Rahmi membujuk kedua cucunya agar mau ikut mereka. Ia tahu jika Rangga dan Rania akan lebih menikmati waktu jika berdua saja. Bukan berarti kedua cucunya akan mengganggu, namun ia sangat ingin bulan madu mereka bisa menghasilkan seorang keturunan bagi mereka.


"Bu, bolehkah kita ikut Oma dan Opa? Kita ingin berkunjung ke rumah mereka,"


"Kamu serius Nak? Kamu tidak ingin ikut ibu?"


Rania sedikit ragu, ia tidak ingin kedua anaknya merasa tersisih karena dirinya lebih memilih bersama suaminya. Namun Alisa mengangguk dengan mantap.


"Kalau aku terserah anak-anak saja, mau ikut siapa juga boleh," sahut Rangga.


"Izinkan saja Rania, kita pasti akan menjaga mereka dengan baik," ucap ayah mertuanya.


Rania tentu saja percaya karena kedua orang tua suaminya memang sangat baik. Hanya saja tidak biasa berpisah lama dengan mereka membuat dirinya sedikit kuatir.


"Tapi janji tidak boleh nakal ya. Jangan merepotkan Oma dan Opa," ucap Rania pada akhirnya.

__ADS_1


Tidak ada kesedihan di mata kedua anaknya, justru mereka melonjak kegirangan setelah dirinya mengizinkan mereka ikut mertuanya.


"Ya sudah, kita siap-siap dulu ya. Tolong siapkan barang anak-anak ya Sayang,"


Mertuanya segera kembali ke kamar mereka, Rania juga segera membantu anak-anak untuk berkemas.


☆☆☆


"Sayang, apa kamu ingin ke capadokia yang sedang viral itu?" tanya Rangga.


"Kemanapun jika bersama dengan mu pasti akan luar biasa, Mas,"


Rania jadi lebih sering berkata manis cenderung gombal sekarang. Tapi sebenarnya itu adalah isi hatinya yang sesungguhnya. Selain kedua anaknya, pria itu adalah hidupnya sekarang.


"Manis sekali sih kata-kata istri ku sekarang,"


Rangga mendekati istrinya dan menggelitikinya karena gemas. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Rangga menatap kedua manik istrinya, ia mulai mencium bibir wanita itu dengan lembut, kemudian menjadi *******-******* kecil yang menggairahkan. Namun tiba-tiba Rangga menghentikan aktivitasnya membuat Rania malu karena telah menginginkan lebih dari pada itu.


"Kita lanjutkan nanti Sayang, kita harus segera berangkat,"


Rania memang bukan tipe wanita yang suka menghabiskan uang untuk hal tidak penting. Baginya kebersamaan bersama suaminya di momen ini jauh lebih berharga dari apapun.


☆☆☆


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan pesawat dan mobil, sampailah mereka ke Bali. Tempat yang tidak begitu jauh namun menjadi daya tarik sendiri bagi turis domestik dan mancanegara. Panorama yang unik dan begitu indah sangat memanjakan mata mereka.


"Sayang terima kasih ya, pemandangannya indah sekali,"


Rania bergelayut manja di lengan suaminya, lalu memeluk tubuh atletis itu untuk menyatakan kepemilikannya atas tatapan orang di sekeliling mereka. Rania saat sebelum dan setelah menikah memang memiliki sikap yang berbeda. Sekarang ia cenderung lebih suka bermanja dengan suaminya walaupun usianya sudah tak lagi muda.


"Sama-sama, kamu harus memberikan hadiah istimewa kepada ku nanti malam," goda Rangga dengan tatapan nakalnya.


Rania tersipu malu. Ia sudah menyiapkan jiwa dan rasanya untuk bulan madu ini. Ia akan membuat suaminya merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


"Apa saja yang kamu mau Mas, pasti akan ku berikan," balas Rania.


Mereka mengunjungi tempat-tempat indah sepanjang hari. Sehingga baru kembali ke hotel saat menjelang malam. Mereka memutuskan untuk mandi bersama di dalam bathutb dengan air hangat yang merilekskan tubuh.

__ADS_1


"Sayang, maukah kamu bercinta di sini?" tanya Rangga yang birahinya sudah menggelora menatap tubuh polos istrinya yang tersamarkan oleh air.


Dengan tersipu malu ia menganggukkan kepalanya.


Rangga mulai mendekati istrinya, di ciumnya bibir ranum istrinya. Ia jelajahi setiap rongga dalam mulutnya dengan lidahnya yang hangat. Lidah mereka saling melilit bagai magnet kutub utara dan selatan. Mereka baru berhenti ketika napas mereka mulai tersengal. Rangga mulai menyusuri leher jenjang istrinya yang mulus. Tubuh Rania bergetar merasakan kenikmatan yang tiada tara.


Rangga mendudukkan Rania di pangkuannya, dengan leluasa ia menikmati gunung kembar istrinya. Menyesap puncaknya bergantian membuat wanita itu mendesah tak karuan, Rania menjambak rambut suaminya dan menekannya lebih dalam di dadanya. Ia yang sudah berpengalaman segera menduduki milik suaminya dan bergoyang ngebor membuat keduanya merasakan terbang ke awan.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Pagi ini Rania dan Rangga sehabis shalat subuh melanjutkan kegiatan ranjang mereka. Rania sengaja mengenakan lingerie seksi yang beberapa waktu lalu ia beli. Walaupun suasana sangat dingin hingga membuat bulu kuduk merinding tak menyurutkan niatnya untuk membahagiakan suaminya. Kali ini dia yang menggoda lebih dulu. Melihat istrinya seperti itu Rangga segera menerkamnya dan tidak memberinya ampun. Mereka bergulat sampai pagi hingga tertidur karena kelelahan.


Tring... tring... tring...


Rangga membuka mata dan berusaha menggapai gawainya. Dengan setengah mengantuk ia menjawabnya tanpa sadar jika itu adalah video call.


"Papa... Papa..."


Ia baru tersadar ketika melihat senyum manis kedua malaikatnya yang memanggilnya. Rania akhirnya terbangun mendengar suara buah hatinya itu. Dengan masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, mereka saling bercerita. Rania senang ternyata anaknya begitu bahagia di sana. Sepertinya kekhawatirannya terlalu berlebihan.


"Pa, aku ingin adik perempuan biar bisa aku dandani ya," pinta Alisa.


"Jangan, aku mau adik laki-laki yang tampan biar bisa aku ajak main mobil-mobilan," sahut Bintang dengan suara khas anak kecilnya.


Keduanya tampak tidak mau kalah dan kukuh dengan keinginan masing-masing. Rania dan Rangga terhibur, detik kemudian keduanya saling beradu pandang.


"Sudah Sayang, jangan bertengkar lagi ya. Biar adil nanti papa akan beri kalian satu adik perempuan dan satu adik laki-laki," ucap Rangga.


"Hore..."


Keduanya sontak berteriak senang. Namun kini Rania memandang suaminya dengan tatapan tajam.


"Mas, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Jangan berjanji kepada mereka, karena anak-anak pasti akan menagihnya," ucap Rania setelah panggilan tadi selesai.


"Kita akan berusaha mewujudkannya, Sayang," balas Rangga dengan senyuman nakalnya.

__ADS_1


__ADS_2